Al Wirdul Latif bersama Zawiyah Jakarta

Al Wirdul Latif bersama Zawiyah Jakarta

Abuya KH. Saifuddin Amsir

A      Zawiyah Jakarta atau Betawi Corner dan Al-Asyirah Al-Qur’aniyyah

 Zawiyah Jakarta

Istilah Zawiyah Jakarta di cetuskan pertama kali oleh KH. Saifuddin Amsir. Istilah ini yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘Sudut Jakarta’. Istilah ini sarat dengan makna sufistic: penggunaan kata Zawiyah ini lebih diharapkan menjadi tempat untuk mencari ilmu dan keberkahan yang ada pada Zawiyah kaum Sufi. Zawiyah Jakarta sebagai sudut spiritual diharapkan dapat mencerahkan dan membebaskan umat dari kesempitan hati yang berada di tengah- tengah pertarungan hidup dan bergulat dengan segala persoalanya; sudut spiritual yang menjadi rumah bagi siapapun yang tersingkir dan merasa kalah oleh kekuatan dan tipu daya duniawi.

Keberadaan Zawiyah Jakarta pada mulanya dilatarbelakangi oleh kegelisahan beliau atas maraknya aliran atau ajaran sesat dan menyesatkan di Ibukota Indonesia, Jakarta. Majelis Taklim dan halaqah  yang pada umumnya ada di tengah masyarakat belum cukup ampuh untuk menjadi oase penghilang dahaga spiritualitas umat Islam yang mengikuti aliran dan ajaran tersebut. Sistem dan metode yang telah dikembangkan oleh para ulama dan habaib -yang mengerti persis corak, kultur, kondisi sosiologis dan tuntutan masyarakat Betawi – ini telah menjadi dasar yang tak lapuk oleh zaman dalam mempertahankan eksistensi agama Islam di tengah masyarakat Betawi.

Sistem halaqah atau majelis ta’lim merupakan keunggulan yang semoga akan terus dipelihara dalam menegakkan dakwah dan kaderisasi ulama di tanah Betawi.

Pergeseran zaman dan perputaran sejarah tentu membawa riak-riak yang mempengaruhi struktur dan gaya hidup masyarakat Betawi, tetapi tetap tidak mengubah akar mereka sebagai penganut Islam yang memang secara sejarah sosialnya Betawi itu identik dengan Islam.

Betawi Corner

Sedangkan istilah Betawi Corner beliau cetuskan kemudian sebagai sudut intelektualisasi yang melengkapi sudut spritualitas. Diilhami dengan menggejalanya aliran-aliran Islam yang ‘condong kepada pemikiran Barat’ dan bermunculannya corner-corner di pusat pendidikan dan Kebudayaan; seperti British Corner, American Corner, dll. Zawiyah Jakarta[1] hadir dengan tujuan inti agar para santri dan diharapkan pula para Cendikiawan ‘tidak terlibat dan keluar’ dari pemikiran Islam yang telah ‘tercemar’ itu. Perubahan yang diusung bukanlah Perubahan pemikiran yang sebelumnya sudah ada untuk peningkatan kemajuan peradaban Islam tapi lebih kepada penipisan Islam.[2]

Menurut Abuya, dengan keberadaan corner tersebut yang kelihatannya untuk memperkenalkan budaya dan wawasan dari nama corner tersebut, tapi dampaknya lebih membuat orang menjadi menjauhi al-Qur’an. Sayang, kebanggaan Jakarta dengan keislamiannya harus luntur oleh ‘kerusakan-kerusakan’ yang ditimbulkan oleh corner-corner yang banyak hadir dalam mengaduk-aduk keistimewaan maupun makna dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Oleh karena itu, Zawiyah Jakarta/ Betawi Corner diharapkan dapat menjadi wadah pergerakan dakwah cultural yang manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Betawi saja juga masyarakat luas.

Karena corner terdengar kebarat-baratan, maka kata zawiyah lebih dipilih karena konotasi peribadatannya lebih terlihat daripada kata corner yang berkonotasi ‘mojok’. Betawi corner yang jika disimpangkan artinya Betawi mo mojok. Betawi juga diganti dengan Jakarta yang lebih heterogen. Kebutuhan yang ada di Jakarta itu agar bisa lebih hidup dengan kata zawiyah agar kehidupan yang agamis lebih bisa muncul.

Perhatian besar KH. Saifuddin Amsir terhadap kerusakan ummat di Jakarta sangat terlihat pada penjelasannya yang terus memperjuangkan dakwah Islam melalui Zawiyyah Jakarta. Zawiyah Jakarta merupakan sebuah wadah belajar dan diskusi bagi para santri Betawi dan yang ada di Betawi untuk lebih mendalami Aqidah dan ajaran Ahlussunnah Waljama’ah, dengan bersandarkan pada tradisi salaf tetapi bukan aliran salaf yang belakangan ini kembali marak ditengah masyarakat melainkan tradisi lama yang belum diintervensi oleh methodology Barat. Dengan menitikberatkan pada pemahaman akan sendi-sendi Al-Qur’an dan Al-hadits, ilmu pengetahuan, praktek, keadaan sosial kemasyarakatan, izzah sebagai muslim, dan diperkokoh dengan nilai-nilai ekonomi syari’ah sehingga lebih berdaya guna dan menyesuaikan zaman.

Menjadi satu bagian dari upaya Zawiyyah Jakarta yang dibina oleh Abuya Saifuddin Amsir untuk mengembalikan posisi Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah sebagai pijakan dari kehidupan ummat.[3] Sehingga diharapkan dalam perkembangannya Zawiyah Jakarta akan ditujukan sebagai zawiyah bagi para santri dan murid untuk bermunajat, belajar, berdiskusi, dan beramal akan hakikat sejati dari Aqidah Islam, Al-Qur’an, Al-Hadits, dan esensi dari Filsafat islam.[4]

Zawiyah Jakarta juga menjadi komponen yang sangat penting untuk menggolkan cita-cita Yayasan Terpadu Shibghatullah yang berpuncak pada terbentuknya keluarga qur’any. Hal ini menjadi suatu realita yang tidak terelakkan keberhasilannya walaupun masih dalam bentuk potensi-potensi yang ingin diwujudkan. Langkah-langkah perjuangan Abuya untuk mencapai puncak itu notabenenya dirajut dalam bentuk rajutan pendidikan dan dakwah. Di dunia pendidikan, abuya pernah menjadi guru agama mulai dari tingkat TPA, MTs, MA, hingga Perguruan Tinggi. Pada awal masa mengajar di IAIN Syarif Hidayatullah (kini UIN Jakarta), beliau pernah diberi mata kuliah Filsafat Logika yang hanya diberikan pada semester IX dan X. sedangkan di Ma’had Aly Al-Arbain Al-Asyirah As-Syafiiyah yang diasuhnya diikuti oleh beberapa mahasiswa tingkat S2. Ini berpuncak pada pengajaran di tingkat pasca sarjana dan majlis taklim. Dan di dunia dakwah Abuya juga mengajar dari tingkat pemula sampai tingkat Masaikh di Jakarta yang berpuncak pada mengajar Majlis Taklim di rumah Gubernur DKI Jakarta Bapak DR. Ing H. Fauzi Bowo. Sementara pengajaran yang Abuya lakukan untuk tingkat internasional, Alhamdulillah Allah juga sudah memberikan ni’mat kepadanya dengan keberhasilannya dalam menyertakan sembilan orang muridnya untuk mengikuti dauroh-dauroh yang diselenggarakan Syeikh Hasan Hito (Ulama asal Syiria yang juga mengelaborasi system pemikiran Islam Sunni di tengah-tengah dunia Barat) dan timnya yang merupakan seorang pakar pada bidangnya. Sementara Konferensi-konferensi Islam yang bertaraf internasional juga acap kali dikunjunginya sehingga Alhamdulillah saat ini dia menjadi salah seorang yang sangat dilirik oleh Majelis Taqribul Madzahib (Majlis Antar Madzhab yang mencoba untuk menemukan titik temu antara Sunni dan Syiah), yaitu sebuah usaha yang tak kunjung henti yang dilakukan muslimin Syiah sehingga Abuya dapat berperan didalam organisasi itu.

Abuya KH. Saifuddin Amsir pernah dipertimbangkan untuk menjadi salah satu pimpinan dari gerakan ini di Indonesia mendampingi Bapak DR. Quraish Shihab, seperti juga dia pernah ditawarkan untuk menjadi ketua redaksi jurnal filsafat dari UNAS milik ST. Taqdir Ali Syahbana (1990) menngantikan Nurcholis Madjid yang pada saat itu sedang memiliki kesibukan di luar negeri. Tetapi, seperti yang sudah-sudah, tawaran-tawaran kerja sama yang terlalu berbau politik sering gagal berdekatan dengan Abuya.

Al-Asyirah Al-Qur’aniyah

Dari berbagai pengamalannya dalam berinteraksi dengan jama’ah dan problematika/kemelut kehidupan yang melanda, terutama dengan globalisasi, kondisi dan gejala dimana Al-Qur’an sebagai pedoman hidup ummat tidak lagi mendapat tempat secara utuh di lembaga-lembaga formal, KH. Saifuddin Amsir menyimpulkan bahwa solusi yang tepat adalah dengan menerapkan/membentuk “Asyirah qur’aniyah (keluarga Qur’any)”, yaitu keluarga yang seluruh perilakunya bersandarkan pada ajaran Al-Qur’an.

Oleh karena itu beliau kemudian mengusung kelahiran Al-Asyiroh Al-Qur’aniyyah. Sebuah institusi pendidikan untuk mendidik generasi pencinta dan penghafal Al-Qur’an yang digagasnya, salah satu anaknya sendiri telah menjadi hafidz sejak berusia 13 tahun. Institusi ini insya Allah menerapkan kurikulum baru dengan menggabungkan kurikulum berbasis perpaduan antara ilmu dan amal yang dititikberatkan pada I’jazul Qur’an, Khawasul Qur’an, Aurad, dan Do’a-do’a Qur’ani.

Selain gagasan Al-Asyirah Al-Qur’aniyah, KH. Saifuddin Amsir mengajukan hajat kemanusiaan terhadap adanya “Pasukan Langit” untuk mengatasi segala kemelut. Gagasan ini dilatarbelakangi fakta sejarah bahwa zikir dan doa, menempati tempat yang penting dalam perjuangan Islam. Bertebaran contoh-contoh historis dari peran dzikir dengan formulasi yang ditawari oleh para Auliya’ di seluruh dunia Islam sepanjang sejarah dan terakhir contoh-contoh ini mencuat di Libya dengan Omar Mukhtar, di Indonesia dengan Syaikh Abdul Wahhab Rokan, KH. Sholeh Abbas Buntet Cirebon, KH. Hasyim Asyari Tebu Ireng, Kiyai Falak Ya’qub Ujan Bogor, KH. Nur Ali Bekasi, dan ribuan ulama lainnya, begitu juga dengan panglima-panglima pasukan langit di Indonesia yang tidak tercatat dalam buku sejarah. Belakangan, dunia digemparkan oleh kegagalan pasukan elit Amerika yang ‘digagalkan’ oleh dzikir dan tasbihnya al-Imam Ayatullah Ruhullah al-Khumaini pemimpin Islam Syiah, Iran. Meskipun operasi militer yang bernama “Blue Light” ini dipimpin langsung oleh Jimmi Carter presiden Amerika Serikat dari Gedung Putih untuk menyerang Iran, namun Amerika kalah melawan Iran. Dan ini merupakan peristiwa yang meluluhkan kesombongan intelligensia dan militer Amerika.

Gagasan “Keluarga Qur’any” dan “Pasukan Langit” sebenarnya tidak berbeda. Keduanya dimaksudkan untuk memberdayakan masyarakat –terutama kaum lemah yang terzhalimi- dengan zikir dan doa yang diharapkan mampu dan handal dalam menghadapi orang-orang yang akan berbuat makar yang dapat memperburuk kehidupan orang lain.

Selain itu, Abuya KH. Saifuddin Amsir juga terinspirasi dengan keterkaitannya dalam salah satu kunjungannya ke luar negeri untuk aktifitas dakwah dan syiar Islamnya, bahwa dalam konfrensi Islam yang diselenggarakan di Libya: para ulama dan Ilmuwan muslim menyepakati perlunya mempertajam ide- ide sufisme Islam bagi generasi muda. Hal ini dimaksudkan agar generasi muda Muslim tidak makin tercabut dari akarnya.[5] Konferensi juga menyerukan agar organisasi- organisasi Islam yang berskala nasional maupun internasional dan otoritas keagamaan di tiap- tiap negara untuk bekerjasama dan berkoordinasi untuk menghadang gelombang degradasi moral, eksploitasi secara serampangan, dan penyebaran ide- ide anti agama.

B      Al-Wirdul-Latif

AlWirdul Latif adalah wirid[6] harian yang dibaca pada tiap pagi dan petang. Ini berarti orang yang mengamalkan Al-Wirdul Latif memulai dan mengakhiri harinya dengan Wirid tersebut. AlWirdul Latif merupakan sebuah wirid (kumpulan doa) yang disusun oleh Ulama besar sufi Al-Imam Al-Qutub Abdullah bin Alawi Al-Haddad Radhi Allahu Anhu ( 5 Safar 1044 H/1624 M-7 Zulkaidah 1132 H/1712 M) [7]. Imam Al-Haddad juga menyusun beberapa Wirid terkenal seperti AlWirdul Kabir. Karena panjangnya susunan AlWirdul Kabir, maka beliau menyusun Wirid yang lebih ringkas dan hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk membacanya. Seperti karangannya yang lain,[8] Imam Al-Haddad menguatkan wirid ini dengan ayat-ayat Al-Quran dan hadits yang mengandung I’jaz dan Khawas. Dinamakan Wirdul-Latif (wirid ringan) sebab enak dibaca dan dirasakan di hati kita. Wirid ini baik untuk dibaca dalam memulai aktivitas sehari-hari, karena didalamnya terdapat doa

اَللَّهُّمَ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْيُوْمِ فَتْحَهُ وَنَصْرَهُ وَنُوْرَهُ وَبَرَكَتَهُ وَهُداَهُ

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kebaikan hari ini, pembukaannya, kemudahannya, cahayanya, berkatnya dan petunjuknya.

