JAM’UL QUR’AN

JAM’UL QUR’AN

Oleh Hj. Siti Maryam

(Mahasiswa Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur selama 20 tahun lebih.[1] Ada yang mengatakan Al-Qur’an diturunkan selama 23 tahun (22 tahun 2 bulan 22 hari). 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah.[2] Namun, pada saat Nabi Muhammad SAW berada di Mekkah ada masa fatroh (kosong) penurunan Al-Qur’an selama 3 tahun. Dengan demikian masa penurunan Al-Qur’an yang sebenarnya adalah 20 tahun.

Al-Qur’an kadang-kadang diturunkan seayat demi seayat, kadang berjumlah sampai 10 ayat, menurut kebutuhan yang menjadi sebab turunnya ayat tersebut. Di samping itu juga untuk menetapkan hati Rosulullah SAW, dan bisa diterima di kalangan Arab, bisa dijadikan hujjah kepada mereka, serta untuk lebih memperjelas arah I’jaazul Qur’an itu sendiri. Seandainya Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus, maka akan tersamar antara yang hak dan yang batil, dan tidak mudah  untuk dipahami.[3] Seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Furqon ayat 32:

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلاَ نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنَ جُمْلَةً وَّاحِدَةً كَذَالِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنهُ تَرْتِيْلاً (الفرقان:٣٢)

Artinya: dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” demikianlah, agar kami perteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar).

Pada masa Rosulullah SAW pengumpulan al-Qur’an masih dalam bentuk hafalan dalam hati. Setiap Al-Qura’an turun Rosulullah menganjurkan untuk dihafal dan selalu dibaca dalam sholat sehingga yang menghafal al-qur’an mencapai ribuan orang. Di samping itu tidak ada satu ayat pun yang tidak dituliskan, seperti ditulis di pelepah kurma, kulit-kulit binatang, dan tulang-belulang.

Kemudian pada masa Abu Bakar tulisan-tulisan pada masa Rosulullah dikumpulkan pada satu mushaf. Pada masa itu banyak para penghafal al-qur’an yang gugur di medan perang, oleh karena itu timbullah kekhawatiran Umar bin Khattab yang berinisiatif agar al-qur’an segera dikumpulkan.

Pada masa kholifah Utsman bin Affan kaum muslimin sudah banyak terpencar sampai ke Mesir, Syiria, Iraq, Persia dan Afrika.[4] Oleh karena itu Kholifah Utsman ingin menyatukan bacaan Al-Qur’an kaum muslimin, maka dibentuklah panitia untuk mentadwinkan (Membukukan) Al-Qur’an, yang hasilnya dikirim ke Mekkah, Syria, Basrah dan Kufah. Al-Qur’an yang telah ditadwinkan tersebut disebut Al-Mushaf. Sedangkan untuk Khalifah Utsman dinamai Mushaf Al Imam.[5]

Dalam makalah ini akan diuraikan secara rinci masa pengumpulan Al-Qur’an yang dibagi ke dalam beberapa bagian:

  1. Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad SAW
  2. Pengumpulan Al-Qu’an pada masa Abu Bakar
  3. Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Utsman
  4. Perbedaan Pengumpulan Al-Qur’an antara Abu Bakar dan Utsman
  5. Tertib Ayat dan Surah

 

PENGUMPULAN DAN PENERTIBAN AL-QUR’AN

A. Pengumpulan Al-Qur’an Pada Masa Nabi Muhammad SAW

Pengertian pengumpulan Al-Qur’an menurut para ‘ulama terbagi menjadi 2 macam yaitu : Pertama, pengumpulan dalam arti hifzhuhu (menghafalnya dalam hati). Kedua, pengumpulan dalam arti Kitabatuhu kulluhu (penulisan qur’an semuanya) baik dengan memisahkan ayat-ayat dan surat-suratnya, atau menertibkan ayat-ayat semata dan setiap surat ditulis dalam satu lembaran secara terpisah, ataupun menertibkan ayat-ayat dan surat-suratnya dalam lembaran-lembaran yang terkumpul, yang menghimpun semua surat sebagiannya ditulis sesudah bagian yang lain.[6]

 

  1. Pengumpulan      Al-Qur’an dalam arti menghafalnya pada masa Nabi

Rosulullah SAW amat menyukai wahyu ia senantiasa menunggu turunnya wahyu dengan amat rindu lalu beliau menghafal dan memahaminya. Sehingga Nabi senantiasa menggerak-gerakkan kedua bibir dan lidahnya saat wahyu diturunkan karena takut terlewatkan seperti dalam firman Allah dalam surat Al-Qiyamah ayat 16-19:

