HIJAB WANITA MUSLIMAH

HIJAB WANITA MUSLIMAH

 

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Pada Mata Kuliah:

TAFSIR AHKAM

Dosen:

Ust. Luthfi Khaerullah. M.A

  

Di susun oleh

SITI MARYAM

(NIM S2-TH-01-02)

 MA’HAD ‘ALY - ZAWIYAH JAKARTA

JAKARTA

2011

 

A.    PENDAHULUAN.

Rasulullah SAW. telah bersabda bahwa  nanti di akhir zaman, perasaan malu pada diri wanita akan dihilangkan. Sejak abad 15 yang lalu, Rasulullah SAW. Juga bersabda bahwa ada dua golongan api neraka, salah satunya adalah perempuan yang berpakaian tapi telanjang dan kepalanya bagaikan punuk onta. Dalam hadis lain dijelaskan bahwa Rasulullah SAW. melaknat kepada orang-orang perempuan yang berpakaian seperti laki-laki.

Di era globalisasi ini, apa yang disabdakan Rasulullah sudah sangat banyak kita saksikan di hadapan kita, layaknya zaman jahiliah. Mereka mencontoh berbagai mode yang datang dari barat, dari orang fasik dan orang non muslim. Sebagian wanita muslimah memakai pakaian hanya menutupi kulit, sangat ketat sehingga seluruh liku-liku tubuhnya tampak sangat jelas. Ada juga yang berpakaian agak longgar namun terbuat dari bahan yang tembus pandang, lalu mereka memakai himar hanya sebatas leher yang mereka sebut jilbab. Mereka beranggapan pakaian seperti itu adalah pakaian yang Islami, padahal dalam al-Qur’an dan Hadits telah dijelaskan bagaimana seorang wanita harus berhijab.

Dalam makalah ini akan dijelaskan, tentang kewajiban berhijab bagi wanita muslimah, dasar hukumnya hikmatuttasyri’, dan hal-hal yang berkaitan dengan berhijab.

B.     DASAR HUKUM KEWAJIBAN BERHIJAB

Adapun dasar hukum tentang berhijab bagi wanita berdasarkan pada Firman Allah SWT :

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”( S. Al Ahzab 33 : 59 ).

C.    PENGERTIAN HIJAB/JILBAB

Hijab menurut etimologi berarti penutup atau tabir, sedang jilbab berarti baju kurung panjang sejenis jubah.[1]

Perintah berhijab diturunkan setelah diwajibkan menutup aurat, maka yang dimaksud berhijab disini adalah menutup anggota badan melebihi aurat itu sendiri. Para ahli tafsir sepakat meskipun ada perbedaan redaksi, bahwa yang dimaksud dengan jilbab adalah selendang yang berfungsi menutupi seluruh tubuh wanita diatas pakaiannya, yang  pada masa kini disebut  mula’amah, yang bukan bukan hanya sekedar menutup aurat sebagaimana anggapan sebagian orang.[2] Di dalam kitab Al Qur’an dan terjemahnya dijelaskan bahwa jilbab adalah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.[3]

D.    MAKNA IJMALI

Makna ijmali Allah memerintahkan kepada nabi Muhammad saw. Untuk menyerukan perintah berhijab kepada wanita muslimah seluruhnya untuk berpegang pada adab-adab Islami, petunjuk-petunjuknya yang utama dan aturan-aturan bijaksana yang melahirkan kemaslahatan individu dan kebahagiaan masyarakat, terutama dalam urusan kemasyarakatan yang berhubungan dengan keluarga muslimah. Itulah hijab syar’i yang Allah fardukan kepada wanita muslimah agar terjaga kehormatannya, kesuciannya, terjaga dari pandangan-pandangan, kalimat-kalimat yang kotor, jiwa yang sakit, niat yang buruk, yang kesemuanya itu lahir dari orang-orang fasik. maka makna yang terkandung dari firman Allah pada surat al-Ahzab ayat 59 yaitu

