Syiah dan Sunni VS SIPILIS

Syiah dan Sunni VS SIPILIS

(Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme)

Oleh: KH. Saifuddin Amsir

Pendahuluan

Walan tardho ankal yahud…

Artinya: ””

Dalam ayat tersebut Allah sudah menjelaskan dengan gamblang, bahwasanya orang yahudi dan nasroni akan berusaha agar ummat Islam mau mengikuti ajaran mereka dan meninggalkan agama hanif yang dibawa oleh Rasulullah untuk mengajak ummat manusia agar senantiasa menyembah Allah SWT, sampai hari kiamat. Mereka (kaum Yahudi dan Nasrani) tidak akan rela dan ikhlas jika manusia memeluk agama Islam yang merupakan agama untuk semesta alam.

Salah satu cara mereka untuk menghancurkan Islam dan mengajak manusia agar mengikuti ajaran mereka adalah dengan menyebarkan paham SIPILIS (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme), yang naudzubillahnya paham tersebut sekarang sudah sangat menyebar ke tengah masyarakat, dan yang lebih menyedihkan lagi adalah, orang yang menyebarkannya mengusung nama ’Islam’ sebagai agama mereka, seperti yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia sekarang ini.

Melihat hal ini, sesungguhnya telah nyata, bahwa salah satu musuh ummat Islam sekarang ini adalah paham SIPILIS yang harus segera dihilangkan, agar tidak merusak keimanan (tauhid) dan syariat yang diturunkan oleh Allah melalui Nabi Muhammad dalam al-Qur’an dan Hadistnya. Sehingga tentunya sudah menjadi kewajiban bagi ummat Islam untuk menahan paham berbahaya tersebut agar ajaran dan tuntunan yang diajarkan Rasulullah dapat terjaga. Salah satu cara untuk menahan dan menghancurkan virus tersebut adalah dengan menyatukan visi dan misi ummat Islam, yaitu menghancurkan paham SIPILIS.

Syiah dan Sunni, sebagai dua firqah besar yang diikuti oleh mayoritas ummat Islam seharusnya bisa menjadi counter untuk menahan paham SIPILIS tersebut. Tetapi pada kenyataannya, sampai saat ini, masyarakat Islam Syiah dan Sunni lebih konsen kepada permasalahan mereka sendiri, tanpa menyadari ada paham atau musuh yang lebih berbahaya dan dapat merugikan masyarakat Islam itu sendiri, yang sedang digembor-gemborkan oleh musuh Allah, yaitu paham SIPILIS.

 

SIPILIS dan Bahayanya:

Beberapa tahun terakhir, tentu kita sering mendengar kata-kata tentang paham SIPILIS. Padahal,  pemahaman tentang SIPILIS telah berkembang jauh sebelumnya. Paham Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme merupakan paham yang diserbarluaskan oleh kaum Illuminati. Kaum illuminati adalah bagian dari kaum Yahudi dan orang-orang musyrik (menyekutukan Allah). Kaum illuminati ini berupaya agar manusia tidak mereferensikan segala sesuatu dalam kehidupan di dunia kepada Allah dan rasul-Nya dengan menyebarkan paham-paham seperti humanisme, materilisme dan sebagainya. Illuminasi berupaya mengenyahkan agama dalam kehidupan manusia. (http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/sekularisme-pluralisme-dan-liberalisme/).

Penyebaran paham SIPILIS yang dilakukan oleh kaum Illuminati (Yahudi dan kaum musyrik) merupakan bentuk permusuhan dan kebencian yang nyata yang ditunjukkan mereka kepada Islam dan ummatnya agar kita mengikuti ajaran mereka dan meninggalkan apa yang telah diperintahkan Allah melalui rasul-Nya dalam Al-Qur’an dan Hadist. Dengan mengikuti paham yang mereka ajarkan, tentunya kebaikan-kebaikan serta kebenaran yang diajarkan dalam agama kita (Islam) akan hilang dan terhapuskan. Sebagi contoh adalah jika seseorang menerapkan paham sekularisme agama, tentunya orang tersebut akan berbuat semena-mena dalam memerintah sebuah negara karena tidak didasari oleh keimanan, yang mana keimanan tersebut merupakan realisasi dan manivestasi dari sebuah agama yang dipeluknya. Kebaikan yang diajarkan oleh agama tidak akan menemani dan menuntun orang tersebut dalam menjalankan sistem pemerintahan yang diamanatkan kepadanya dengan baik dan benar, karena berpendapat bahwa agama tidak masuk bagian dalam pemerintahan. Adapun arti pemahaman sekularisme agama itu sendiri adalah memisahkan urusan dunia dari agama; agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial. Jika hubungan sesama manusia hanya diatur berdasarkan kesepakatan sosial, tentunya hal ini hanya menguntungkan beberapa pihak saja, sedangkan orang-oarng yang tidak bersepakat di dalamnya akan mengalami kerugian dan kesusahan.