 اَللَّهُمَّ إِنَّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذاَ الْيُوْمِ،  وَخَيْرَ ماَ فِيْهِ،  وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذاَ الْيُوْمِ وَشَرِّ مَا فِيْهِ.

Ya Allah aku memohon kepada-Mu kebaikan hari ini, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan aku berlindung kepada-Mu daripada keburukan hari ini dan keburukan apa yang terdapat didalamnya. [9]

Demikian disebutkan oleh Abuya KH. Saifuddin Amsir, “Wirdul Latif merupakan bagian dari khazanah yang penuh dengan ayat-ayat yang mengandung khawasil qur’an (khasiat-khasiat al-Qur’an) dan hadits Rasulullah SAW. Hal ini terbukti dari banyak orang yang telah mengamalkannya dengan ikhlas.”[10]

Pada dasarnya Nabi Muhammad SAW tidak menetapkan rangkaian wirid tertentu yang harus dibaca oleh ummatnya, namun Nabi SAW meninggalkan formula-formula khusus yang bisa diamalkan. Pada bagian akhir dari bukunya yang berjudul Qanun At-Ta’wil, Ibnu Arabi menyatakan bahwa tugas setan adalah membawa manusia melupakan Allah SWT, maka kita sebagai hamba harus senantiasa meminta pertolongan Allah agar tetap senantiasa mengingatnya dengan dzikir-dzikir.

Mengingat pada dasarnya isi dari seluruh bacaan wirdul latif adalah diangkat dari sumber-sumber sunni, adalah menjadi bijak apabila beliau menambahkan wiridan-wiridan ini yang diambil dari luar sumber-sumber sunni. Itulah sebab yang membuat beliau memilih doa-doa dan wirid-wirid dari sumber-sumber syii disertakan disini agar kerja-kerja penuh kesungguhan yang ia tekuni belakangan ini, -yaitu mengusung misi pendekatan antar mazhab di dalam yang dilakukan secara bersemangat oleh tokoh-tokoh Islam Syiah-. Dan yang beliau itu ternyata sangat ta’at karena materi doa-doa dan wirid yang beliau pilih disini diambil dari wiridan al-Imam Ali Zainal Abidin  di dalam Kitab As-Shahiifah As-Sajjaadiyah Al-Kamilah yang tak lain dan tak bukan adalah kakek moyang dari al-Imam Abdullah bin Alawy al-Haddad sendiri.

Dan dalam kenyataannya, tak ada kekuatan dari kalangan syiah untuk menyalahkan dan menganggap sesat kaum sunni, dalam hal ini terbukti dengan banyaknya musuh Islam yang dirobohkan oleh kaum dengan munajat dan dzikir-dzikir mereka seperti yang terjadi pada diri Umar Mukhtar di Libya, sebagaimana tidak ada kekuatan pada kalangan sunni untuk menganggap syiah sesat dan salah karena terlalu banyak munajat-munajat syiah dan wirid mereka yang berhasil menghancurkan musuh sebagaimana yang terjadi pada diri al-Imam Khumaini saat menghancurkan operasi militer Amerika Jimmi Carter.

Selama dzikir-dzikir dan doa-doa itu tidak dikotori oleh muatan-muatan negative.  Inspirasi yang diberikan oleh Prof. DR. Fazeli (seorang Al-Musawi –keturunan Nabi Muhammad SAW- dari Iran yang saat ini menjadi Ketua Islamic College Jakarta pada kedatangannya di Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)  semakin mengukuhkan pemikiran Abuya  bahwa selama ini yang menimbulkan perpecahan Sunni Syiah adalah terjadi dalam hal-hal yang bukan primer bahkan cenderung isu-isu ‘hawamisy’ (hal kecil) dan kita bahkan masih tetap berkutat dalam persoalan-persoalan yang menebabkan kita kehilangan potensi dalam kemandulan gerak yang panjang dan tidak mengkondisikan sebuah lingkungan yang produktif. Sementara dinamika kehidupan saudara kita orang syiah ada pada posisi yang dapat dikatakan lebih unggul jika melihat Iran sebagai contoh. Dimana sebagai Negara mayoritas syiah yang kurang lebih selama 30 tahun diembargo oleh dunia Barat, Iran tetap bertahan bahkan sanggup menjadi Negara berkembang yang menghasilkan dokter terbanyak di dunia karena tingginya perhatian terhadap pendidikan sehingga seluruh jenjang sekolah yang diadakn oleh pemerintah gratis. Dunia kesehatan pun mendapat perhatian yang tidak main-main untuk seluruh masyarakatnya, dst.

Selain itu ada beberapa alasan kuat yang kemudian akan dipaparkan dibawah mengapa Abuya sangat berkesungguhan untuk menjadikan wirid ini sebagai salah satu amalan penting yang menjadi wiridan umat sekaligus menjadi dasar penting yang ketika dilebarkan penjelasannya ternyata begitu sarat dengan muatan-muatan filosofis dengan contoh-contoh I’jaz yang melemahkan kreativitas akal manusia untuk menentangnya juga Alwirdul Lathif ini semarak dengan Khawas Al-Qur’an yang nyaris selalu ada dalam ayat dan hadits yang disebutkan meniscayakan kepastian yang baru lagi bahwa I’jaz, Khawas dan filosofi ayat menemukan perkembangannya pada kitab-kitab yang dihasilkan oleh para Sulthonul Ulama seperti Imam Al-Ghazali, Imam Ibn Katsir, Imam Ibn Al-Jauzy, Abdullah Ibn As’ad Al-Yafi, dll.

Dan beliaupun memutuskan untuk memilih, mengamalkan, mensyarahkan dan memasyarakatkan AlWirdul Latif. Beliau mensyarahkan wirdul latif ini di bawah Zawiyah Jakarta yayasan terpadu Shibghatullah yang memang sedang beliau kembangkan untuk memberi kader-kader ulama yang mumpuni dalam kajian-kajian ilmu Al-Qur’an dan Al-Hadits.

C. Syarah AlWirdul Latif

Di dalam DVD yang ia sebarkan ke tengah-tengah umat secara global, ia menjawab lima inti alasan dasar memilih wirdul latif untuk dapat diamalkan secara luas oleh masyarakat. Dalam jawaban globalnya Abuya KH. Saifuddin Amsir mensyarahkan AlWirdul Latif yang tidak hanya memperkuat tapi juga dapat membentuk keluarga qur’ani.

5 pertanyaan dan jawabannya

 Mengapa Abuya KH. Saifuddin Amsir lebih tertarik untuk memasyarakatkan AlWirdul Latif daripada aktifitas Abuya sebelumnya yang lebih banyak berkutat dengan pendidikan dan pemikiran Islam dan lintas agama? (Lihat pertanyaan yang diajukan oleh Ustadzah Dra. Hj. Nur’aini AS)

Jawab:

Terdapat banyak ayat al-Qur’an yang kita pelajari mengandung Khawas maupun I’jaz dan ada sekitar kurang lebih terdapat 700 ayat yang terangkum dalam AlWirdul Latif.

I’jaz: hal yang melemahkan orang dalam menandinginya. Khawas: kekhususan yang ada dalam ayat dan hadits yang dapat memunculkan sesuatu yang spektakuler.

AlWirdul Latif bagian dari khazanah yang penuh dengan ayat-ayat kental dengan kekhasiatannya yang terbukti dari orang-orang yang mewiridkannya. Bila orang menerapkan dan mengamalkan (mewiridkan) apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan Al-Quran maka semua permasalahan akan dapat diselesaikan. Maka Zawiyah Jakarta mencoba dan berusaha untuk mengkaji dan memunculkan ayat-ayat I’jaz dan Khawas ini agar dapat difahami dan diamalkan oleh masyarakat luas. Al-Qur’an yang sudah disingkirkan dan Al-Hadits yang sudah dibuang-buang akan kita munculkan dengan menekankan pada I’jaz dan Khawasnya.[11]

  1. Apakah ada marhalah pendidikan yang tidak berharap untuk diakui secara structural (legal, Negara) dan tidak mengakui kalau perlu?  (Lihat pertanyaan yang diajukan oleh Ustadz Drs. H. Zainal Abidin)

Jawab:

Ada banyak jalan menuju Allah, yaitu (memahami) dengan Hikmah seperti yang dilakukan oleh para ilmuwan dan para ahli dzikir, dengan Nasihat yang baik seperti yang diterapkan oleh para akademisi dan pemimpin pesantren (ustadz/ah), dan dengan Berdebat.

Wirid dan dzikir yang banyak diamalkan oleh masyarakat luas tidak akan cukup jika hanya dengan membaca ataupun mengkaji literature tertentu. Ia juga harus dipandu oleh guru yang ada dalam maqam-maqam tertentu. Banyak orang yang punya kesempatan untuk mengkaji lebih dalam wirid dan dzikir ini dengn kajian yang baik dan ikhlas Lillahi Taala disbanding orang yang ingin menelitinya karena lebih kepada tujuan duniawi. Namun mukhlisin seperti itu menjadi terhambat karena minat untuk menyelami ini sudah terhenti dikarenakan godaan, kondisi,dan berbagai macam situasi urgent lainnya..

Ma’had Ally Zawiyah Jakarta adalah sub lembaga dari Yayasan Terpadu shibghatullah yang ditujukan bagi mereka yang mau mempelajari Islam secara komprehensif dan mau secara aktif berperan serta dalam syiar keagamaan dalam masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Abuya KH. Ssaifuddin Amsir juga berpendapat bahwa untuk mengembalikan kemuliaan kota Jakarta, perlu ada lembaga-lembaga yang dapat ‘mencetak’ ulama-ulama dan cendikiawan-cendikiawan dengan kualitas yang tidak kalah dengan lulusan-lusan sarjana maupun paska sarjana dari universitas-universitas ternama.  Menurut Abuya orang orang dahulu menyebut kepakaran seseorang yang terpuji adalah ketika dia mampu menggabungkan antara ilmu-ilmu yang zahir dengan ilmu yang bathin. Dimana ada suatau kekayaan ilmu pengetahuan disamping kehausan dahaga spiritual.

Baginya segala titel kesarjanaan dan yang semacamnya menjadi hampa bila tidak ditampilkan secara sungguh-sungguh bila tidak mapu memperhatikan dan memberi solusi terhadap kebutuhan ummat.

  1. Mengapa Abuya KH. Saifuddin  Amsir memilih AlWirdul Latif dari sebegitu banyak wirid di dunia?  (Lihat pertanyaan yang diajukan oleh Ustadz Muammar Khoirullah)

Jawab:

Hancur agama tanpa adanya sanad. Abuya KH. Saifuddin Amsir mendapatkan ijazah dan sanad AlWirdul Latif dari guru beliau sendiri yaitu Al-Habib Abdullah bin Husein As-Syami dari  Syeikh Yasin Bin Isa Al-Fadani.  Abuya sendiri sudah mengamalkan wirid ini secara spesifik pada tempat-tempat penting disetiap hajinya ke tanah Haram semenjak tahun 1988.

Abuya KH. Saifuddin Amsir dan AlWirdul Latif

Meletakkan majlis taklim sebagai fondasi dalam institusi keagamaan merupakan suatu keharusan. Apalagi pengalaman Abuya KH. Saifuddin Amsir sendiri yang memang sudah lama berdakwah keliling dan menjadi pengasuh lebih dari 30 majlis taklim. Di kediamannya beliau membuka majlis taklim yang diberi nama Ma’had At-Tamhid Al-Islami untuk asatidz dan At-Tamhid lil Ummahat untuk asatidzah serta majlis zikir yang diberi nama Hizbul Mustaghfirin. Sama halnya dengan Hizbul Mustaghfirin yang telah puluhan tahun diasuhnya. Dengan zikir dan wirid yang diprioritaskan pada penjagaan diri dan keberkahan hidup dengan mendawamkan bacaan Hizib Imam Nawawi dan Hizib Hirosah pada setiap Kamis malam Jum’at ba’da Isya. Abuya sendiri sebagai seseorang yang mencetuskan label Istigotsah Jakarta membuat Istigotsah (dalam skala kecil) secara pribadi di setiap pengajian yang beliau pimpin dengan kumpulan do’a dan kombinasi bacaan qasidah Yaa Rabbi bil Musthafa dan Yaa Rabbbii Hayyi’ lana min Amrinaa Rasyyadaa semenjak tahun 1973. Hal itu beliau lakukan semenjak penukilan yang dilakukannya pada Kitab Al-Mujarrabah ad-Dairabi al-Kabir.[12] Beliau mengkomposisikan bacaan-bacaan Istigotsahnya dengan kumpulan do’a dan wirid yang telah disarikan oleh Imam Al-Ghazali, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, dan Syaikh Abil Hasan As-Syadzili. Ketiganya mempunyai muatan yang penting dalam membangun dan mendasari Tariqah Alawiyah yang sangat mewarnai Jakarta bahkan Nusantara. Beliau mengharapkan komposisi ini menjadi komposisi tepat yang menyarikan segala bentuk zikir yang ada di dunia Islam.

Menurut Abuya dari sekian banyak wirid di kalangan rijalullah, mutashawwifin, ahli dzikir ada  hatfatud dzikir (pukulan dzikir). Hal ini berarti bahwa dzikir-dzikir itu terkadang berbalik memukul atau membawa kecelakaan pada orang yang membaca dzikir tersebut apabila dia melakukan kesalahan yang tidak disengaja ataupun dengan kesengajaan dan juga apabila terdapat kesalahan dalam membaca dzikir dan wiridnya.

Kenyataan ini sering terjadi pada dzikir-dzikir tertentu yang membuat pemberi ijazah dzikir itu menjadi berhati-hati dalam memberikan ijazahnya kepada seseorang. Bahkan sekelompok ulama mensyaratkan umur 40 tahun bagi orang yang ingin membaca dzikir tertentu, seperti Hizib Nawawi, Hizib Nashr As-Sadzili dan beberapa dzikir tertentu lainnya. Hal ini insya Allah tidak terjadi pada AlWirdul Latif karena kelembutan ‘power’ yang ada didalamnya yang sangat berkonsentrasi pada keselamatan aqidah dan urusan dunia akhirat.