“Wahai nabi sampaikanlah perintah Allah kepada hamba-hamba Allah yang mukmin. Mulailah dari diri kamu sendiri, lalu perintah istri-istrimu (ummahatul mu’minin) dan anak-anakmu yang mulia untuk mengenakan jilbab secara syar’i dan menghijab dirinya dari pandangan kaum laki-laki agar mereka menjadi panutan bagi semua manusia, dalam hal menjaga diri, menutup aurat, menjaga perasaan malu, sehingga orang fasik tidak menginginkan mereka, atau orang yang berdosa tidak merusak kehormatannya, kemudian perintahlah kepada seluruh wanita mu’minah agar mengenakan jilbab, yang dapat menutupi kecantikannya dan perhiasannya, dan mencegah ucapan-ucapan yang buruk, perintahkan juga agar mereka menutupi wajah dan tubuhnya dengan jilbab agar ada perbedaan antara wanita yang merdeka dengan Hamba sahaya dan agar tidak serupa dengan orang-orang yang durhaka sehingga orang-orang yang berhati jahat tidak sampai pada tujuannya. Dengan demikian mereka akan terpelihara dan terjaga dirinya. Allah maha pengampun kepada orang-orang yang menjalankan perintahNya dan mengampuni dosa dan kesalahan yang telah lalu dizaman jahiliah, yang orang-orang beriman belum mengetahui kewajiban berjilbab. Allah maha penyayang kepada hamba-hambanya. Ia tidak akan memberlakukan syari’at kecuali untuk kebaikan dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.

E.     SABABUNNUZUL

Para mufassir meriwayatkan sebab turun ayat diatas adalah bahwa dahulu perempuan merdeka dan hamba sahaya (anak) biasa keluar malam untuk menunaikan hajatnya (buang air) diantara dinding-dinding dan pohon-pohon kurma tanpa ada ciri-ciri yang membedakan antara perempuan merdeka dan hamba sahaya (dari segi pakaiannya), padahal saat itu di madinah banyak orang-orang fasik yang biasa mengganggu hamba sahaya perempuan dan kadang-kadang juga kepada perempuan merdeka. Kalau mereka ditegur, mereka menjawab “kami hanya mengganggu hamba-hamba perempuan”. Maka perempuan-perempuan merdeka diperintahkan untuk membedakan dirinya dalam hal berpakaian dengan budak perempuan agar mereka dihormati, disegani, dan tidak menggugah hasrat orang-orang yang jiwanya berpenyakit (hidung belang). Maka turunlah firman Allah surat al-Ahzab ayat 59

Ibn al Jauzi berkata sebab turun ayat ini adalah bahwa orang-orang fasik di madinah biasa mengganggu perempuan pada waktu mereka keluar malam. Apabila mereka melihat perempuan itu berjilbab mereka enggan mengganggunya, sambil berkata “ Ini perempuan merdeka “. Akan tetapi bila mereka melihat perempuan tidak berjilbab mereka mengatakan “ Inilah amat “, lalu mereka mengganggunya. Kemudian turunlah ayat ini. Demikian menurut As – suda.[4]

Mujahid berkata “ Mereka berjilbab agar dikenal sebagai wanita merdeka, sehingga tidak seorangpun dari orang fasik yang menjadikan mereka sebagai sasaran gangguan dan pelecehan.[5]

F.     AHKAMUS – SYAR’IYAH

1.      Apakah perintah hijab itu wajib bagi seluruh wanita.

Zahir ayat menunjukkan bahwa hijab difardhukan kepada seluruh wanita mukminah yang mukallaf ( wanita muslimah, merdeka, dan balighah), berdasarkan firman Allah.