Sama halnya dengan Pluralisme dan Liberalisme agama juga akan merugikan tidak hanya ajaran Islam, tetapi juga individu muslim dan tatanan masyarakat serta lingkungan di sekitarnya. Pluralisme agama merupakan suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga. Padahal jika kita lebih teliti dan memahami pluralisme agama yang dikembangkan saat ini, justru paham pluralisme merupakan sebuah paham yang tidak toleran terhadap paham yang lainnya, karena orang-orang yang menyebarkan paham ini justru memaksa orang lain untuk menerima pemahaman mereka (paham pluralisme). Hal ini seperti yang diungkakan oleh Dr. Anis Malik Thoha, Rois Syuriah NU Cabang Istimewa Malaysia (http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=530), yang menyatakan bahwa kaum pluralisme yang mengklaim bahwa pluralisme menjunjung tinggi dan mengajarkan toleransi, teatpi justru mereka sendiri yang tidak toleran karena menafikan ’kebenaran eksklusif’ sebuah agama. Mereka menafikan klaim “paling benar sendiri” dalam suatu agama, tapi justru faktanya “kaum pluralis”-lah yang mengklaim dirinya paling benar sendiri dalam membuat dan memahami statemen keagamaan (religious statement).

Selain itu, Allah telah menjelaskan dalam Al-qur’an yang berbunyi: (AYAT tentang setiap agama berbeda. Dan hanya orang yang beriman saja yang akan masuk surga).

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa setiap agama adalah berbeda. Persamaan yang dimiliki setiap agama adalah bahwa setiap agama mengajak seseorang untuk melakukan kebaikan dalam hidupnya, hidup bertoleransi dengan orang lain dan menjaga keharmonisan hidup bertetangga dan bermasyarakat.

Sedangkan Liberalisme agama adalah memahami nash-nash agama (al-Qur’an & Sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas, dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata. Jika melihat dari pengertian liberalisme agama yang mereka ajarkan, sebetulnya paham liberalisme yang mereka usung dengan sndirinya telah membelenggu ajaran dan agama lain yang mempunyai keyakinan dan syariat-syariat yang sudah ada. Mereka memaksakan pemahaman liberalisme agama agar diterima oleh masyarakat. Hal ini ditunjukkan oleh sikap kaum SIPILIS yang mencaci maki dan mengolok-olok MUI karena mengeluarkan fatwa keharaman SIPILIS, dan tidak menghargai fatwa atau pendapat yang dikeluarkan oleh MUI tersebut. Padahal, jika mereka memang tidak memaksakan atau membebaskan keberagamaan, seharusnya mereka tidak perlu emosi dalam menghadapi keputusan MUI tentang keharaman SIPILIS dan seharusnya, mereka menerima pendapat orang lain tentang paham baru yang mereka sebarkan.

Wacana-wacana paham SIPILIS yang digembar-gemborkan oleh musuh Islam saat ini merupakan sebuah ancaman bagi eksistensi keberagamaan dan keyakinan manusia terhadap kebenaran yang diyakininya. Selain itu, paham tersebut juga hanya akan menguntungkan beberapa pihak dan merugikan pihak lainnya, tidak hanya dalam masalah keagamaan, tetapi juga dalam masalah kehidupan sosial yang dapat menghidupkan kebencian dan saling curiga antar individu, ataupun dari segi ekonomi. Karena paham ini akan membuat dikotomi antara sang penguasa dan bukan penguasa, antara si pemilik harta dan si miskin.