Bahasa Arab berbeda dengan Bahasa lainnya.sbahasa ini secara khusus dipilih oleh Allah SWT untuk menyampaikan wahyuNya. Wahyu merupakan ilmu dan pengetahuan abadi yang diekspresikan dalam Bahasa manusia. Bahasa ini menjadi media bagi sebuah perumpamaan yang membutuhkan pikiran yang mendalam agar terpenuhi dan tersingkap segala apa yang dimaksudkan dalam wahyu (tersirat dan tersurat). Oleh sebab itulah Ayat-ayat dan kata-kata dalam Hadits dapat mengandung berbagai makna. Hal ini dapat dimengerti dari Ilmu Wajuh wa Nadhar, yaitu ilmu yang membahas tentang kalimat yang mempunyai banyak arti dan makna apa yang dikehendaki oleh sesuatu ayat dalam Al-Qur’an.  Ilmu Amtsalil Qur’an, yaitu ilmu yang membahas tentang perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Qur’an.

Ayat-ayat tersebut dapat dipergunakan sebagai perlindungan dari segala macam kejahatan dan marabahaya, menyembuhkan penyakit, meningkatkan suatu kelebihan, untuk pergerakan, maupun untuk mendapatkan jawaban ataupun balasan sesuai dengan yang dijanjikan dalam setiap bait dari bacaannya. Karena itulah Muslim diseluruh dunia akan selalu membaca Al-Qur’an dan Al-Hadits dalam Bahasa aslinya yaitu Bahasa Arab, walaupun mereka tidak mengerti Bahasa itu. Hal ini untuk memastikan bahwa mereka tidak melewatkan rahasia dan keberkahan rangkaian ayat dan hadits tersebut, yang bisa saja jika hanya membaca artinya.

  1. Bagaimana cara mempertemukan AlWirdul latif yang notabene adalah sebuah wirid yang biasa didawamkan diluar lingkup non-akademisi dengan Zawiyah Jakarta yang merupakan sebuah institusi pendidikan? (Lihat pertanyaan yang diajukan oleh Ustadz H. Mohammad Adnan Lc, MA, LL.M)

Jawab:

Abuya memaparkan bahwa segala macam Ilmu itu berkumpul di al-Qur’an tapi ada sebagian ilmuwan yang menolak. Bahkan para liberalispun berpendapat bahwa Al-Qur’an turun ketika zaman jahiliyah untuk massa yang bodoh-bodoh. Sehingga Al-Qur’an pun tidah shahih likulli zaman wa makan.

Maka dengan AlWirdul Latif yang didalamnya mengeksiskan I’jaz dan Khawas Al-Qur’an dan AlHadits Abuya menanungi Zawiyah Jakarta untuk mengkaji, menelaah sekaligus mengamalkan AlWirdul Latif untuk bisa menjawab dan membuktikan persepsi salah yang dilontarkan oleh para ‘penginkar’ Al-Qur’an tersebut untuk selanjutnya disebarkan ke masyarakat luas.

Zawiyah Jakarta yang digagas oleh Abuya KH. Saifuddin Amsir merupakan ‘muara akademisi’ dan diramu secara tradisionalis. Sebelumnya Abuya sendiri sudah melahirkan At-Tamhid yang berarti persiapan. At-Tamhid ini dimaksudkan guna mempersiapkan orang-orang yang dapat memahami dan mengkaji Kitab-kitab salaf. Namun At-Tamhid ini yang hanya bisa diikuti oleh orang yang sudah bisa mengerti kaidah-kaidah Bahasa Arab. Namun selanjutnya Abuya membentuk Zawiah Jakarta sebagai tempat untuk mengkaji masalah keislaman secara lebih mendalam. (lihat pemaparan sebelumnya di sub A).

Dengan berbagai macam pengalaman yang sudah dilalui oleh Abuya, beliau belum merasakan dapt menjebol tirani yang mengekang Al-Qur’an untuk menglahkan zionisme yang ‘rembesannya’ sangat kuat terimplementasi pada Perguruan Tinggi yang ada termasuk Departemen Agama.

Zawiyah Jakartapun diharapkan dapat menjadi sebuah penjagaan kualitas dari silsilah wirid-wirid yang menjadi kekuatan utama dalam gerbang ummat Islam menghadapi berbagai permasalahan ummat.

  1. Jika dirunut secara dalam, Yahudilah pencetus pertama dari penerapan system Ekonomi Islam dalam dunia perbankandan juga permasalahan lainnya yang ada di dunia Islam. Lalu apa peran AlWirdul Latif untuk mengatasi masalah ‘teracak-acaknya’ yang dilakukan oleh Yahudi dan pengikutnya tersebut? (Lihat pertanyaan yang diajukan oleh Ustadzah Raihanatul Quddus MSi)

Jawab:

Begitu banyak aksi negatif yang dilancarkan oleh para pengkritisi dari berbagai golongan yang memandang Islam dan beraneka ragam atribut keislaman secara skeptic dan bahkan melihatnya sebagai sesuatu yang negatif.  Dan cara-cara seperti ini bisa dikategorikan sebagai langkah lanjutan dari upaya yang Yahudi lakukan untuk menggerogoti Islam.

Maka Zawiyah Jakarta mencoba eksis dengan ambil bagian dan berusaha untuk meluruskan itu. Dengan cara menelusuri lebih dalam I’jaz dan Khawas Al-Qur’an dan Al-Hadits yang dapat menjawab antitesa-antitesa para ‘pengkritisi’ Islam tersebut dan menjadikan mata kuliah I’jaz Qur’an wa Hadits dan Khawas Qur’an wa Hadits sebagai mata kuliah utama. Dan yang ingin ditonjolkan disini adalah Al-Qur’an baik dari sisi filsafatnya, I’jaznya maupun Khawasnya (kekuatan supranaturalnya) untuk mengantisipasi otoritas-otoritas liberalisme yang sangat didasari oleh pemikiran zionistis.

Karena Al-Qur’an shahih likulli zaman wa makan, dan apakah mereka bisa dan sanggup untuk memunculkan hal yang serupa dengan Al-Qur’an?

Melalui Zawiyyah Jakarta ini mari kita memperkokoh keimanan kita, dan eksistensi kita. Jangan hanya menguatkan iman tetapi eksistensi tidak, jangan hanya eksistensi tetapi identitas kita hilang, dua-duanya harus kita jaga.

Resep untuk mensucikan atau menjernihkan hati yang telah berlumur kotoran hitam kelamnya dosa ini, sebagaimana sabda Rasulullah :

“Segala sesuatu itu ada alat pencuci dan pembasuh. Dan adapun alat pencuci hati seorang mu’min dan membasuhnya dari kotoran yang*sudah melekat / sudah berkarat itu dengan membaca Sholawat kepada-Ku”. (Saaadatud Daroini hal: 511).

“Sesungguhnya hati ini benar-benar berkarat dan sesungguhnya [cara] menjernihkannya adalah [dengan] membaca Al Quran, mengingat mati dan menghadiri majelis-majelis zikir.”

Oleh karena itu upaya yang dihadirkan untuk memperkenalkan AlWirdul Latif ini dengan menerbitkan VCD Syarah AlWirdul Latif yang sekarang ada dihadapan saudara/I dan juga ada langkah lain agar AlWirdul Latif ini senantiasa diamalkan tidak hanya oleh para murid Abuya KH. Saifuddin Amsir dan juga peserta dari Dzikir bersama, Istigotsah, dan momentum pemberian ijazah tetapi juga dapat diamalkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Marilah sama-sama kita bangun dan dukung mudah-mudahan apa yang Abuya KH. Saifuddin Amsir cita citakan tercapai adanya. Amin Yaa RAbbal ‘Alamiin.

Kelanjutan dari pensyarahan, merekamnya dalam DVD ini, diperkuat dengan terbitnya kitab yang berjudul “al-Qur’an I’jazan, Khawasan wa Falsafatan” yang ada dihadapan saudra/I. Kitab ini  sarat dengan dalil-dalil yang menunjang kekuatan kandungan wirdul latif secara ilmiah. Dan ini merupakan edisi penulisan pamungkas dari kitab-kitab:

  1. Al-Furu’ wal Masail yang memuat berbagai persoalan agama
  2. Kitabul Ikhtilaf
  3. Kitabul I’tilaf yang ruhnya ada di dalam wirdul latif  yang dipadukan dengan munajat Imam Ali Zainal Abidin ini.

Adalah suatu keharusan untuk mengucapkan syukur kehadirat Ilahi Rabbi, karena Rahman dan Rahim-nyalah sehingga semangat untuk berbagi kepada ummat hadir dihadapan saudara/I sekalian. Dan tentu saja ini tidak luput dari tokoh-tokoh yang menginspirasi Abuya agar menelaah apa yang terkandung dibalik I’jaz,  Khawas, dan Falsafah Al-Qur’an.

Dan terima Kasih banyak kami ucapkan kepada para mahasiswa/I Ma’had Aly Zawiyah Jakarta yang terlibat dalam penyusunan kitab ini, juga kepada para pihak yang terlibat dalam penyempurnannya.

Dalam pengembangan kitab ini peran Jakarta Islamic Center (JIC) dibawah pimpinan bapak Drs. H. Muhayat sekaligus Koordinator Majlis Ta’lim Al-Fauz Gubernur Jakarta DR. Ing H. Fauzi Bowo menjadi sangat penting. Disamping itu DEPAG yang memilih Abuya untuk menjadi salah seorang dewan juri pada Musabaqah Qiraatul Kutub (Mufakat) untuk mengujikan peserta kajian materi Tafsir pada Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional yang diselenggarakan di Nusa Tenggara Barat pada 18 s/d 24 Juli 2011. Begitu juga kepada elemen terkait yang berwenang.

Jazakumullah Khairaan Katsiraan.

 

Betawi, Juli 2011

 

  ALWIRDUL  LATHIF

SYARAH dan TERJEMAHNYA

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Al-Wirdul Latif ini dimulai dengan bacaan Basmalah.

  • Mulailah sesuatu dengan membaca basmalah karena jika tidak akan berkurang lah keberkahannya.

قُلْ هُوَ اْللهُ أَحَدٌ، اَللهُ اْلصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يٌوْلَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ. (ثلاثا)

 

Surat Al Ikhlas (3X)

 

“Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadnya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

 

  • Dari Imam Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-khudri; seseorang mendengar bacaan surah Al-Ikhlas berulang-ulang di masjid. Pada keesokan paginya dia datang kepada Rasulullah SAW. dan sampaikan perkara itu kepadanya sebab dia menyangka bacaan itu tidak cukup dan lengkap. Rasulullah SAW berkata, “Demi tangan yang memegang nyawaku, surah itu seperti sepertiga al Quran!” Rasulullah mengibaratkan Al-Ikhlas seperti 1/3 Al-Qur’an. Maka barang siapa yang membaca surat Al-Ikhlas 3x maka seperti dia membaca seluruh Al-Qur’an.
  • Nabi SAW bersabda: apakah ada seseoang diantara kalian yang mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari? (rangkaian dari hadits yang sebelumnya).
  • Dari Al-Muwatta’, diriwayatkan oleh Abu Hurairah; Saya sedang berjalan dengan Rasulullah SAW, lalu baginda mendengar seseorang membaca surah Al-Ikhlas. Baginda berkata, “Wajiblah.” Saya bertanya kepadanya, “Apa ya Rasulallah?” Baginda menjawab, “Syurga” (Wajiblah syurga bagi si pembaca itu).
  • Dari Aisyah RA, bahwasanya Nabi Muhammad SAW mengutus seseorang dalam perjalanan. Lelaki itu didalam shalatnya mengakhirinya dengan Qul HuwaAllahu Ahad, maka ketika mereka kembali mereka menyebutkan hal itu kepada Baginda Nabi SAW, maka Nabi pun bersabda untuk menyakannya mengapa ia melakukan hal itu? Merekapun menanyakannya, dan dia pun menjawab “sesungguhnya pada surat (Al-Ikhlas) terdapat sifat Ar-Rahman,dan saya suka membacanya. Maka Rasulullah SAW bersabda: kabarkanlah kepadanya bahwa Allah menyukainya.

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، مِنْ شَرِّ ماَ خَلَقَ، وَمِنْ شَـرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، وَمِنْ شَـرِّ النَّـفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِنْ  شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ.   (ثلاثا)

 

Surat Al Falaq (3X)

 

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai Subuh, Dari kejahatan makhluknya, Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”

 

 

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَهِ النَّاسِ، مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ اَلَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ. (ثلاثا) 

 

Surat An Naas (3X)

 

“Katakanlah: aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia, Sembahan manusia, Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, Yang membisikan (kejahatan) kedalam dada manusia, Dari (golongan) Jin dan manusia.”

 

قال : قل هو الله أحد والمعوذتين حين تمسي وحين تصبح ثلاث مرات تكفيك من كل شئ ”

  • Sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yg membaca Al Ikhlas dan Alfalaq dan Annaas masing masing 3X ketika sore dan pagi maka ia akan terjaga dari segala sesuatu” (Berkata Tirmidziy ini hadits hasan shahih).
  • Inti kedua surat ini (Al-Falaq dan An-Nas) adalah surat untuk meminta perlindungan kepada Allah dari segala keburukan, kejahatan dan penyakit, dengan menyebut sifat-sifat Allah yang terdapat di dalamnya. Rabbunnas, Malikinnas, Ilahinnas, Rabbulfalaq, oleh karena itu Rasulullah menamakan kedua surat ini dengan Mu`awwidzatain. Mua`awizdatain -yang melindungi- adalah dua surat yang banyak memiliki keutamaan. Rasulullah SAW sering menyebutkan keutamaan-keutamaanya dalam hadits, walaupun suratnya pendek tapi memiliki kandungan makna dan keutamaan yang sangat luar biasa.
  • Aisyah  RA menerangkan: bahwa Rasulullah SAW pada setiap malam apabila hendak tidur, Beliau membaca Surat Al-Ikhlas, Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas, ditiupkan pada kedua telapak tangan kemudian disapukan ke seluruh tubuh dan kepala.
  • Diriwayatkan daripada Aisyah RA katanya: Rasulullah SAW biasanya apabila ada salah seorang anggota keluarganya yang sakit, Rasulullah SAW menyemburnya dengan membaca bacaan-bacaan. Sementara itu, ketika beliau menderita sakit yang menyebabkannya wafat, aku juga menyemburkannya dan mengusap Rasulullah SAW dengan tangan beliau sendiri, kerana tangan beliau tentu lebih banyak berkatnya daripada tanganku.
  • Sayyidina Ali R.A. menerangkan: pernah Rasulullah SAW. digigit kalajengking, kemudian Beliau mengambil air garam. Dibacakan Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas lalu disapukan pada anggota badan yang digigit kala tadi.
  • ‘Uqbah bin’ Amir menerangkan, ketika saya sesat jalan dalam suatu perjalanan bersama dengan Rasulullah SAW, Beliau membaca Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas dan akupun disuruh Beliau juga untuk membacanya
  • Dari Tirmidhi diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri; Nabi Muhammad SAW selalu meminta perlindungan daripada kejahatan jin dan perbuatan hasad manusia. Apabila surah Al-Falaq dan An-Nas turun, beliau sampingkan yang lain dan membaca ayat-ayat ini saja.