Wanita kafir tidak terkena kewajiban ini karena ayat ini ditujukan kepada wanita mukminah. Kita diperintahkan membiarkan mereka mengikuti agamanya. Disamping itu berjilbab merupakan ibadah. Sebab dengan berjilbab berarti telah melaksanakan perintah Allah SWT. Seorang muslim yang melaksanakan perintah tersebut sama dengan melaksanakan perintah sholat dan puasa. Apabila mereka meninggalkannya secara demonstratif berarti ia telah keluar dari islam ( kafir ), jika ia meninggalkannya karena semata – mata mengikuti situasi masyarakat yang telah rusak. Sedang ia tetap berkeyakinan akan wajibnya, maka mereka dianggap sebagai orang yang durhaka ( bermaksiat), menyalahi perintah Allah didalam al Qur’an :

Sekalipun wanita non muslim tidak diperintahkan berjilbab namun mereka tidak boleh dibiarkan merusak struktur masyarakat muslim dengan bertelanjang dihadapan kaum laki – laki sebagaimana yang lazim kita lihat pada zaman sekarang ini. Kesopanan sosial harus dipelihara dan diterapkan untuk seluruh anggota masyarakat, baik yang muslimah maupun yang non muslimah. Ini termasuk siasah syar’iyah ( kebijakan syara’ ) yang harus dilaksanakan oleh pemerintah Islam ( untuk mengaturnya ).

Adapun budak perempuan tetap wajib berhijab, menurut Abu Hayyan karena zhahir ayat tersebut meliputi semua perempuan mukminah baik budak maupun wanita merdeka, pendapat inilah yang dianggap sesuai dengan jiwa Islam dalam memelihara kehormatan dan menjaga masyarakat dari dekadensi moral. Adapun usia baligh menjadi syarat bagi sesorang yang dibebani kewajiban agama.

Asy – Syaikh Muhammad Ali Ash Shabuni mengatakan setiap muslim wajib membiasakan putri-putrinya berhijab secara syar`i, sejak usia 10 tahun agar kelak setelah dewasa tidak kesulitan menerapkannya meskipun mereka tidak terkena beban tersebut. Tujuannya adalah sebagai pendidikan dengan menganalogikan dengan perintah sholat sejak usia 10 tahun. Sebagaimana sabda Nabi Saw

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ[6]

2.      Bagaimana Cara Berhijab

Allah memerintahkan kepada wanita mukminah untuk berhijab/berjilbab demi memelihara mereka. Para ulama masih berbeda pendapat tentang cara berhijab ini.

Ibn Jarir at-Thabari meriwayatkan dari ibn syirin bahwa ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Abidah As-Salmani tentang ayat

Artinya:

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya”. Lalu ia mengangkat jilbab yang ada padanya kemudian menutupkan ke seluruh tubuhnya, yaitu menutup kepala hinga kedua bulu matanya, menutup wajah dan memperlihatkan matanya sebelah kiri dari sisi wajahnya sebelah kiri.

Ibn Jarir dan Abu Hayyan meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata jilbab diangkat diatas kening lalu diangkat, kemudian ditutupkan diatas hidung mata tetap terlihat, dada dan sebagian wajah tertutup.

As-Suda meriwayatkan tentang cara berhijab dan berjilbab, sebagai berikut: “Salah satu mata tertutup, juga wajah dan sisi lain (dari wajah) kecuali mata.

3.      Wajibkah Wanita Menutup Wajah

Dalam surat An-Nur dijelaskan bahwa perempuan dilarang menampakkan perhiasannya kecuali kepada mahramnya sendiri. Allah berfiman.

Oleh kararena wajah merupakan bagian pokok dari perhiasan, sentral kecantikan dan faktor timbulnya fitnah, maka menutupnya dari pandangan laki-laki lain menjadi suatu keharusan.

Adalah suatu hal yang tidak boleh diragukan lagi, bahwa masa sekarang rasanya tidak ada jaminan aman dari fitnah. Oleh karena itu, Muhammad Ali Asshobuni berpendapat atas wajibnya menutup wajah demi memelihara kehormatan wanita muslimah.