 

Hubungan Syiah dan Sunni

Selama ini, hubungan antara masyarakat syiah dan sunni digambarkan kurang harmonis. Beberapa perbedaan pandangan dan pendapat yang terdapat pada pemahaman syiah dan sunni dapat menulut bentrokan antara masyarakat syiah dan sunni. Tiap pihak saling mengklaim bahwa merekalah yang paling benar, sehingga perbedaan sekecil apapun akan menyulut kepada peperangan dan perpecahan. Padahal, seharusnya kita mengingat bahwa masyarakat syiah dan sunni adalah saudara, karena kita semua berada dalam bendera Islam, bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Kesaksian yang mengikat antara masyarakat syiah ataupun sunni dengan Allah ini seakan terlupakan hanya karena beberapa perbedaan yang terjadi dalam mazhab.

Kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah seakan tidak bisa mengikat tali persaudaraan antara masyarakat syiah dan sunni, bahwa mereka itu adalah saudara seiman yang harus saling menolong, mendukung dan menghormati satu dengan yang lainnya. Masyarakat syiah dan sunni selama ini dibutakan oleh ego dan kebanggaan mereka sendiri, sehingga mereka lupa bahwa ada musuh lain dari luar yang lebih besar dan lebih berbahaya yang dapat menghancurkan dan menghilangkan eksistensi masyarakat syiah atau sunni bahkan agama Islam yang mereka yakini. Musuh besar tersebutlah yang seharusnya dilawan dan dihancurkan sehingga agama Islam yang kita cintai dan masyarakatnya dapat menjalani kehidupan dengan damai dan tentram.

Akan tetapi, beberapa tahun terakhir ini, hubungan antara Syiah dan Sunni bisa dikatakan mulai membaik. Salah satu tandanya adalah dengan didirikannya Dewan Pendekatan Antar – Mazhab dan menerima Syiah Imamiyyah sebagai salah satu mazhab dalam fikih Islam. Tentunya hal ini merupakan hal positif yang akan membawa sejarah baru dalam Islam bagi masyarakat syiah dan sunni yang selama ini mempunyai hubungan yang kurang harmonis.

Dengan membaiknya hubungan antara syiah dan sunni, tentunya akan membawa mimpi buruk bagi musuh-musuh Islam yang memandang bahwa hubungan kurang harmonis antara masyarakat syiah dan sunni sebagai salah satu celah untuk menghancurkan Islam dari dalam. Tetapi, dengan membaiknya hubungan antara syiah dan sunni, celah tersebut kini diharapkan tertutup.

 

Syiah dan Sunni VS SIPILIS

’Siapa yang menguasai media, tentu dia bisa menguasai dunia’. Tentu kita pernah mendengar istilah atau slogan ini. Tentunya yang dimaksud dengan menguasai dunia ini bukanlah benar-benar memiliki dunia beserta segala isinya, tetapi lebih kepada penyucian otak atau penyebaran virus pemikiran yang dapat merusak sebuah kebenaran yang hakiki. Dengan menguasai media, paham-paham yang disetujui oleh pemilik media akan lebih mudah untuk disebarluaskan dan cepat diterima oleh masyarakat. Pro-kontra yang terjadi akibat adanya paham baru yang disebarkan tentu pastilah terjadi.

Selama ini, media yang ada dikuasai oleh Yahudi. Kita tidak perlu memungkiri bahwa kaum Yahudi diberi keistimewaan berupa kecerdasaan lebih dibanding kaum lainnya oleh Allah SWT. Hal ini dapat dilihat dari dominasi Yahudi dalam segala aspek kehidupan, mulai dari masalah teknologi, ekonomi, budaya, komunikasi, hingga hiburan seluruhnya hampir dikuasai oleh Yahudi dan musuh-musuh Islam lainnya.

Walaupun demikian, ummat Islam tidak perlu berkecil hati atau menjadi takut dan lemah terhadap penguasaan Yahudi dan lainnya di hampir semua aspek kehidupan. Ummat Islam masih mempunyai Allah yang akan selalu menjaga dan menyayangi mahluk yang beriman kepadanya. Ummat Islam masih mempunyai pengikat antar satu dengan lainnya, yaitu syariat yang dibawa Nabi Muhammad berupa al-Qur’an. Selama ini ummat Islam selalu menjadi objek kesalahan dan fitnah yang dilancarkan musuh-musuh Allah. Pen-cap-an Islam sebagai agama yang tidak mengajarkan kasih sayang digembar-gemborkan oleh kaum Yahudi dan lainnya.