 

رَبِّ أَعُوذُ بِـكَ مِنْ هَمَـزَاتِ الشَّيَـاطِينِ، وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُـرُونِ. (ثلاثا)

 

Surah 23: Al-Mu’minun Ayat 97-98

 

“Dan katakanlah wahai Tuhan aku berlindung pada-Mu dari bisikan dan godaan syaitan, dan aku belindung dari kehadiran mereka (3x).”

 

 Doa meminta perlindungan dari hamazat syetan

Hamazat Syetan atau was-was merupakan ajakan-ajakan yang timbul dihati untuk melakukan sesuatu yang seharusnya manusia tinggalkan. Setan tidak hanya membisiki suara-suara tetapi juga memberikan imaginasi dan khayalan (seperrti alunan musik, film, dan berbagai macam yang menghibur) yang memasuki relung hati dan dapat merusak hati dari keimanan jika manusia terus mengikuti hamazat tersebut.

Sebenarnya apa saja yang telah kita lakukan selama ini?; bagaimana kita menghabiskan hari-hari kita?; apakah dengan bermain dan bersenang-senang dan yang serupa dengan itu?….. Pada hakikatnya apakah kita dapat membeli kehidupan kita di dunia? Misalnya: jika kita menjual ginjal kita berapa harga yang kita mau berikan? Dan bagaimana jika itu tentang seluruh bagian dari tubuh kita dan hidup kita? Apakah kita hanya akan menyia-nyiakan diri kita dan waktu hidup kita? (tanpa mengingat Allah SWT, dst).

Allah tidak hanya menganugrahkan hambanya hidup tetapi juga iman, sehat, dan lain-lainnya. Lalu bagaimana kita akan membalasnya. Hal ini tidak berarti Islam tidak memberikan kesempatan untuk berehat ataupun menikmati hidup sendiri Karena sesungguhnya Allah telah menciptakan dan memberikan mubahat. Jika kita melihat pada masa nabi Muhammad SAW, ketika seorang sahabat dari golongan Anshor menikah terdapat nyanyian yang menghiasi pernikahan tersebut dan Nabi tidak melarangnya. Namun jika kita melihat pada masa kemudian hingga kini begitu banyak hiburan ada setiap saat dan dimana saja dan kebanyakan dari manusia tidak mau berhenti dari mencari kenikmatan dunia/ lahwun.

Maka ini adalah doa yang dipanjatkan semoga kita terhindar dari hamazat syetan yang tidak pernah berhenti mengganggu manusia sehingga senantiasa hawa nafsunya terjjerat dengan lahwun.

 

 أَ فَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاَ وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لاَ تُرْجَعُـوْنَ. فَتَعَالَى اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ. وَ مَنْ يَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهاً آخَرَ لاَ بُرْهَانَ لَهُ بِـهِ، فَإِنَّمَا حِسَـابُهُ، عِنْدَ رَبّـِهِ، إِنَّـهُ لاَ يُفْلِحُ الْكَافِـرُوْنَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

 

Surah 23: Al-Mu’minun Ayat 115-118

 

“Apakah kalian mengira sesungguhnya kalian ini diciptakan dengan sia-sia dan sungguh apakah kalian mengira kalian tidak akan dikembalikan kepada kami. Maka Maha Luhurlah Allah, maha Raja, Maha Benar, tiada Tuhan selain-Nya, Maha Pemilik Arsy yang agung. Dan barang siapa yang menyeru kepada selain Allah SWT berupa Tuhan yang lain maka dia tidak akan mendapatkan petunjuk dan kemuliaan dan sungguh perhitungannya kelak disisi Allah SWT, sungguh Dia Allah tidak akan membuat orang-orang kafir mendapat keberuntungan. Dan katakanlah wahai Tuhanku ampunilah dan kasihanilah kami dan Kau lah sebaik-baik yang menyayangi.”

 

  • Ayat-ayat tersebut merupakan ayat yang sering dipakai dalam wirid-wirid lainnya untuk menghilangkan bahaya sihir.
  • Rasul saw menasihati kami dalam suatu peperangan, maka kami diperintahkan membaca diwaktu sore dan pagi : AFAHASIBTUM ANNAMA…, maka kami membacanya, dan kami pulang dengan kemenangan dan ghanimah (HR Ibn Sunniy)

فقرأنا ، فغنمنا وسلمنا.

 فَسُبْحَانَ اللهِ حِيْنَ تُمْسُوْنَ وَحِيْنَ تُصْبِحُوْنَ. وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِيْنَ تُظْهِرُوْنَ.  يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ،  وَيُحْيِ الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذَلِكَ تُخْرِجُوْنَ.

Surah 30: Ar-Rum Ayat 17-19

 

 

Maka Maha Suci Allah SWT mulai sore hari hingga malam hari. Dan milik-Nya lah segala puji disetiap tingkatan-tingkatan langit dan bumi sepanjang petang dan ketika kalian dimunculkan. Allah SWT mengeluarkan dari yang mati, mengeluarkan kehidupan dari kematian dan mengeluarkan kematian dari kehidupan, dan menghidupkan bumi setelah kematiannya, dan demikianlah mereka akan dikeluarkan kelak di hari Kiamat.

 

  • Berkata Ibn Abbas ra dari Rasulullah saw: “Barangsiapa yang berkata dipagi hari: “FASUBHANALLAHI HIINA TUMSIY… (QS Arrum 17-18), maka Allah akan mengembalikan apa-apa yang hilang darinya dihari itu, dan barangsiapa yang membacanya di sore hari maka Allah akan mengembalikan apa-apa yg hilang darinya di malam hari (hilang darinya bisa berupa pahala yg tercabut, rizki yg tertahan dll) (HR Abu Dawud)
  • Nabi Ibrahim AS diberi gelar Kholil Ar-Rahman karena selalu membaca ayat-aat ini 3 kali setiap pagi dan petang.
  • Surat Ar-Rum ayat 17-18 menyebutkan waktu untuk bertasbih; tumsuna pada solat asar; tushbihuna pada solat shubuh; ’asyiyyan pada sholat maghrib dan ‘isya; dan tuzhhiruna pada sholat Zuhur.
  • Surat Ar-Rum ayat 19 dapat ditafsirkan bahwa terdapat siklus kehidupan; hati ini bisa terbolak-balik; iman bisa datang dari kufr dan sebaliknya; hati yang telah mati dapat kembali kepada cahaya yaitu dengan mengingat Allah.

 

 

أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم.ِ   (ثلاثا)

 

 

Aku berlindung kepada Allah SWT yang Maha mendengar dan Maha mengetahui daripada syetan yang terkutuk (3x).

  • Dari Abu Daud diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri: “Apabila  Rasulullah SAW. sembahyang tahajjud, selepas beliau bertakbir, baginda membaca: “Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar dan Lailaha illallah, tiga kali kemudian beliau mengucap: “Aku berlindung dengan Allah, Yang Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui dari bisikan syaitan yang terkutuk, dari bisikannya, godaannya dan ludahnya

 

 

لَوْ أَنْزَلْنَـا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًـا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ، وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ. هُوَ اللهُ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهاَدَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ. هُوَ اللهُ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلاَمُ الْمُؤْمِـنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ، سُبْحَانَ اللهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ. هُوَ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ، لَهُ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى،  يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيمُ.

 

Surah 59: Al-Hashr Ayat 21-24

 

Kalau sekiranya kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. Dia-lah Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai nama-nama, Yang paling baik. Bertasbih kepadanya apa yang ada dilangit dan dibumi. Dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

 

 

  • Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan ketika berada di waktu pagi; A’UDZUBILLAHIS SAMI’IL ‘ALIM MINASY SYAITHANIR RAJIM dan tiga ayat dari akhir surat Al Hasyr, maka Allah akan menugaskan tujuh puluh ribu malaikat untuk memintakan ampun untuknya hingga ia berada di waktu sore. Dan jika ia membacanya di waktu sore, maka Allah akan menugaskan tujuh puluh ribu malaikat untuk memintakan ampun untuknya juga hingga ia berada di waktu pagi.” (Musnad Ahmad,19419).
  • Sabda Nabi SAW: ”Barangsiapa yang membaca akhir surah Al-Hasyr dari waktu malam atau siang maka dipegang erat (dijaga rapi oleh Allah SWT) pada hari itu, ataupun dibaca ayat itu pada malam hari maka sesungguhnya ia mesti dapat syurga”.
  • Sabda Nabi SAW: “ barang siapa membaca tiga ayat terakhir dari surat Al-Hasyr pada pagi hari dan mati pada hari itu maka kedudukannya sama dengan para syuhada.
  • Dari Abu Hurairoh RA, sesungguhnya aku bertanya kepada kekasihku Abu Qasim SAW mengenai nama-nama Allah Yang Maha Agung, maka Rasulullah SAW pun menjawab: atasmu akhir surat Al-Hasyr perbanyaklah membacanya.”
  • Ayat-ayat ini menjelaskan teori Bigbang
  • Sebagian ulama menafsirkan bahwa kata jabal dalam surat Al-Hasyr: 21 berarti Alam. Karena makhluq jika diurutkan menurut tingkat kebesarannya, maka syurga menempati urutan pertama, diteruskan alam dunia, gunung ….dst. Namun Allah menurunkan Al-Qur’an kepada makhluqnya menurut tingkat kebesarannya tetapi Allah SWT menurunkan kepada makhluqnya yang menempati maqam yang paling tinggi yaitu Nabi Muhammad SAW.
  • Khosyatillah disini berarti takut kepada Allah karena dia memiliki pengetahuan akan kebesaran Allah. Ini berbeda arti dengan khouf yang artinya hanya takut. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: Ana Akhsyaakum Lillah. Begitu juga dengan para ulama dan orang-orang yang mengenal dan mempelajari Al-Qur’an akan membawanya kepada kekhusyuan dan penuh kehambaan kepada Allah SWT.

 

KHUSYU’

  • Pertama-tama harus kita ketahui bahwa Allah tidak pernah memerintahkan kita untuk khusyu’ dalam shalat. Dalam Al-Qur’an maupun hadits tidak ada satu kalimat pun yang berbentuk fi’il ‘amr (kalimat perintah) tentang khusyu’. Kenapa? Karena Allah Maha Tahu bahwa manusia memang mengalami kesulitan untuk bisa khusyu’ sekalipun dia itu seorang ulama atau kiai. Memang belum ada pakar tentang khusyu’ dalam sejarah intelektual Islam yang benar-benar representatif. Bentuk kata khâsyi’ûn, adalah bentuk fa’il, bukan kata perintah tetapi semacam penghargaan luar biasa bahwa Anda termasuk orang-orang khusyu’. Karena itu, Anda sebagai fa’il, atau pelaku khusyu’.
  • Lalu bagaimana caranya khusyu’? yaitu ketika Anda menyadari bahwa shalat Anda tidak khusyu’ itu adalah takdir dari Allah. Terimalah takdir Allah saat itu bahwa Anda tidak atau belum ditakdirkan khusyu.” “Ya Allah, aku terima bahwa saat ini aku belum bisa khusyu’.” Kelak Anda dihantar khusyu’ oleh Allah. Jadi khusyu’ itu lebih sebagai al-ahwâl itu sendiri.
  • Apakah al-ahwâl itu? Jika disebut: La haulâ walâ quwwata illâ billâh, artinya: “Tidak ada kekuatan secara batin dan kekuatan lahir kecuali bersama Allah.” Karena dari kalimat haulun ini berkembang jamaknya menjadi ahwâl. Ini adalah kondisi ruhaniah, ketika kita khusyu’, masuklah di dalam ahwâl al-qalb, karena itu merupakan gerak-gerik hati kita. Khusyu’ itu tentu bersemayam di dalam hati, bukan dalam tingkah laku. Jika Anda berjalan dengan menekuk leher Anda, menunduk, itu tidak bisa dibilang bahwa Anda orang yang khusyu’. Dulu ada seorang pemuda yang seperti itu, lalu dibentak oleh Sayyidina Umar RA: “Hai fulan, khusyu’ itu bukan di situ” (khusyu’ itu di dada anda).
  • Jadi, khusyu’ pada akhirnya membutuhkan elemen-elemen yang mendukung. Dukungan khusyu’ itu antara lain al-khudhû’. Artinya ketundukan hati kepada Allah. Orang khusyu’ juga harus mempunyai perasaan at-tawakkul (kepasrahan). Artinya ketika kita shalat, dzikir menghadap Allah, mestinya hati kita juga harus pasrah menghadap kepada Allah. Jiwa Anda, bagaikan sajadah yang Anda gelar. “Ya Allah, inilah saya, apa adanya, kupasrahkan lahir batin saya kepada-Mu …”
  • Anda, jangan menghadap Allah, seperti orang yang mengajukan proposal: “Ya Allah, sudah sekian tahun saya sujud, dzikir, wirid, tahajud, maka saya mohon dipenuhi permintaan saya …” Pada saat itu seseorang merasa menutupi kelemahannya. Dia melebih-lebihkan dirinya, padahal Allah itu butuh ash-shidqu (kejujuran hati), bukan kejujuran mulut. Allah Maha senang kepada orang-orang yang jujur di hadapan-Nya. “Ya Allah, saya ini lebih banyak jeleknya daripada baiknya …” Tuhan, Allah lebih senang kepada orang seperti itu, daripada yang mengatakan: “Ya Allah, saya sudah melakukan ini dan itu…, namun do’a saya belum juga dikabulkan…” Lebih baik bicara apa adanya kepada Allah. Itulah antara lain usaha khusyu’.