لاَتُحرِّكْ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ, إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ, فَإِذَا قَرَأْنهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

Artinya “Janganlah kamu menggerakkan lidahmu untuk membaca al-qur’an karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (didadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, atas tanggungan Kamilah penjelasannya”. (Al-Qiyamah:16-19)

Setiap turun wahyu kepada Rosulullah, ia membacakanya kepada sahabat-sahabatnya dan menyuruh mereka menghafalnya. Mereka pun menghafalnya sesudah mereka menetapkan kebenaran bacaannya kepada Rosulullah, kemudian mereka menyuruh istri-istri dan anak-anaknya untuk menghafal. Mereka membacanya dalam sholat di tengah malam sehingga alunan suara mereka terdengar bagai suara lebah.[7]

Al-Qur’an telah dihafal seluruhnya oleh sebagian sahabat. Dalam kitab sahih Bukhori telah disebutkan tentang tujuh hafizh melalui tiga riwayat. Mereka adalah Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Ma’qol (bekas budak Abu Huzaifah), Mu’az bin Jabal, Ubai bin Ka’b, Abu zaid bi Sakan dan Abu Darda’.[8]

 

  1. Pengumpulan      Al-Qur’an dalam arti penulisannya pada Masa Nabi

Rasulullah SAW telah mengangkat para penulis wahyu dari sahabat-sahabat terkemuka seperti Ali, Mu’awiyah, Ubai bin Ka’b dan Zaid bin Tsabit. Beliau memerintahkan mereka menuliskannya dan menunjukkan tempat ayat tersebut dalam surat. Sehingga penulisan pada lembaran itu membantu penghafalan dalam hati. Di samping itu sebagian sahabat pun menuliskan Al-Qur’an yang turun itu atas kemauan mereka sendiri, tanpa perintah dari Nabi, mereka menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, dan potongan tulang belulang binatang.

Para sahabat senantiasa menyodorkan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW baik dalam bentuk hafalan maupun tulisan. Tulisan-tulisan Al-Qur’an pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu mushaf. Yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki oleh yang lain.

Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah disaat Al-Qur’an telah dihafal dan ditulis di dalam mushaf dengan susunan seperti yang telah ada. Ayat-ayat dan surat-surat dipisahkan atau ditertibkan ayat-ayatnya saja. Setiap surat berada dalam satu lembaran secara terpisah, tetapi Al-Qur’an belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang menyeluruh (lengkap). Bila wahyu turun segeralah dihafal oleh para qurro’ dan ditulis oleh para penulis, tetapi pada saat itu belum diperlukan membukukannya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu menanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Di samping itu terkadang pula terdapat ayat yang me-nasikh (menghapuskan) ayat yang turun sebelumnya. Susunan atau tertib penulisan Al-Qur’an itu tidak menurut tertib nuzulnya, tetapi setiap ayat yang turun dituliskan di tempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi. “Al Khattabi berkata : Rasulullah SAW tidak mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf itu kerena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasulullah SAW, maka Allah SWT mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafaur rosyidin sesuai dengan janji-Nya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya…”. Pengumpulan Al-Qur’an di masa Nabi ini dinamakan pengumpulan hafalan dan pembukuan yang pertama.[9]

 

  1. B.     Pengumpulan Al-Qur’an pada Masa Abu Bakar

Kholifah Abu bakar menjalankan pemerintahan sesudah Rasulullah SAW. Ia dihadapkan kepada peristiwa – peristiwa besar berkenaan dengan kemurtadan sebagian orang Arab. Karena itu ia segera menyiapkan pasukan dan mengirimkannya untuk memerangi orang-orang yang murtad itu. Peperangan Yamamah yang terjadi pada tahun 12 Hijriyah melibatkan sejumlah besar sahabat yang hafal Al-Qur’an. Dalam peperangan ini 70 Qori’ dari para sahabat gugur. Umar  bin Khattab merasa sangat khawatir melihat kenyataan ini, lalu ia menghadap Abu Bakar dan mengajukan usul kepadanya agar mengumpulkan dan membukukan Al-Qur’an karena dikhawatirkan akan musnah sebab peperangan Yamamah telah banyak membunuh para qori’.