4.      Syarat-Syarat Hijab dan berjilbab secara syar’i

  1. Hijab atau jilbab itu harus menutup seluruh tubuh.
  2. Kain hijab atau jilbab itu harus tebal bukan kain yang tipis karena tujuannya berhijab/berjilbab itu adalah menutup.
  3. Hendaknya hijab/jilbab itu tidak semata-mata sebagai hiasan.
  4. Hendaknya hijab/jilbab itu longgar, tidak terlalu sempit.

صنفان من أهل النار لم أرهما قوم معهم سياط كأذناب البقر يضربون بها الناس ونساء كاسيات عاريات مميلات مائلات رؤسهن كأسنمة البخت المائلة لا يدخلن الجنة ولا يجدن ريحها وإن ريحها ليوجد من مسيرة كذا وكذا

  1. Hendaknya pakaian itu tidak diberi wangi-wangian yang tidak merangsang laki-laki.
  2. Hendaknya pakaian itu tidak menyerupai pakaian laki-laki.

G.    HIKMATU TASHRI’

Sebagian orang menyaka bahwa berhijab tidak diwajibkan oleh wanita muslimah. Hijab hanyalah tradisi yang telah muncul sejak zaman Abasyiah padahal dugaan ini tidak benar. Padahal munculnya pikiran seperti ini karena adanya dua kemungkinan:

  1. Karena ketidak tauan mereka pada agama Islam dan kitab sucinya.
  2. Kemungkinan adanya tujuan tersembunyi dari kaum liberal.

Syekh Ali Ashhobuni mengatakan saya senang mengungkap hal-lah yang tertutup seperti ini untuk menjelaskan kebenaran, sehingga tidak terbaur antara yang hak dan yang bathil.

Alangkah banyaknya orang yang sesat pada masa kini yang menggaungkan bahwa mereka adalah orang-orang yang modern dan penganjur kemajuan. Alangkah besar bahaya yang akan menimpa akhlak masyarakat, karena pada hakikatnya mereka adalah kaum perusak yang mengatas namamakan sebagai kaum yang memperbaiki keadaan. Mereka penghancur yang mengatas namakan pembangun dan Dajjal dengan nama budayawan dan ilmuan.

H.    NASH-HASH AL-QUR’AN YANG BERKAITAN DENGAN HIJAB

Adapun ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan hijab adalah :

  1. Surat al-Ahzab ayat 33
  2. Surat al-Ahzab ayat 53
  3. Surat al-Ahzab ayat 59
  4. Surat an-Nur ayat 31

Dari ayat al-Qur’an tersebut dapatlah diketahui bahwa berhijab itu wajib bagi semua wanita muslimah dengan dalil yang Qath’i, tidak sebagaimana yang diduga oleh orang liberal yang berpendapat bahwa hijab adalah tradisi yang tumbuh sejak pemerintahan abbasyah.

I.       KESIMPULAN

  1. Hijab wajib bagi wanita muslimah.
  2. Istri nabi dan putri-putrinya adalah panutan bagi seluruh wanita musliamah.
  3. jilbab dipandang memenuhi syarat bila menutupi perhiasan pakaian dan seluruh badan.
  4. Hijab diwajibkan agar kedudukan wanita mulia dan terhormat dan melindungi masyarakat dari kerusakan.
  5. Allah mensyariatkan hukum untuk kebaikan kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat.              


[1] Munawwir AW, Kamus al – Munawwir Arab Indonesia Terlengkap,Pustaka Progressif, Yogyakarta, 1984, hal. 237 dan 199.

[2] Ash Shobuny, M Ali, Tafsir Ayat al Ahkam, Maktabah al Ghozaly, Damsyik Suriah, 1397 H/1977 M, Jilid !!, hal. 378.

[3] Al-Qur’an dan terjemah, khadim al Haramain asy Syarifain

[4] Ash –Shobuni M Ali, op sio, hal.377.

[5] Quthb, Sayyid, Fizhilalil Qur’an, Gema Insani jilid 9, 2004 M, hal. 289.

[6] Hadis riwayat ashabussunan, Maktabah Samilah.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s