 

  • Kata Al-Ghoib dan As-Syahadah pada surat Al-Hasyr ayat 22 berarti Allah maha mengetahui segala apa yang tampak dan tidak tampak. As-syahadah juga dapat diartikan persaksian. Semua yang dapat terlihat mengucapkan kalimat Laa ilaha illa Allah. Maka bagaimana mungkin seseorang tidak bisa percaya kepada Allah. Ini merupakan sesuatu yang aneh karena didalam setiap pergerakan, dan sebagainya pasti ada persaksian yang menyaksikan “annahu waahid”, (Sesungguhnya Dialah Satu). Itulah apa yang dipersaksikan oleh makhluq di seluruh alam raya ini baik yang tampak maupun tidak tampak.
  • Surat Al-Hasyr ayat 24 menyiratkan 3 fase penciptaan yang ada pada asma Allah Al-Kholiq, al-Bari’, dan Al-Mushowwir. Al-Kholiq berarti Allah sebagai Pencipta. Peranannya sebagai Ilah; ketika ciptaannya itu terwujud maka menjadi Al-Bari’ (sebagaimana yang sering disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah khoirul bariya); dan ketika makhluq itu memasuki tahap penciptaan secara detail (seperti jika pada manusia yang mempunyai otak, daging, tulang, darah, cara tubuh berfungsi, dst) maka Allah adalah Al-Mushowwir. Menurut Imam Al-Ghazali: akal manusia hanya bisa mengerti fase itu satu persatu. Sedangkan ilmu Allah menembus multiphase itu sekaligus sehingga penciptaan itu terjadi. Multi fase itu ada pada Asma’ul Husna.

سَلاَمٌ عَلَى نُوْحٍ فِي الْعَالَمِيْنَ. إِنَّا كَذَلِكَ نُجْزِي الْمُحْسِنِيْنَ

إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْن    

 

Surah 37:Al-Saffat Ayat 79-81

 

Salam sejahtera atas Nabi Nuh dialam semesta. Sungguh demikianlah Kami memberi balasan kemuliaan kepada orang-orang yang beramal baik. Dan sungguh Nabi Nuh as itu adalah di antara hamba- hamba kami yang beriman.

  • Barangsiapa yang berkata: salamun ala nuhin fil alamiin…dst, maka ia tak akan disengat kalajengking dan ular” (Alkassyaaf wal bayaan lil Imam Attsa’labiy).
  • Menurut Syeikh Hamzah Yusuf Surat As-Saffat: 79-81 yang menerangkan tentang kejadian pada masa Nabi Nuh As juga dapat dianalogikan pada masa kita saat ini. Dahulu Nabi Nuh AS diuji dengan hinaan dari kaumnya lalu mempersiapkan bahtera guna menyelamatkan diri dari banjir besar. Kita sebagai ummat Nabi Muhammad SAW pada akhir zaman ini pun sedang mempersiapkan bahtera kita dengan amalan-amalan untuk menghadapi bencana (banjir). Di mana ketika kita mulai berbicara tentang kebenaran maka orang lain pun mulai mentertawakanmu; ketika kita mulai mempersiapkan perahu (amal ibadah) kita untuk akhirat maka orang-orang mulai mentertawakan dan mengira kita bodoh. Bahkan ada orang-orang muslim yang menganggap kita bodoh karena percaya kepada akhirat-walaupun sebenarnya merekapun percaya akan akhirat- tetapi jika keadaannya demikian, hal ini menyiratkan bahwa sesungguhnya mereka tidak siap dengan adanya kebenaran akhirat. Namun Allah lah yang akan menyelamatkan orang-orang yang ihsan dari bencana tersebut.

 

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ.     (ثلاثا)

 

Aku berlindung dengan kalimat Allah swt yang Sempurna dari keburukan-keburukan ciptaannya.” (Hadits)

 

  • Dari Abu Hurairah R.A: “datang seorang lelaki kepada Nabi SAW dan berkata: wahai Rasulullah, aku semalam disengat kalajengking, maka Rasul SAW bersabda: Jika kau berdoa di sore hari (atau pagi): Audzu bikalimatillahittammaati min syarri maa khalaq, maka tak akan menyakitimu” (HR Muslim). Pada riwayat Ibn Sunniy dijelaskan 3X
  • Dari Abu Dawud dan Tirmidhi, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang membaca doa ini tiga kali, tiada apa-apa malapetaka akan terjatuh atasnya.”

 

 

 بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ أسْمِهِ  شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.      (ثلاثا)

 

“Dengan nama Allah yang tiada akan membawa mudhorot dosa apapun yang ada dilangit dan dibumi dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (3x) (Hadits)

  • Diriwayatkan oleh Ibn Sunniy dan Attirmidziy, dari Utsman bin Affan RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tiadalah seorang hamba berdoa di pagi setiap hari dan sore setiap petang: Bismillahilladzi….(dst) sebanyak 3X maka ia tak akan diganggu sesuatu”. Berkata Imam Tirmidziy hadits ini hasan shahih, dan ini lafadh riwayat Tirmidzy.

 

  • Pada lafadh riwayat Abu Dawud: “Barangsiapa yang membacanya maka ia tak akan mendapat musibah yang datang tiba-tiba/dikagetkan musibah.”

 

الَّلهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ مِنْكَ فِي نِعْمَةٍ وَعَافِيَةٍ وَسِتْرٍ، فَأَتْمِمْ نِعْمَتَكَ عَلَيَّ وَعَافِيَتَكَ وَسِتْرَكَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ.   (ثلاثا)

 

“Wahai Allah sungguh aku melewati pagi ini dari-Mu dalam kenikmatan, dalam kesembuhan dan afiah, dalam perlindungan maka sempunkanlah nikmatan-Mu atasku dan kesembuhanMu yang Kau berikan kepadaku dan lindungilah aku didunia dan akhirat.” (Hadits)

 

  • Dari Ibn Abbas ra barangsiapa yang berdoa: Allahumma inniy Ashbahtu….dst, 3X dipagi hari dan di sore hari, maka merupakan kepastian bahwa Allah SWTS akan menyempurnakan baginya hari itu. (HR Ibnussunniy dari Ibn Abbas RA)

 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلاَئِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ.   (أربعا)

“Wahai Allah sungguh aku melewati pagi ini disaksikan oleh-MU dan disaksikan oleh para penopang ArsyMu dari pada para Malaikat dan seluruh MalaikatMu dan seluruh ciptaanMU, mereka semua menyaksikan aku, bahwa sungguh Engkau adalah Allah yang tiada Tuhan selainMu yang Maha Tunggal dan tiada sekutu bagiMu, Dan sungguh Sayyidina Muhammad adalah hambaMu dan RasulMu. (mengucapkan syahadat disaksikan oleh seluruh Malaikat dan seluruh makhluk).” (Hadits)

 

  • Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad jayyid (baik) dan ia tidak mendhoifkannya, dari Anas ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yg berdoa ketika pagi atau sore: Allahumma Inniy Ashbahtu Usyhiduka…dst, maka Allah bebaskan seperempatnya dari neraka. Jika ia membacanya 2X maka Allah bebaskan setengah tubuhnya dari neraka, jika ia membacanya 3X maka Allah bebaskan tiga perempat tubuhnya dari neraka, barangsiapa membacanya 4X maka Allah bebaskan ia dari neraka. (Fathul Baari bisyarh Shahih Bukhari)
  • Menurut sebagian ulama kalimat ini diulang sampai empat kali sehingga hurufnya mencapai 360 (huruf) dan anak adam terdiri atas 360 anggota tubuh, maka Allah akan membebaskan semua bagian tubuhnya dengan huruf-huruf itu. (inilah apa yang dimaksud dengan husnul khotimah). Ini seperti yang dinukilkan dari As-Sayid Al-Jalil Ahmad bin ‘Alawi Jamalullail Bahsan Ba’alawi.

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْداً يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ.  (ثلاثا)

Segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam, pujian yang mencakup seluruh kenikmatannya dan mencakup seluruh kelebihan kenikmatan.” (3x) (Hadits)

 

  • Dari Muhammad bin Annadhr RA berkata: Berkata Adam AS: “Wahai Tuhan, aku disibukkan pekerjaanku, maka ajarilah aku sesuatu yg menjadi perpaduan pujian dan tasbih”, maka Allah SWT wahyukan padanya: “Wahai Adam, jika di pagi hari maka ucapkanlah 3X: Alhamdulillahi…dst. Maka Itu adalah kumpulan pujian dan Tasbih. (Addurrul Mantsur Lilhafidh Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy, dan adzkar shabah wal masa’ Linnawawiy).
  • Dan yang dimaksud dengan “…..yuwaafii ni’amahu…” adalah bertasbih dengan pujian yang setimpal dengan banyak nikmat-Nya dan pujian dengan menggunakan hak nikmat tersebut.

آمَنْتُ بِاللهِ العَظِيْمِ، وَكَفَرْتُ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوْتِ، وَاسْتَمْسَكْتُ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى، لاَ اَنْفِصَامَ لَهاَ، وَاللهُ سَمِيْعٌ عَلِيمٌ.  (ثلاثا)

Surah Al-Baqarah Ayat 256;

 

Segala Puji bagi Allah yang Maha Agung, dan aku berpaling dari pada semua kejahatan dan sesembahan selain Allah dan aku berpegang teguh dengan tali yang erat, dan Allah Maha Mendengar dan MahaMmengetahui.” (3x). (Hadits)

 

  • Dijelaskan pada attarghiib wattarhiib bahwa dzikir ini jika dibaca 3x di pagi hari dan sore maka akan menjaga dari gangguan Jin.
  • Dari Bukhari, diriwayatkan oleh Abdullah ibn Salam, yang menceritakan satu peristiwanya kepada Rasulullah SAW. lalu beliau berkata, “Surga itu Islam, dan berpeganglah pada Pegangan Yang Teguh (urwat al-wuthqa) supaya kamu sentiasa menjadi seorang muslim sampai kamu mati.”
  • Doa pelindung supaya aman dari Syirik.
  • Yang dimaksud dengan al-‘Urwat al-Wutsqo disini adalah Al-Qur’an Al-Hadits dan agama Islam.

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبـًّا، وَ بِالإِسْلاَمِ دِيْنـًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا وَرَسُولاً.     (ثلاثا)

Ku ridho dengan Allah sebagai Tuhan dan Islam sebagai agama dan Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul.”  (3x). (Hadits)

  • Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yg berucap di pagi hari dan sore: Radhiina…, kecuali telah berhak Allah meridhoinya” (HR sunan Abu Dawud).
  • Dari Abu Daud dan Tirmidzi; Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesiapa berdoa setiap pagi dan petang dengan doa ini akan masuk ke syurga.”  Surah 3: Ali-Imran: 19: Sesungguhnya agama (yang benar dan diridoi) di sisi Allah ialah Islam.

 

حَسْـبِيَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَ هُـوَ عَلَيْـهِ تَـوَكَّلْتُ وَهُـوَ رَبُّ العَرْشِ العَظِيْـمِ. (سبعاً)

 

Cukuplah bagiku Allah, Tiada Tuhan selain-Nya, kepada-Nya aku bertawakal dan Dialah pemilik Arsy yang Agung.”

 

Surah 9 al-Taubah ayat 129

 

  • Dari Abu Darda RA: barangsiapa di pagi hari atau sore membaca Hasbiyallah…dst 7 kali, maka Allah akan melindunginya dari apa-apa yang dirisaukannya, apakah ia membacanya dengan kesungguhan atau tidak dengan kesungguhan. (HR Abu Dawud).
  • Ada beberapa cara agar pintu syurga terbuka untuk kita. Salah satunya dengan mendawamkan bacaan HasbiyAllahu, La ilaha illa huwa, Alaihi Tawakkaltu” 7 kali pada pagi dan sore hari, maka dia akan memperoleh apa-apa yang diharapkannya di dunia dan di akhirat. (Ibn As-Sunni (no. 71), Abu Dawud 4/321)
  • Dari Tirmidhi, diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri; Rasulullah SAW. bersabda, “Bagaimana saya bisa tenang sedangkan sangkakala telah menempel di mulutnya (Malaikat Israfil), membuka telinganya dan tunduk kepalanya, menunggu perintah untuk meniup? Ditanya lagi, apa pula arahan baginda, “Cukuplah Allah sebagai pelindungku dan Dia lah sebaik-baik penjaga.” Disini hamba mengakui dan percaya bahwa hanya Allah lah yang dapat membelanya, mengasihinya dan memenuhi segala kebutuhannya.
  • Surat At-Taubah: 128-129 mengandung unsur I’jaz Adadi Bilangan Prima.[13]

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.          (عَشرًا)

 

Ya Allah limpahkanlah sholawat untuk Sayyidina Muhammad dan keluarganya dan sahabatnya dan limpahkan baginya salam.

 

  • Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah bin Amr bin Al ’As:  Rasullulah SAWs. bersabda: “Sesiapa meminta Allah berselawat kepadaku, Allah akan membalas keatasnya dengan sepuluh kali selawat.”
  • Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang bershalawat padaku ketika pagi dan petang 10 kali maka dia akan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat.”
  • Surah 33; Al-Ahzab: 56: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat (memberi segala penghormatan dan kebaikan) kepada Nabi (Muhammad SAW); wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya..”

 

 اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فُجَاءَةِ الْخَيْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فُجَاءَةِ الشَّرِّ.