Abu Bakar menolak usulan ini dan berkeberatan melakukan apa yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Tetapi Umar tetap membujuknya, sehingga Allah SWT membukakan hati Abu Bakar untuk menerima usulan tersebut. Kemudian Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit mengingat kedudukannya dalam qiroat, penulisan, pemahaman dan kecerdasannya, serta kehadirannya pada pembacaan yang terakhir kali dihadapan Rasulullah SAW.

Abu Bakar menceritakan kepada Zaid bin Tsabit kekhawatiran dan usulan Umar. Pada mulanya Zaid menolak seperti halnya Abu Bakar. Keduanya lalu bertukar pendapat sampai akhirnya Zaid dapat menerima dengan lapang dada perintah penulisan Al-Qur’an itu. Zaid bin Tsabit memulai tugasnya yang berat ini dengan bersandar pada hafalan yang ada dalam hati para qurro’ dan catatan yang ada pada para penulis. Kemudian lembaran-lembaran (kumpulan) itu disimpan ditangan Abu Bakar. Setelah ia Wafat pada tahun 13 Hijriyah lembaran-lembaran itu berpindah ketangan Umar dan tetap berada ditangannya hingga wafat. Kemudian mushaf itu pindah ke tangan Hafshah, putri Umar. Pada permulaan kholifah Utsman, Utsman memintanya dari tangan Hafshah.

Kita sudah mengetahui bahwa Al-Qur’an sudah tercatat sebelum masa Abu Bakar yaitu pada masa Nabi tetapi masih berserakan pada kulit-kulit dan pelepah kurma. Kemudian Abu Bakar memerintahkan agar catatan-catatan tersebut dikumpulkan dalam satu mushaf dengan ayat-ayat dan surah-surah yang tersusun serta ditulis dengan sangat hati-hati. Dengan demikian, Abu Bakar adalah orang pertama yang mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf yang tersusun secara tertib dengan penuh ketelitian.  Para ulama berpendapat bahwa penamaan Al-Qur’an dengan “mushaf” itu baru muncul sejak saat itu, di saat Abu Bakar mengumpulkan Al-Qur’an. Ali berkata : “ Orang yang paling besar pahalanya dalam hal Mushaf ialah Abu Bakar, dialah orang pertama yang mengumpulkan kitab Allah. Pengumpulan ini dinamakan pengumpulan yang kedua.[10]

 

  1. C.    Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Utsman

Penyebaran Islam bertambah luas dan para qurro’ pun tersebar di berbagai wilayah. Ketika terjadi perang Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk Iraq, diantara orang yang menyerbu kedua tempat itu ialah Huzaifah bin al-Yaman. Ia melihat banyak perbedaan dalam cara membaca Al-Qur’an. Sebagian bacaan itu bercampur dengan kesalahan tetapi masing-masing mempertahankan dan berpegang pada bacaannya, serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya bahkan mereka saling mengkafirkan.[11]

Huzaifah segera menghadap Utsman dan melaporkan kepadanya apa yang telah dilihatnya. Para sahabat pun memprihatinkan kenyataan ini karena takut kalau-kalau perbedaan itu akan menimbulkan penyimpangan dan perubahan. Mereka bersepakat untuk menyalin lembaran-lembaran pertama yang ada pada Abu Bakar dan menyatukan umat Islam pada lembaran-lembaran itu dengan bacaan yang tetap pada satu huruf (satu macam bacaan).

Kholifah Utsman kemudian mengirimkan utusan kepada Hafshah untuk meminjamkan mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Kemudian Utsman memanggil Zaid bin Sabit Al Anshori, Abdullah bin Zubair, Said bin ‘Ash dan Abdur Rohman bin Haris bin Hisyam, ketiga orang terakhir ini adalah suku Quroisy. Lalu memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, serta memerintahkan pula agar apa yang diperselisihkan Zaid dengan ketiga orang Quroisy itu ditulis dalam bahasa Quroisy, karena Al-Qur’an turun dalam logat mereka.[12]

Keterangan ini menunjukan bahwa apa yang dilakukan Utsman itu telah disepakati oleh para sahabat. Mushaf-mushaf itu ditulis dengan satu huruf (dialek) dari tujuh huruf Qur’an seperti yang diturunkan agar orang bersatu dalam satu qiroat. Dan Utsman telah mengembalikan lembara-lembaran yang asli kepada Hafshah lalu dikirimkannya pula kewilayah masing-masing satu mushaf dan ditahannya satu mushaf untuk di Madinah, yaitu mushafnya sendiri yang dikenal dengan nama “Mushaf Imam”.

Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah mushaf yang dikirimkan Utsman ke berbagia daerah. Ada yang mengatakan bahwa jumlahnya tujuh buah mushaf yang dikirimkan ke Mekkah, Syam, Basrah, Kufah, Yaman, Bahrain, dan Madinah. Dikatakan pula bahwa jumlahnya ada empat buah masing-masing dikirimkan ke Iraq, Syam, Mesir, dan Madinah. Ada yang mengatakan bahwa jumlahnya ada lima. As-Suyuthi berkata bahwa pendapat inilah yang mashur. Sesudah itu Utsman memerintahkan untuk mengumpulkan semua lembaran-lembaran yang bertuliskan Al-Qur’an yang ditulis sebelum itu dan menyuruh untuk membakarnya.

Mushaf yang ditulis oleh Utsman sekarang hampir tidak ditemukan. Keterangan yang diriwayatkan oleh Ibnu Katsir menyatakan bahwa ia menemukan satu buah di masjid Damsyik Syam. Mushaf itu ditulis pada lembaran dari kulit onta. Diriwayatkan pula mushaf Sya ini dibawa ke Inggris setelah beberapa lama di tangan kaisar Rusia, di perpustakaan Leningrade. Dikatan pula mushaf ini terbakar di masjid Damsyik pada tahun 1310 Hijriyah.[13]

Pengumpulan Al-Qur’an oleh Utsman ini disebut dengan pengumpulan ketiga yang dilaksanakan pada tahun 25 Hijriyah.

 

  1. D.    Perbedaan Pengumpulan antara Abu Bakar dan Utsman

Di bawah ini beberapa perbedaan dalam pengumpulan mushaf Al-Qur’an antara Abu Bakar dengan Utsman :

1. Motif  dan Cara Pengumpulan Abu Bakar

-          Motif pengumpulan mushaf Abu Bakar adalah kekhawatiran beliau akan hilangnya Al-Qur’an karena banyaknya para Huffaz yang gugur dalam peperangan yang banyak menelan korban dari para qori’.

-          Memindahkan semua catatan Al-Qur’an yang bertebaran di kulit-kulit binatang, tulang belulang dan pelepah kurma. Kemudian dikumpulkan dalam satu mushaf dengan ayat-ayat dan surah-surahnya yang tersusun serta terbatas pada bacaan yang tidak dimansukh dan mencakup ketujuh huruf sebagaimana Al-Qur’an diturunkan.

-          Mengumpulkan lembaran-lembaran dan menertibkan ayat-ayat dan surahnya sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW.

2. Motif dan Cara Pengumpulan Utsman

-          Motif Utsman untuk mengumpulkan Al-Qur’an adalah karena banyaknya perbedaan dalam cara membaca Al-Qur’an yang disaksikan sendiri didaerah-daerah, dan mereka saling menyalahkan satu terhadap yang lain.

-          Menyalinnya dalam satu huruf diantara ketujuh huruf itu, untuk mempersatukan kaum muslimin dalam satu huruf yang mereka baca tanpa keenam huruf lainnya.

-          Menyatukan pada satu macam wajah atau qiroat, sehingga berhasil menghindarkan timbulnya fitnah dan mengikis sumber perselisihan serta menjaga Al-Qur’an dari penambahan dan penyimpangan dari sepanjang zaman.

E.     Tertib Ayat dan Surah

1.                              Tertib Ayat

Al-Qur’an terdiri atas surat-surat yang pendek dan yang panjang. Ayat adalah sejumlah kalam Allah yang terdapat dalam sebuah surat dari Al-Qur’an. Surat adalah sejumlah ayat Al-Qur’an yang mempunyai permulaan dan kesudahan. Tertib atau urutan ayat-ayat Al-Qur’an ini adalah Tauqifi, ketentuan dari Rasulullah saw. Susunan dan penempatan ayat tersebut sebagaimana yang disampaikan para sahabat kepada kita. Utsman bin Abil Ash berkata:

كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ شَخَصَ بِبَصَرِهِ ثُمَّ صَوَّبَهُ, ثُمَّ قَالَ: أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَضَعَ هَذِهِ الآيِةَ هَذَا الْمَوْضِعِ مِنْ هَذِهِ السُّوْرَةِ. (إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبىٰ.- النحل:٩٠)