Tentunya kita harus lebih berfikir dan menelaah kembali, apakah keburukan, perkelahian, pertentangan antar ummat yang selama ini terjadi pada ummat Islam benar-benar campur tangan orang lain yang membenci Islam. Bisa dikatakan demikian bahwa campur tangan musuh Allah menyebabkan citra buruk masyarakat terhadap Islam. Akan tetapi, masyarakat muslim sendiri juga berperan dalam pencitraan buruk terhadap Islam itu sendiri. Selama ini, ummat Islam terpecah belah hanya karena beberapa masalah dan perbedaan yang terdapat dalam mazhab yang diyakini. Masyarakat muslim tidak melihat perbedaan mazhab yang diyakini sebagai rahmat dari Allah, bahwa setiap manusia diciptakan berbeda. Perpecahan yang terjadi di dalam ummat Islam menjadi celah bagi para musuh Allah untuk menghancurkan eksistensi Islam dan masyarakatnya dari dalam.

Untuk mencegah keburukan-keburukan musuh Allah dalam menghancurkan Islam, tentunya masyarakat Islam harus bersatu dan menyamakan pandangan, visi dan misi bahwa dibawah kalimat syahadat bahwa musuh Islam yang sebenarnya bukanlah syiah atau sunni, melainkan orang-orang yang berusaha merusak ajaran kita. Orang-orang yang berusaha merusak moral ummat Islam. Orang-orang yang ingin mempertahankan imperialisme di dunia, yaitu salah satunya adalah kaum penyebar paham SIPILIS. Ummat Islam harus meyakini bahwa musuh sebenarnya bukanlah saudara muslimnya, akan tetapi orang-orang yang ingin menghancurkan ajaran Islam. Hal ini seperti pendapat yang dilontarkan oleh Haidar Bagir yang mengatakan bahwa salah satu bahaya yang mengepung umat Muslim sekarang ini adalah kaum intelektual sekuler yang liberalis. Kaum intelektual sekuler yang liberalis dapat menjerumuskan umat Islam dalam konflik internal yang tidak produktif, memecah belah ummat Islam, menghancurkan ajaran Islam dan menghilangkan eksistensi Islam dengan menghancurkan pemikiran dan ajarannya. (http://musakazhim.wordpress.com/2007/12/15/syiah-dan-jil-pernikahan-atau-perselingkuhan/)

Paham SIPILIS yang berusaha disebarkan oleh kaumnnya dan dipaksakan kepada masyarakat agar masyarakat menerimanya merupakan salah satu musuh ajaran Islam yang dapat dikalahkan salah satu caranya adalah dengan bersatunya seluruh ummat muslim. Penolakan terhadap paham SIPILIS dan pemutusan keharaman paham tersebut tidak hanya dilontarkan oleh ulama-ulama atau komunitas sunni. Paham SIPILIS yang menolak kesakralan Al-Qur’an dan Nabi juga bisa menjadi alasan bagi komunitas syiah untuk menolak dan mengharamkan paham tersebut. Padahal kedua hal tersebut merupakan pembentuk utama Islam dan menjadi pegangan serta petunjuk untuk mencapai ridho Allah SWT.

Untuk itu, kini sudah saatnya syiah dan sunni saling bergenggam tangan, menyatukan persepsi, visi dan misi, bahwa musuh besar Islam saat ini yang harus segera diberantas adalah paham SIPILIS dan kaumnnya yang berusaha menyebarkan paham mereka ke tengah masyarakat Islam untuk menghancurkan ajaran Islam dan ummatnya.

 

Kesimpulan dan Penutup

Melihat besarnya keburukan yang dibawa dan disebabkan oleh paham SIPILIS dan orang-orang yang menyebarkannya dalam merusak akidah, syariah dan tatanan kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara, untuk itu, kita sebagai ummat Islam yang mempunyai aqidah bahwa tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, harus bersatu dan bahu membahu dalam menghapus dan menghancurkan pemahaman yan dapat menghancurkan ajaran Islam dan pemeluknya tersebut.

Dalam hal ini, kita sebagai sesama muslim, baik ummat Syiah dan Sunni harus mempertanyakan kembali dan melihat dengan jelas, siapakah musuh Islam sebenanya. Sehingga seluruh ummat Islam dapat bersatu dan mengalahkan serta menghancurkan musuh-musuh Allah tersebut.

 

Waallahu A’lam bis Showab

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s