 

Wahai Allah sungguh aku minta kepadaMU kejutan kebaikan dan aku berlindung kepada-Mu dari kejutan- kejutan yang buruk. (Hadits)

 

  • Dari Anas RA bahwa Rasulullah SAW berdoa dengan doa doa ini jika pagi dan sore : Allahumma inniy as’aluka…dst, sungguh seorang hamba tak tahu apa yang akan menimpanya dipagi atau sore” (Musnad Abi Ya’la Almuushiliy)

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ، وَ أَناَ عَبْدُكَ، وَأَناَ عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. أَعُوْذُ بِـكَ مِنْ شَرِّ مـَا صَنَعْـتُ،  أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فاَغْفِرْ لِيْ، فَاِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.   

 

Wahai Allah Engkaulah Tuhanku tiada Tuhan selain Engkau, Engkaulah yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu dan aku berada dalam perjanjian-Mu dan ikatan kesetiaanku pada-Mu semampuku, aku berlindung dari buruknya perbuatanku dan aku sadar kenikmatan-kenikmatanMu padaku dan aku sadar atas dosa-dosaku, dan ampunilah aku maka sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau. (Hadits)

 

Sayyidul Istigfar.

  • Dinamakan dengan sayyidul istigfar karena ini adalah seluruh permohonan ampun, permohonan maaf atas keudzuran, taubat, dan tauhid.
  • Diriwayatkan pada shahih Bukhari dari Syaddad bin Aus RA dari Nabi SAW yang bersabda : “Pemimpin semua Istghfar adalah : Allahumma anta rabbiy…dst, jika dibaca saat sore lalu ia wafat di malam itu maka ia masuk sorga, jika dibaca dipagi hari lalu ia wafat hari itu maka ia masuk sorga”.masuk surga disini berarti kabar gembira tentang kesetiaan terhadap Islam (karena menjalani ajarannya) dan termasuk satu dari sebab-sebab husnul khotimah.
  • Dari Bukhari, diriwayatkan oleh Shaddad ibn Aws; Rasulullah SAW. bersabda, “Sebaik-baiknya cara memohon ampunan dari Allah ialah: “Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau; Engkau ciptakan aku dan aku ini adalah hamba-Mu dan aku akan menuruti perintah dan amanat-Mu sekuat tenagaku. Aku berlindung dengan-Mu dari hal-hal buruk yang Engkau ciptakan, dan aku mengakui nikmat kurnia-Mu kepadaku, serta mengakui dosaku, maka ampunilah daku, kerana tak ada yang mampu mengampuni dosa itu selainkan Engkau.”
  • Dari Abu Dawud, diriwayatkan oleh Buraydah ibn Hasib; Rasullulah SAW. bersabda: Jika siapapun berkata di waktu pagi dan petang,: “ Ya Allah! Engkaulah Tuhanku; tiada tuhan selain-Mu, Engkau Penciptaku, aku hamba-Mu, dan aku berpegang dengan tali yang kokoh yang tidak akan putus; Aku berlindung dari perkara buruk yang aku telah lakukan; aku mengakui nikmat-Mu serta dosaku; ampunilah aku sebab tiada yang mampu mengampuni selainkan Engkau.”, dan jika dia mati pada hari atau malam itu, dia akan masuk syurga.

 

 

اَللَّهُـمَّ أَنْتَ رَبِّيْ، لاَ اِلَهَ إلاَّ أَنْتَ، عَلَيْكَ تَوَكَّلْـتُ، وَأَنْتَ رَبُّ الْعَـرْشِ الْعَظِيْـمِ.

 مَا شَاءَ اللهُ كَـانَ، وَمَا لَمْ يَشَأْ لَـمْ يَكُنْ، وَلاَ حَـوْلَ وَلاَ قُوَّةَ  إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.

 

Wahai Allah sungguh Engkau adalah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau, pada-Mu aku bertawakal dan Engkaulah pemilik Arsy yang Agung, apa-apa yang dikhendaki Allah SWT akan terjadi dan yang tidak yang dikehendaki Allah tidak akan terjadi, tiada daya dan upaya selain dengan kekuatan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung. (Hadits)

 

  • Dari Bukhari, diriwayatkan oleh Abdullah ibn Abbas; Rasullulah SAW. apabila diwaktu kesusahan berdoa dengan membaca: “Tiada yang berhak disembah melainkan Allah, Maha Sejahtera, Maha Kuasa. Tiada yang berhak disembah selain Allah, Tuhan senanjung syurga dan dunia, Raja Yang Agung.”

 

 

اَعْلَـمُ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْـرٌ، وَاَنَّ اللهَ قَدْ أَحَـاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًـا. 

 

Surah 65: Al Talaq Ayat 12

 

Aku tahu sungguh Allah itu berkuasa atas segala sesuatu dan sungguh Allah itu meliputi segala sesuatu dengan pengetahuannya (Maha Tahu atas segala sesuatu).

 

 

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِـكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ،  وَمِنْ شَرِّ كُـلِّ دَابَّـةٍ أَنْتَ آخِـذٌ بِنَا صِيَتِهاَ، إِنَّ رَبِيِّ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ. 

Wahai Allah sungguhnya aku berlindung dari keburukan diriku dan dari kejahatan semua makhluk dan ciptaan-Mu sungguh Engkau mengenggam semua ubun-ubun mereka (kepala), sungguh Tuhanku berada pada jalan yang benar. (Hadits)

 

  • Dikenal sebagai Doa abi Darda’
  • Diriwayatkan oleh Imam Ibn Sunniy, dari Thalq bin Hubaib yg berkata : telah datang seorang lelaki kepada Abu Darda RA bahwa rumahnya telah terbakar, maka berkata Abu Darda ra : rumahku tidak akan terbakar!, tiada Allah SWT akan menjatuhkan hal itu karena kalimat kalimat yg kudengarkan dari Rasul SAW, barangsiapa yg membacanya dipagi hari maka ia tak akan terkena musibah hingga petang, barangsiapa mengucapkannya di akhir petang maka tak akan terkena musibah hingga pagi, yaitu Allahumma anta Rabbiy…dst.
    Dan diriwayatkan pada jalur lainnya dari seorang lelaki dari sahabat Nabi SAW bahwa orang itu datang lagi pada Abu Darda ra dengan mengabarkan hal kebakaran rumahnya, maka Abu Darda ra menjawab : Tidak terbakar, karena Aku dengar dari Rasul saw bahwa barangsiapa yg membaca dipaginya kalimat kalimat ini maka tak akan terkena ia, tidak pula keluarganya, tidak pula hartanya, hal hal yg tak disukainya”, maka kami bersama sama menjenguk rumahnya, sungguh telah terbakar sekitar rumahnya, dan rumahnya tak disentuh api.

 

 

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، بِرَحْمَتِكَ اَسْتَغِيْثُ، وَمِنْ عَذَابِكَ أَسْتَجِيْرُ.   أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَي نَفْسِيْ  وَلاَ إِلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ طَرْفَةَ عَيْنٍ.  .   اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ.

Wahai yang Maha hidup dan Maha berdiri sendiri aku beristighotsah dan mohon bantuan pada Rahmat-Mu, Dan aku berlindung kepada-Mu dan mohon dijauhkan dari siksa, perbaikilah keadaanku semuanya, dan janganlah Engkau palingkan aku pada diriku dan jangan Kau palingkan aku pada ciptaan-ciptaanMu walau sebentar saja. Jagalah aku agar selalu khusyuk kepada-Mu. Wahai Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan dan kesedihan, aku berlindung kepada-MU dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung kepada-Mu daripada sifat pengecut dan sifat kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari terjeratnya hutang-hutang dan penguasa yang zalim. (Hadits)

 

  • Dari Anas RA : bersabda Rasulullah SAW pada Fathimah Azzahra RA : kiranya tak ada yg menghalangimu dari apa apa yg kuajarkan agar kau membaca dipagi hari dan sore hari : Yaa Hayyu Yaa Qayyum…dst.(hadits hasan) (Al Adzkar Imam Nawawi)
  • Doa anti Hutang
  • Rasul SAW masuk ke masjid, maka terlihatlah seorang lelaki dari Anshar yg bernama Abu Umamah RA, maka bersabda Rasulullah SAW : Wahai Abu Umamah, mengapa kulihat duduk terpaku di masjid di selain waktu shalat..?”, ia menjawab : “gundah.. aku dijerat hutang wahai Rasulullah..”, maka bersabda Rasulullah saw : ”maukah kau kuajari kalimat yang jika kau ucapkan maka Allah akan menghilangkan gundahmu dan terselesaikan hutangmu?”, maka Abu Umamah RA : “ajari aku wahai Rasulullah..”, maka Rasul SAW bersabda : “Jika di pagi harimu dan sore harimu ucapkanlah : Allahumma inniy…dst.
    Maka berkata Abu Umamah RA : kulakukan itu maka Allah menghilangkan gundahku dan dan terselesaikan hutangku”
    (Hadits hasan). (Al Adzkar Imam Nawawi)
  • Aslihlii Sya’nii pada doa ini berarti bahwa semua pertolongan datang atas seizin Allah. Walaupun datang dari makhluq lainnya atapun kita yang meminta pertolongan itu maka sesungguhnya Allah lah yang bisa mewujudkan itu semua bukan yang lainnya. Maka meminta itu hanyalah pada Allah SWT. Hal ini dapat dilihat dari kisah roja’ pada masa Imam Ja’far Shodiq RA tentang seorang lelaki yang terombang-ambing dilaut dari sebelumnya dia menggantungkan harapannya agar selamat dalm perjalanannya dilaut kepada nahkoda kapal, terkena ombak pada sepotong kayu, hingga akhirnya tidak pada apapun. Maka kepada siapakah dia mengharapkan pertolongan kecuali kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
  • Di dalam doa ini kita meminta perlindungan Allah agar terhindar dari Al-Hamm, Alhuzn, dst.

Hamm berarti kehawatiran yang akan terjadi pada masa yang akan datang sedangkan huzn berarti kesedihan yang telah terjadi sebelumnya.

Ajz berarti tidak bisa berbuat sesuatu karena tidak adanya kemampuan (qudrat) walaupun memiliki keinginan (iradat) sedangkan kaslan berarti malas/tidak adanya iradat untuk melakukan sesuatu walaupun dia memiliki qudrat

Jubn berarti ketidakmauan untuk memberikan pertolongan dengan kekuatan tubuh/fisik yang dia miliki sedangkan Bukhl berarti ketidakmauan untuk mengeluarkan hartanya (kikir/pelit). Hal ini bisa tercermin pada jihad dalm arti luas; jihad terbagi pada dua kondisi yaitu bisa dengan badan/kekuatan ataupun dengan uang.

Ghalabat ad-dayn berarti terlilit hutang sedangkan qahr ar-rijal berari takuta akan kekuatan maupn pengaruh manusia yang lebih mempunyai kekuasaan atasnya. Ini maksudnya bahwa ketika seseorang berhutang maka posisi dia adalah lemah secara ekonomi. Karena dengan berhutang menempatkan mereka seolah-olah sebagai ‘budak’ bagi sang qahr rijal.

 

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ، فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَـافِيَةَ، وَالْمَعَافاَةَ الدَّائِمَةَ، فِي دِيْنِيْ وَدُنْياَيَ وَأَهْلِيْ وَماَلِيْ. اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِيْ وَآمِنْ رَوْعَاتِيْ.  .اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِيْ وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِماَلِيْ وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتاَلَ مِنْ تَحْتِيْ.

Wahai Allah sungguh aku meminta kepadamu kesembuhan dan afiah, dunia dan akhirat. Wahai Allah sungguh aku meminta kepadamu maaf-Mu, dan afiah-Mu dan atas segala yang mengganggu kami jasad kami dan ruh kami dan penjagaan dan pemeliharaan yang abadi dalam agamaku, duniaku, keluargaku, hartaku. Wahai Allah tutupilah auratku dan kejahatan- kejahatanku dan jagalah aku Dari apa yang kurisaukan. Wahai Allah jagalah aku dari depanku, dari belakangku, dari kananku, dari kiriku ,dari atasku dan aku berlindung dengan keagungan-Mu dari pada kejahatan yang datang dari bawahku (fitnah dari bumi/ sihir). (Hadits)

 

  • Berkata Ibn Umar RA : bahwa Nabi SAW tak pernah meninggalkan doa doa ini ketika pagi dan sore, Allahumma inniy… dst

Berkata Imam Hakim hadits ini sanadnya Shahih. (Al Adzkar Imam Nawawi)

  • Dari Abu Dawud, diriwayatkan daripada Abdullah ibn Umar; Rasulullah SAW. selalu mengucapkan doa ini di waktu pagi dan petang: “Ya Allah, aku memohon kesejahteraan kepada-Mu di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan kesejahteraan serta perlindungan yang abadi dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah segala ke’aibanku, dan amankanlah ketakutanku. Ya Allah, peliharalah daku dari malapetaka yang datang dari depanku dan dari belakangku, dan dari kananku dan dari kiriku, dan dari atasku, dan aku berlindung dengan keagungan-Mu agar jangan ditipu dari bawahku (tanpa disedari). Ini merupakan doa untuk perlindungan secara menyeluruh bagi dirinya.

اَللَّهُـمَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِـيْ،  وَأَنْتَ تَهْدِيْنِـيْ،  وَأَنْتَ تُطْعِمُنِـيْ وَأَنْتَ تَسْقِيْنِـيْ،  وَأَنْتَ تُمِيْتُنِـي،  وَأَنْتَ تُحْيِيْنِـيْ.     

 

Wahai Allah sungguh Engkaulah yang menciptakan aku dan Engkau yang memberi aku hidayah, Engkau yang memberiku makanan, Engkau yang memberiku minuman dan Engkaulah yang menghidupkan aku dan engkaulah yang mematikanku dan Engkaulah yang berkuasa ats segala sesuatu. (Hadits)

 

  • Berkata Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, dari Samurah bin Jundub RA: maukah kukabarkan hadits dari Rasulullah SAW yang kudengar berkali-kali, dan dari Abu Bakar RA berkali kali, dan dari Umar RA berkali-kali?, Barangsiapa dipagi hari membaca : Allahumma…dst. Tiadalah ia minta sesuatu pada Allah SWT kecuali diberi Nya. (Ma’jamul Ausath Al Imam Tabrani)
  • Dari Muslim, diriwayatkan oleh Miqdad, Rasulullah SAW bersabda, “Allah, memberiku makanan, memberiku minuman,” setelah baginda dapati susunya telah di minum oleh seorang.