Aku tengah duduk di samping Rasulullah, tiba-tiba pandangannya menjadi tajam lalu kembali seperti semula. Kemudian katanya, ‘Jibril telah datang kepadaku dan memerintahkan agar aku meletakkan ayat ini ditempat anu dari surat ini: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan serta memebri kepada kaum kerabat…..’” (an-Nahl:90). Hadist riwayat Ahmad dengan isnad hasan.[14]

Jibril senantiasa mengulangi dan memeriksa Al-Qur’an yang telah disampaikannya kepada Rasulullah  SAW sekali setiap tahun, yaitu setiap bulan Ramadhan. Menjelang Ramadhan terakhir sebelum wafatnya Rasulullah SAW Jibril datang sebanyak dua kali. Pengulangan Jibril terakhir ini seperti tertib ayatnya sepeti tertib yang dikenal sekarang ini.

Dengan demikian tertib ayat-ayat Al-Qur’an seperti yang ada di dalam mushaf yang beredar diantara kita adalah tauqifi, tanpa diragukan lagi. As-Suyuti, setelah menyebutkan hadits-hadits berkenaan dengan surah-surah tertentu mengemukakan : ”Pembacaan surah-surah yang dilakukan Nabi di hadapan para sahabat itu menunjukkan bahwa tertib atau susunan ayat-ayatnya adalah tauqifi. Sebab, para sahabat tidak akan menyusunnya dengan tertib yang berbeda dengan yang mereka dengar dari bacaan Nabi, maka sampailah tertib ayat yang demikian sampai tingkat mutawatir.

2.      Tertib Surat

Para ulama berbeda pendapat tentang tertib surat Al-Qur’an. Pendapat pertama mengatakan bahwa tertib surattauqifi, dan ditangani langsung oleh Nabi sebagaimana diberitahukan Jibril kepadanya atas perintah Allah. Dengan demikian Al-Qur’an pada masa Nabi telah tersusun surah-surahnya secara tertib, sebagaimana tertib ayat-ayatnya seperti yang ada ditangan kita saat ini, yaitu tertib mushaf  Utsman yang tak ada seorang sahabatpun menentangnya. Ini menunjukkan telah terjadi kesepakatan (Ijma’) atas tertib surah tanpa suatu perselisihan apapun.

Pendapat kedua mengatakan bahwa tertib surat itu berdasarkan Ijtihad para sahabat, mengingat karena adanya perbedaan tertib didalam mushaf-mushaf mereka. Misalnya Mushaf Ali disusun menurut tertib Nuzul, yakni dimulai dengan Iqro’, kemudian Mudatsir, lalu Nun, Qolam, kemudian Muzammil, dan seterusnya hingga akhir surat Makkiy dan Madaniy. Dalam mushaf Ibnu Mas’ud yang pertama ditulis adalah Fatihah, Baqoroh, Nisaa, dan kemudian Ali Imron. Dalam Mushaf Ubay yang pertama ditulis adalah Fatihah, Baqoroh, Nisaa, dan kemudian Ali Imron. Pendapat ketiga mengatakan bahwa sebagian surah itu tertibnya tauqifi dan sebagian lainnya berdasarkan ijtihad para sahabat.[15]

Bila penyusunan Al-Qur’an berdasarkan turunnya ayat (kronologi) sangat sulit, sebab tidak semua periwayatan turunnya Al-Qur’an diketahui. Tertib nuzul harus ada sandarannya yaitu periwayatan. Periwayatan yang ada tidak semua kuat, dan jumlahnya pun tidak banyak. Urutannya dari pertama sampai akhir tidak sampai kepada kita. Yang paling mudah untuk mengklasifikasikannya adalah ayat makiyyah dan madaniyyah. Sebab perbedaan antara keduanya sangat jelas. Yang diperselisihkan hanya beberapa surat/ayat saja.

3.      Ar Rasmul Utsmani dan Perbaikan Rasm Utsmani

Rasm Utsmani adalah rasm (bentuk ragam tulis) yang telah diakui dan diwarisi oleh umat Islam sejak masa Utsman. Dan pemeliharaan rasm Utsmani merupakan jaminan kuat bagi penjagaan Al-Qur’an dari perubahan dan penggantian huruf-hurufnya.