 

 

أَصْبَحْناَ عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ، وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّناَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْراَهِيْمَ حَنِيْفاً مُسْلِماً، وَماَ كاَنَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ.

 

Surah 5: al-Ma’idah Ayat 3

 

Aku lewati pagi ini dengan kesucian Islam dan kulewati pagi ini dalam kalimat yang ikhlas pada agama Nabi Muhammad SAW. Dan atas tuntunan tauhid dari Ayah kami (Ayah para Nabi/ Nabi Ibrahim AS) yang berada dalam kelembutan seorang muslim dan Nabi Ibrahim AS itu bukan orang-orang yang musrik.

 

  • Dan bahwa Rasulullah SAW jika dipagi hari berdoa : Ashbahna ala….dst. (Al Adzkar Imam Nawawi)
  • “Hari ini Kami telah lengkapkan agamamu, dan  penuhkan nikmat-Ku kepadamu, dan meredhai untukmu Islam sebagai agamamu.     Surah 5: al-Ma’idah Ayat 3

 

اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا،  وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ، وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ، أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعاَلَمِيْنَ.  

Wahai Allah bersama-Mu kami melewati pagi ini dan bersama-Mu kami melewati sore ini dan denganmu kami hidup dan denganmu pula kami wafat. Dan kepada-Mu kami bertawakal dan kepadamu pula kami akan kembali. Kami melewati pagi ini dan kami lewati pagi ini sedangkan kerajaan alam semesta tetap milik Allah dan segala puji untuk Allah. (Hadits)

 

  • Dari Abu Dawud, diriwayatkan oleh Abu Malik; Rasulullah SAW. bersabda: “Apabila bangun pagi, bacalah: “Ya Allah, sesungguhnya kami berada di waktu pagi bersama Tuhan seru sekalian alam. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kebaikan hari ini keterbukaannya, kemudahannya, cahayanya, keberkatanmya dan petunjuknya; dan perlindungan dari keaiban yang datang dengannya dan sesudahnya.” Pada petang hari  juga sama.

 

 

اَللَّهُّمَ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْيُوْمِ فَتْحَهُ وَنَصْرَهُ وَنُوْرَهُ وَبَرَكَتَهُ وَهُداَهُ

 

Wahai Allah sungguh aku meminta kebaikan hari ini, kemenangannya, pertolongannya, cahayanya, keberkahannya, dan petunjuk hidayahnya yang ada di hari ini . (Hadits)

 

 

اَللَّهُمَّ إِنَّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذاَ الْيُوْمِ،  وَخَيْرَ ماَ فِيْهِ،  وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذاَ الْيُوْمِ وَشَرِّ مَا فِيْهِ.  

Sungguh Allah aku meminta kepada-Mu kebaikan hari ini dan kebaikan yang apa-apa tersimpan hari ini dan kebaikan pada hari yang lain dan kebaikan yang ada pada hari esok. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang pada hari ini dan keburukan yang tersimpan pada hari ini dan keburukan atau kejahatan yang ada pada hari yang lain dan yang ada pada hari esok. (Hadits)

 

عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه كان يقول إذا أصبح : ” اللهم بك أصبحنا وبك أمسينا ، وبك نحيا ، وبك نموت ، وإليك النشور ” وإذا أمسى قال : ” اللهم بك أمسينا ، وبك نحيا ، وبك نموت وإليك النشور ” قال الترمذي : حديث حسن.

  • Dan dari Nabi SAW bahwa jika pagi beliau SAW berdoa : Allahumma bika ….dst
    وإذا أمسى قال : ” اللهم بك أمسينا ، وبك نحيا ، وبك نموت وإليك النشور ” قال الترمذي : حديث حسن.
    Dan jika sore : Allahumma bika amsayna…dst (Berkata Imam Tirmidziy hadits hasan. . (Al Adzkar Imam Nawawi)
    وروينا في ” سنن أبي داود ” بإسناد لم يضعفه عن أبي مالك الأشعري رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” إذا أصبح أحدكم فليقل : أصبحنا وأصبح الملك لله رب العالمين ، اللهم أسألك خير هذا اليوم فتحه ونصره ونوره وبركته وهداه ، وأعوذ بك من شر ما فيه وشر ما بعده ، ثم إذا أمسى فليقل مثل ذلك

Dan kami riwayatkan pada Sunan Abu Dawud dengan sanad yg tidak didhoifkannya dari Malik Al Asy’ariy ra bahwa Sungguh Rasulullah SAW bersabda : Jika kalian dipagi hari maka ucapkanlah : Ashbahna….dst, dan jika sore maka ucapkanlah pula seperti itu” (Al Adzkar Imam Nawawi)

 

 اَللَّهُمَّ ماَ أَصْبَحَ بِيْ مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَـدٍ مِنْ خَلْقِكَ، فَمِنْكَ  وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ عَلَى ذَلِكَ.    

Wahai allah apa-apa yang kutemukan dipagi ini dari kenikmatan datang dari salah satu ciptaan-Mu maka itu adalah hakekatnya dari-Mu Tunggal, tiada sekutu atas-Mu dan atas- Mulah segala pujian dan bagimulah segala terimakasih atas segala nikmat yang datang pada hari ini. (Hadits)

 

  • Dan kami riwayatkan oleh Sunan Abu Dawud dengan sanad baik, dan ia tak mendhoifkannya, dari Abdullah bin Ghannaam Albayadhiy RA: Sungguh Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa berdoa di pagi hari : Allahumma Maa Ashbaha biy….dst maka ia telah menunaikan syukurnya dihari itu, barangsiapa yg membacanya seperti itu disore hari maka ia telah menunaikan syukurnya dimalam itu (Al Adzkar Imam Nawawi)
  • Dari Abu Dawud, diriwayatkan oleh Abu Malik;  “Seorang bertanya Rasulullah SAW.: ‘Berilah kami suatu ayat yang boleh kami ulangi tiap pagi, petang dan apabila kami bangun dari tidur.’ Baginda suruh kami berdoa: “Ya Allah! Yang Mencipta Syurga dan dunia, Yang Mengetahui semua yang zahir dan batin, Engkaulah Tuhan sekian makhluk;  para malaikat saksikan bahwa tiada tuhan selain-Mu, kami berlindung dengan-Mu dari keburukan diri kami dan dari bisikan syaitan yang menyekutukan Mu.”

 

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِـهِ وَرِضَـى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ  وَمِداَدَ كَلِمَاتِهِ. (ثلاثا)

Maha Suci Allah dan segala pujian untuk-Nya, sebanyak ciptaan-Nya, sebanyak keridhoan dzat-Nya, dan sebanyak kemegahan perhiasan Arsy-Nya, dan sebanyak tinta kalimatkaliamat- Nya (3x). (Hadits)

 

 

سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِـهِ وَرِضَـى  نَفْسِـهِ  وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِداَدَ كَلِمَاتِهِ. (ثلاثا)

Maha Suci Allah yang Maha Agung bersama segala pujian untuk-Nya, sebanyak ciptaan-Nya, sebanyak keridhoan dzat-Nya, dan sebanyak kemegahan perhiasan Arsy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-kaliamat-Nya (3x). (Hadits)

 

  • Dari Juwairiyah RA: Sungguh Nabi SAW keluar menuju shalat subuh dan Juwayriyah berdzikir di tempat sujudnya, lalu Rasul saw pulang selepas dhuha, dan Juwairiyah RA masih duduk di tempatnya, lalu Rasul SAW bersabda :”kau masih duduk disini sejak subuh tadi?”, maka Juwairiyah berkata : betul, maka Rasul SAW : “Aku sudah berdzikir sesudahmu dengan hanya 4 kalimat saja 3X, jika ditimbang maka lebih berat dari semua dzikirmu sedari tadi, ucapkanlah : Subhanallah…. Dst. (Riyadhusshalihin oleh Imam Annawawiy)

 

.سُبْحَـانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَـاءِ، سُبْحَـانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَـقَ فِي الأَرْضِ، سُبْحَـانَ اللهِ عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ، سُبْحَـانَ اللهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَـالِقٌ. (ثلاثا)

 

Maha Suci Allah sebanyak ciptaanNya di langit. Maha Suci Allah sebanyak Ciptaan-Nya di Bumi. Maha Suci Allah sebanyak apa-apa yang ada diantara langit dan bumi.

Maha Suci Allah sebanyak apa-apa yang diciptakan-Nya. (Hadits)

 

  • Dari hadits Abu Hurairah RA sabda Rasulullah SAW: Subhanallahil ‘adhiim….dst, diriwayatkan Imam Muslim dan Imam 4 (Tirmidziy, Nasa;iy, Abu Dawud dan ibn Majah), dari hadits Ibn Abbas RA. (Ma’arijul Qabul).
  • Diriwayatkan daripada Sa’ad bin Abu Waqqash RA. bahawasanya dia bersama Rasulullah SAW. mendatangi seorang perempuan sedang pada kedua tangan perempuan itu ada biji (kurma) atau kerikil dihitungnya dalam tasbihnya, maka bersabda Rasulullah SAW.: Mahukah engkau aku memberitahumu sesuatu yang lebih mudah atau lebih utama buatmu? Lalu beliau menyambung dengan membaca wirid yang disambung seperti diatas ini

 

اَلْحَمْدُ للهِ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي السَّمَـاءِ، اَلْحَمْدُ للهِ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي الأَرْضِ، اَلْحَمْدُ للهِ عَدَدَ مَـا بَيْـنَ ذَلِكَ، اَلْحَمْدُ للهِ عَدَدَ مَـا هُوَ خَـالِقٌ. (ثلاثا)

Segala Puji bagi Allah sebanyak ciptaanNya di langit. Segala Puji bagi Allah sebanyak Ciptaan-Nya di Bumi. Segala Puji bagi Allah sebanyak apa-apa yang ada diantara langit dan bumi. Segala Puji bagi Allah sebanyak apa-apa yang diciptakan-Nya. (Hadits)

 

  • Dari Aisyah binti Sa’ad bin Abi Waqqash RA dari ayahnya, bahwa ia masuk bersama Rasulullah SAW pada seorang wanita dihadapannya terdapat banyak biji atau batu untuk menghitung berdzikir, maka Rasul saw bersabda : Kuberitahu engkau dengan yg lebih mudah dari itu/lebih afdhal?, maka ucapkanlah Subhanallah adada maa…dst, dan Allahu Akbar seperti itu pula, dan Alhamdulillah seperti itu pula, dan Laa ilaha Illallah seperti itu pula, dan Laa haula walaa quwwata illa billahil aliyyil adhim seperti itu pula” (Syi’bul iman oleh Imam Albaihaqiy).

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي السَّمَـاءِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي الأَرْضِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ عَدَدَ مَـا بَيْـنَ ذَلِـكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ عَدَدَ مَـا هُوَ خَـالِقٌ.        (ثلاثا)

 

Tiada Tuhan selain Allah sebanyak ciptaanNya di langit. Tiada Tuhan selain Allah sebanyak Ciptaan-Nya diBumi. Tiada Tuhan selain Allah sebanyak apa-apa yang ada diantara langit dan bumi. Tiada Tuhan selain Allah sebanyak apa-apa yang diciptakan-Nya. (Hadits)

 

 

اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي السَّمَـاءِ،  اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي الأَرْضِ،  اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَـا بَيْـنَ ذَلِكَ،  اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَـا هُوَ خَـالِقٌ. (ثلاثا)

Allah Maha Besar sebanyak ciptaanNya di langit. Allah Maha Besar sebanyak Ciptaan-Nya di Bumi. Allah Maha Besar sebanyak apa-apa yang ada diantara langit dan bumi.

Allah Maha Besar sebanyak apa-apa yang diciptakan-Nya. (Hadits)

 

  • Dari Al-Muwatta, diriwayatkan daripada Abu Hurairah RA katanya: Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang membaca: “Tiada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu baginya, kepunyaan-Nya lah kerajaan, dan hanya bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”  dalam sehari sebanyak seratus kali, niscaya dia mendapat pahala sebagaimana memerdekakan sepuluh orang hamba sahaya. Dia juga diampunkan seratus kejahatan, dibuat untuknya benteng sebagai pelindung dari syaitan pada hari tersebut hingga ke petang. Tidak diganjarkan kepada orang lain lebih baik daripadanya kecuali orang tersebut melakukan amalan lebih banyak daripadanya. Manakala mereka yang berkata: “Maha suci Allah dan segala puji hanya bagi Allah”, dalam sehari sebanyak seratus kali niscaya terhapuslah segala dosanya sekalipun dosanya itu banyaknya  seperti buih di lautan .
  •  Al-Habib Abi Bakar Sakran didalam Hizibnya telah mengatakan bahwa pengucapan, “Ya Allah, limpahkanlah kurnia dan kesejahteraan atas penghulu kami Nabi Muhammad SAW dan atas keluarga dan sahabat-sahabatnya sekalian” ialah sebagai pintu menuju kepada Allah; dan kunci ke pintu itu ialah ucapan, “Tiada tuhan melainkan Allah”; dan pertahanannya ialah ucapan, “Tiada kekuatan atau kuasa melainkan dengan izin Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung”

 

 

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْـمِ عَدَدَ مَـا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْـمِ عَدَدَ مَـا خَلَقَ فِي الأَرْضِ

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْـمِ عَدَدَ مَـا  بَيْـنَ  ذَلِـكَ

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْـمِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ.  (ثلاثا)

 

Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung sebanyak ciptaanNya  di langit.

Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung sebanyak Ciptaan-Nya di Bumi.

Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung sebanyak apa-apa yang ada diantara langit dan bumi .

Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung sebanyak apa-apa yang diciptakan-Nya.

 

 

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَـى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عَدَدَ كُلِّ ذَرَّةٍ أَلْفَ مَرَّةٍ.             (ثلاثا)

 

Tiada Tuhan selain Allah Maha Tunggal dan tiada sekutu bagi Nya, bagi Nya Kerajaan alam semesta dan bagi Nya segala pujian. Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan dan Dia Allah Berkuasa atas segala sesuatu, sebanyak semua debu dan butiran-butiran dan seribu kali.