Mushaf Utsmani tidak memakai tanda baca titik dan syakal, karena semata-mata didasarkan pada watak pembawaan orang-orang Arab yang masih murni sehingga mereka tidak memerlukan syakal dengan harakat dan pemberian titik. Ketika bahasa Arab mulai mengalami kerusakan karena banyaknya percampuran dengan bahasa non Arab, maka para penguasa merasa pentingnya ada perbaikan penulisan mushaf dengan syakal, titik dan lain-lain yang dapat membantu pembacaan yang benar. Ulama berpendapat bahwa orang yang pertama melakukan hal itu adalah Abul Aswad Ad-Du’ali, peletak pertama dasar-dasar kaidah bahasa Arab, Atas permintaan Ali bin Abi tholib.[16]

 PENUTUP

 

Dengan adanya pembukuan Al-Qur’an di masa Utsman, memberikan faedah:

  1. Menyatukan      kaum muslimin pada satu mushaf yang seragam ejaan dan tulisannya.
  2. Menyatukan      bacaan Al-qur’an, meskipun masih ada kelainan bacaan tetapi bacaan itu      tidak berlawanan dengan ejaan mushaf Utsman.
  3. Menyatukan      tertib surat-surat sebagaiman yang kelihatan pada mushaf sekarang.
  4. Pemeliharaan      Al-Qur’an akan lebih terjamin sebagaimana yang Allah kehendaki. Siapapun      yang ingin merubahnya, tidak akan pernah bisa, karena Al-Qur’an langsung      dipelihara keotentikannya oleh Allah SWT, sebagaiman firman Allah SWT      dalam surat      al-Hijr ayat 9:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّ لَهُ لَحَافِظُوْنَ (الحجر:٩)

Artinya: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Qur’an , dan Kami pula yang menjaganya.” (Al-Hijr : 9)

 

DAFTAR PUSTAKA

Al Qattan Manna’ Khalil, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, (Bogor: Pustaka Litera AntarNusa), 1996)

Ar-Rofi’I Musthofa Shodiq, I’jazul Qur’an Wal Balaaghotun Nabawiyah, (Beirut: Daarul qutub Al Ilmiyah, 2004)

Ash Shobuni Muhammad, At Tibyaan fii ‘Ulumil Qur’an, (Beirut: ‘Alamul qutub, 1985)

Ma’had Al Lughoh wa ‘Ulumul Qur’an, Al Mujiz fii Mabaahitsi ‘Ulumil Qur’an, (Jakarta, 2002).

Al-Qur’an Al-Karim wa Tarjamatu ma’aaniihi ilaa al-Lughoti Al-Indunisiyah, (Madinah:Mujamma’ khadim Al-haromain Asy-Syarifaun A-Malik Faht, 1412H)

 


[1] Ar-Rofi’I Musthofa Shodiq, I’jaazul Al- Qur’an wal Ballaghotun-Nabawiyah. (Beirut:Daarul-Kutubil ‘Ilmiah,2002), h. 24

[2] Al-Qur’an Al-Karim wa Tarjamatu ma’aaniihi ilaa al-Lughoti Al-Indunisiyah, (Madinah:Mujamma’ khadim Al-haromain Asy-Syarifaun A-Malik Faht, 1412H), h. 16

[3] Ar-Rofi’I Musthofa Shodiq, I’jaazul Al- Qur’an wal Ballaghotun-Nabawiyah, op.cit.,h.24-25

[4]Al-Qur’an Al-Karim wa Tarjamatu ma’aaniihi ilaa al-Lughoti Al-Indunisiyah. Op.cit., h.21

[5] Ibid. h.22

[6] Ma’had al-Luhgoh wa ‘Ulumu al-Qur’an, Al-Mujiz Fi Mabahitsi ‘Ulimi Al-Qur’an, (Jakarta, 2006). h.48

[7] Ibid.

[8] Al-Qattan Manna’ Khalil, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, (Bogor:Pustaka Litera AntarNusa,1996) h.180

[9] Ibid. h. 188

[10] Ibid. h. 192

[11] Ibid.

[12] Ar-Rofi’I Musthofa Shodiq, I’jaazul Al- Qur’an wal Ballaghotun-Nabawiyah. (Beirut:Daarul-Kutubil ‘Ilmiah,2002), h. 28

[13] Al-Qattan Manna’ Khalil, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. op.cit.,h.200

[14] Ibid. h.205-206

[15] Ibid. h.208

[16] Ibid. h.218

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s