 

  • Dari Abu Hurairah RA, Sungguh Rasulullah SAW bersabda : “Laa ilaaha illallahu wahdahu…dst, dalam suatu hari 100X, maka baginya pahala membebaskan 10 orang budak, dan dituliskan 100 pahala, dan dihapus darinya 100 dosa, dan ia dijaga dari syaitan di hari itu hingga sore, dan tiadalah orang lain yg mempunyai amal lebih darinya di hari itu kecuali yg beramal lebih banyak dari itu” (Shahih Bukhari dan shahih Muslim)

Dalam dzikir ini Imam Haddad meringkasnya 1X saja namun diakhiri dg kalimat : “adada kulli dzarrah alf marrah” (sebanyak setiap debu, 1000X).

 

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَـى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عَدَدَ ماَ هُوَ خَالِقٌ.      

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ (مائة مرة)،   سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ (مائة مرة)

سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ للهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَ اللهُ، وَ اللهُ أَكْبَرُ.            (مائة مرة)

(وَيَزِيدُ صَبَاحًا) لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْـدَهُ لاَ شَرِيْـكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْـكُ وَلَهُ الْحَمْـدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. (مائة مرة)

Nota:

Jika dibaca pada waktu sore gantikanlah perkataan-perkataan yang di garis bawah itu seperti berikut:

وَيَقُولُ فِي الْمَسَاء بَدَل    ” أَصْبَحْتُ ”   –  “ أَمْسَيْتُ

Di bait 22, 23, 44 dan 45:  “Pagi” digantikan dengan “Sore”.

وَبَدَل    “ اَلْنُشُوْرِ ”  –  “ اَلْمَصِيْرِ

 

Di bait 45 “kebangkitan” digantikan dengan “kembali”.

وَبَدَل    ” الْيَوْمِ ”    –  ” اللَّيْلِ

 

Dan di dalam bait 46 dan 47:  “hari” digantikan dengan “malam”.


[1] Penggunaan Zawiyah pada Betawi Corner ini lebih diharapkan menjadi tempat untuk mencari ilmu dan keberkahan yang ada pada Zawiyah kaum Sufi.

[2] Abuya K.H. Saifuddin Amsir melihat Prof. Harun Nasution sebagai seorang cendikiawan filsafat yang dalam penguasaan filsafat Islam klasiknya tidak sempurna sehingga menghasilkan produk kegamangan dalam filsafat.

[3] Permasalahan Ibu kota memang sangat memprihatinkan sebagaimana diungkapkan oleh Dr Luthfi Fathullah (Cucu dari Guru Mugeni, Kuningan, Jakarta Selatan). Dalam penuturannya, Dr Luthfi mengatakan bahwa dahulu di Jakarta suara ngaji terdengar dari berbagai sudut kota akan tetapi yang kita lihat saat ini berbeda. Sekarang sangat sulit untuk menemukan sosok seperti Muallim Syafi’I Hadzami, Kiai Abdullah Syafi’I yang memperjuangkan Islam di Jakarta khususnya. Upaya yang dilakukan oleh Kiai Saifuddin Amsir melalui Yayasan yang dibangunnya memberikan harapan yang membutuhkan dukungan dari seluruh masyarakat untuk menegakkan Islam kembali di Jakarta.

[4] Bersandar pada Istigotsah Jakarta dan Zawiyah Jakarta inilah tercipta keinginan untuk menghadirkan kesejukan, kedamaian ketengah-tengah Masyarakat, perwujudan Amar ma’ruf Nahi Munkar, dan kebersamaan Ahl Sunnah Waljama’ah. Selain itu inti dari semua do’a yang terangkum dalam Istigotsah Jakarta ini juga sarat dengan muatan-muatan yang bertujuan membantu pemerintah dalam mengentaskan berbagai bentuk premanisme, kelicikan, penipuan, dan kejahatan-kejahatan lain yang berpotensi besar dalam meruntuhkan martabat dan moralitas bangsa.

[5] satu kesempatan dalam Konferensi- Konferensi Umum Dakwah Islamiyyah ke- 7 yang diselenggarakan di Tripoli, Libya 27-30 Oktober 2008. Dalam pertemuan yang di hajat oleh World Islamic Call Society (WICS) itu, berbagai hal berkaitan dengan dakwah Islam secara global dibahas secara menyeluruh oleh cendekiawan muslim dari 120 Negara. Dan pada Konferensi berikutnya pada awal 2011.

[6] Kumpulan doa. Jama’. Awrad

[7] الإمام القطب عبد الله بن علوي الحداد

Lebih dikenal sebagai Imam Al-Haddad. seorang Mujaddid Islam abad kedua belas Hijrah, Kumpulan wiridnya yang terkenal lainnya adalah Ratib Al-Haddad. Beliau juga seorang pakar hadits termasyhur dan telah mencapai gelar Hujjatul Islam, dan gelar hujjatul islam hanya diberikan pada mereka yg telah hafal 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya.

Habib Abdullah Alwi Al-Haddad adalah seorang wali besar, Syaikhul Islam (Rujukan Utama Keislaman), Fardul A’lam (Orang Teralim), Al-Quthbul Ghauts (Wali Tertinggi yang Bisa Menjadi Wasilah Pertolongan), Al-Quthbud Da’wah wal-Irsyad (Wali Tertinggi yang Memimpin Dakwah), dan semacamnya. Ia lahir pada Rabu malam, 5 Safar 1044 H/1624 M, di pinggiran kota Tarim, Hadramaut, Yaman. Di kota yang masyhur sebagai gudang ulama itu, ia dibesarkan di tengah keluarga dan lingkungan yang mencintai ilmu agama.
Sejak kanak-kanak, sudah tampak kelebihan-kelebihannya. Ia mampu menghafalkan Al-Quran ketika usianya belum lagi menginjak dewasa. Meskipun Allah SWT kemudian menakdirkannya buta karena penyakit cacar, semangat belajarnya justru semakin tinggi. Ia juga giat menuntut ilmu kepada sejumlah ulama.
“Janganlah mengira semua ini aku dapatkan dengan mudah tanpa kerja keras. Tahukah kalian, dulu aku berkeliling ke sejumlah shalihin di seluruh Hadramaut untuk menuntut ilmu, sekaligus melakukan tabarrukan, mengambil berkah mereka?” kata Hbaib Abdullah bin Alwi Al-Haddad.
Di antara sejumlah gurunya, yang paling istimewa di hatinya ialah Habib Umar Alatas. Selain sama-sama tunanetra, mereka juga banyak mengembara untuk menuntut ilmu, beribadah, dan berdakwah.
Setiap tengah malam, ia berkeliling kota Tarim, berkunjung dari masjid satu ke masjid lain untuk menunaikan salat Tahajud. Lumrah jika kelak Habib Abdullah Al-Haddad menjadi magnet bagi kota Tarim. Suatu hari ia berkata, “Dahulu aku menuntut ilmu kepada banyak orang. Kini, banyak orang menuntut ilmu kemari.” Ia memang muncul sebagai salah seorang ulama besar di abad ke-11 sampai 14 H, atau abad ke-17 hingga 20 M. Bahkan Ibnu Ziyad, ulama dan mufti besar yang disejajarkan dengan ulama fikih seperti Ibnu Hajar dan Imam Ramli, berkeyakinan, dia adalah tokoh mujaddid (pembaharu) abad ke-11 H.
Belakangan ia dikenal sebagai pengibar bendera Tarekat Alawiyin, amaliah yang diperoleh turun-temurun dari para pendahulunya, para alawiyin, alias keturunan Rasulullah SAW. Dan kelak, ia menjadi ulama besar yang sangat produktif. Selain menulis ratib, ia juga menulis kumpulan wirid, Al-Wirdul Lathif, yang seakan menjadi pasangan bagi Ratib Hadad. Para ulama mengajarkan dan mengamalkan Ratib Hadad menjelang atau selepas salat Magrib, dan mengamalkan Al-Wirdul Lathif usai subuh.
Namanya maupun karyanya telah melegenda. Ada keyakinan di kalangan sebagian kaum muslimin, membaca karya Habib Abdullah bisa mendapatkan manfaat besar, yaitu keselamatan, bukan hanya bagi pembacanya, melainkan juga masyarakat sekitarnya. Tertib pembacaannya, ia jelaskan pula dalam An-Nashaihud Diniyah. Menurutnya, wirid dan zikir itu bukanlah susunan dia sendiri, melainkan semata-mata mengacu pada doa yang diajarkan Rasulullah SAW. Menurutnya, semua zikir, doa, dan wirid, memiliki manfaat besar dan fadilah yang banyak, sementara tujuannya satu: kemantapan hati akan kebesaran Allah SWT, dekat dengan-Nya, sehingga selamat dari segala godaan.
“Rasulullah SAW telah menyusunnya dengan tertib, agar kita mengamalkannya, demi mendapatkan kebaikan dan keselamatan dari marabahaya. Maka, barang siapa mengamalkannya secara rutin akan selamat. Sebaliknya, barang siapa meremehkan atau melalaikannya, akan menyesal,” tulisnya.
Hari Selasa, 7 Zulkaidah 1132 H/1712 M, awan hitam bergelayut, seakan hendak menutup kota Tarim. Sebelum matahari terbenam, Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad telah berpulang ke rahmatullah. Beliau terkenal sebagai sesorang yang berilmu luas lagi bermanfaat. Bukan saja bagi orang-orang yang hidup pada zaman beliau, bahkan kepada orang-orang dizaman sesudahnya tanpa batasan umur. Kehilangan daya penglihatannya dari umur empat tahun telah Allah SWT gantikan dengan kemampuannya yang luar biasa untuk menyerap ilmu dan meyebarluaskannya.

[8] Kitab Kitab Al-Imam Al-Qutub Abdullah bin Alawi Al-Haddad RA:

النَّصائح الْدِينِية وَالْوَصِايَا الإِيْمَانِية, الدَعْوَةُ الْتَامَة وَالتَّذْكِرَةُ الْعَامَّة, رسالة الْمُعَاوَنَة والْمُظَاهِرَة والْمُؤَازِرَة لِلرَّاغِبِين مِنَ الْمُؤمِنِين في سُلُوكِ طَرِيق الأَخِرَة, اَلْفُصُولُ الْعِلْمِيَّة وَالأُصُولُ الْحِكْمِيَة سَبِيلَ الأَذْكَار بِمَا يَمُرُ بِالإِنْسَان وَيَنْقَضِي لَهُ مِنْ الأَعْمَار, رسالة الْمُذاكرة مع الإخوان الْمُحِبين مِنْ أَهْلِ الْخَير والدِّين,رسالة آداب سلوك الْمُريد, كِتَابُ الْحِكَم, النَّفْائسِ الْعَلَوِيَّة في الْمُسَائِل الصُوفِية,إِتْحَاف السائل بِجوِابَ الْمَسائِل, وَسِيْلَة الْعِبَاد إِلى زَادِ الْمَعَاد,الدُرُ الْمَنْظوم لِدَوِي العُقُول وَالْ فُهُوم, تَثْبِيْتُ الْفُؤاد – بِذِكر كالَم مَجَالِس

 

[9] Karangan dan bacaan Wirdul-Latif di sini ialah seperti yang dianjurkan oleh pengikut-pengikut, murid-murid dan muslimin di negeri Arab, Semenanjung Asia dan Africa, dari keturunan Al-Haddad, Munsib-munsibnya di maqam Imam al Haddad di Al-Hawi, Tarim – Hadhramaut di negara Yaman.

[10] Habib Hud Alatas sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh Abuya KH. Saifuddin Amsir karena telah membuka jalan bagi para salik untuk terus menanjaki ‘aurat-‘aurat para salafus salih, sufiyyah, serta ahlussunnah wal jama’ah dalam madzhab syafi’iyyah. Dengan harapan wirdul latif yang oleh awam terlebih dahulu mengamalkan Ratib Alhaddad, dapat memberikan keselamatan dari segala bencana, malapetaka, penangkal azab yang semuanya tak lain bersumber dari doa-doa Rasulullah SAW.

[11] Namun, tetap saja wirid-wirid yang telah diajarkan harus dilafalkan dengan menggunakan Bahasa Arab. Bahasa Arab dan didalamnya termasuk terjemahannya berbeda dengan Bahasa lainnya. Bahasa ini secara khusus dipilih Allah SWT untuk menyampaikan wahyu-Nya. Wahyu merupakan ilmu dan pengetahuan abadi yang diekspresikan dalam Bahasa manusia. Bahasa ini menjadi media bagi penyampaian yang membutuhkan pemikiran yang mendalam agar terpenuhi dan tersingkapnya segala apa yang dimaksud dalam wahyu. Oleh sebab itulah Nabi Muhammad SAW menggunakan Bahasa Arab yang bisa diartikan dengan berbagai makna; karena luasnya makna dalam Bahasa Arab. Oleh karena itu sebuah ayat dapat berarti macam-macam. Ayat-ayat tersebut dapat digunakan sebagai perlindungan dari segala macam kejahatan dan marabahaya, menyembuhkan penyakit, untuk meningkatkan suatu kelebihan, untuk pergerakan, untuk mendapatkan jawaban maupun balasan sesuai dengan yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah muslim diseluruh dunia akan selalu membaca Al-Qur’an dan Hadits dalam Bahasa aslinya:yaitu Bahasa Arab, walaupun mereka tidak mengerti Bahasa itu. Hal ini dapat dimaknai bahwa rahasia dan keberkahan ayat-ayat dan hadits-hadits yang didawamkan tersebut dapat diraih dan bisa saja khasiat-khasiat tersembunyi itu dapat terlewatkan jika dengan membaca artinya.

[12] Kitab ini berisi berbagai macam do’a, wirid, dan Hizib.

[13] Didalam kalimat Hasbiyallahu….. dapat ditemukan satu dari contoh I’jaz Adadi

Terdapat contoh-contoh I’jaz dan khawas jika ditelaah lebih dalam lagi kandungan dari ayat dan hadits yang ada pada rangkaian AlWirdul Lathif ini.