ILMU MANTIQ

ILMU MANTIQ

 Oleh: Ust. Ubaidillah MA

 

Ilmu mantiq adalah kaidah-kaidah atau undang-undang yang penggunaannya secara tepat dapat menjaga pikiran dari kesalahan.

 

Diantara manfaat ilmu mantiq adalah membuat daya fakir akal tidak saja menjadi lebih tajam tetapi juga menjadi lebih berkembang melalui latihan-latihan berfikir dan menganalisis serta mengungkap suatu permasalahan secara ilmiah, membuat seseorang menjadi mampu meletakan sesuatu pada tempatnya dan mengerjakan sesuatu tepat pada waktunya, serta membuat seseorang mampu membedakan antara pola piker yang benar dan yang salah.

 

Pada mulanya ilmu mantiq tidak tersusun sebagai ilmu dengan disiplin tersendiri, tetapi baru pada tangan Aristoteles ia menjadi sebuah disiplin ilmu dengan adanya sistematika atau tekhnik berfikir logis yang ia susun, sehingga ia diberi gelar sebagai guru/peletak ilmu mantiq. Awalnya ia dan para filosop yunani yang lainnya menentang kelompok safsathah atau kelompok sofis yang berkembang pada saat itu, yang memiliki ketangkasan dalam berdebat yang menghujat dan merusak system social, agama dan moraldengan cara mengungkap pernyataan-pernyataan indah namun memuat penyesatan-penyesatan pemikiran dan membuang semua standar nilai dan norma moral, baik untuk kebaikan dan kebenaran ataupun untuk keburukan dan kesalahan.  seperti : kebaikan adalah yang ada pandang baik, keburukan adalah yang anda pandang buruk, dan sebagainya.

 Kemudian pada zaman khalifah Abasiyah, tepatnya pada masa penerjemahan buku-buku ke dalam bahasa Arab, ilmu mantiq menyebrang ke dunia Islam. Diantara ulama dan cendikiawan muslim yang mendalami, menerjemahkan dan mengaarang di bidang ilmu mantiq adalah Abdullah ibn al-Muqaffa, Ya’qub ibn Ishaq al-Kindi, Ibn Sina, Abu Nashr al-Farabi, Abu Hamid al Ghazali dan Ibn Rusyd.

Ilmu adalah mengerti dengan yakin atau mendekati yakin (zhan) mengenai sesuatu yang belum diketahui, baik paham itu sesuai dengan kenyataan maupun tidak. Ilmu terbagi kepada Tashawwur dan Tashdiq.

Tashawwur adalah memahami sesuatu tanpa mengenakan/meletakan sesuatu (sifat) yang lain kepadanya. Seperti memahami kata Ahmad, pohon, kambing, rumah, gunung, sungai dan sebagainya.

Tashdiq adalah memahami hubungan antara dua kata, atau menetapkan sesuatu (kata) atas sesuatu (kata) yang lain. Seperti memahami Indonesia adalah Negara kaya, Negara Mesir tidak terletak di Asia, dan Langit bukan di bawah kita.

 Masing-masing keduanya (tashawwur dan tashdiq) terbagi kepada badihi dan nazhari.

Badihi adalah pemahaman tentang sesuatu yang tidak memerlukan pkiran atau penalatan, seperti mengetahui diri merasa lapar, mengetahui diri karena dingin, mengetahui satu adalah setengah dari dua dan yang semacamnya.

Nazhari adalah pemahaman yang memerlukan pemikiran, penalaran dan pembahasan, seperti ilnu tentang matematika, kimia, radio, televise, computer, dan juga tentang alam sebagai sesuatu yang baharu yang harus ada penciptanya.

Pembahasan ilmu mantiq berkisar pada : lafazh (kata/term), qadhiyyah (susunan kata/preposisi) dan al istidlal (menarik kesimpulan).

Lafazh terbagi kepada :

a.  mufrad (tunggal) ;  yaitu kata yang tidak mempunyai bagian yang masing-masing bagian itu menunjuk kepada makna yang dikandungnya sendiri.

Lafazh mufrad terbagi kepada isim ; yaitu lafazh yang mempunyai arti tersendiri tanpa terikat dengan waktu, seperti masjid, madarsah, rumah dan lain-lain. Fi’il/kalimah ; yaitu lafazh yang mempunyai arti tersendiri yang terikat dengan waktu, seperti dzahaba = sudah pergi, yadzhabu = sedang/akan pergi, idzhab = pergilah. Dan adat/harf; yaitu sesuatu yang tidak menunujukan makna tersendiri, seperti bi (dengan), min (dari), wa (dan), dan selainnya.

Isim dilihat dari segi mafhumnya terbagi kepada kulli (universal) ; lafazh mufrod yang ketika disebutkan lantas menunjuk kepada semua arti atau maknanya. Seperti sungai, madrasah, burung dan lainnya. Juz’i (particular) ; yaitu lafazh mufrod yang ketika disebutkan hanya menunjuk kepada satu bagian saja dari keseluruhan. Seperti Jakarta, Mekkah, berlian, Ahmad dan lainnya.

Sedangkan isim dilihat dari ada atau tidak adanya madlul (yang ditunjuk) terbagi kepada muhashshal (positif) ; yaitu lafazh mufrod yang menunjuk kepada suatu benda yang ada atau suatu sifat yang ada. Seperti kota (yang ada), dermawan (sifat).  Ma’dul (negative) ; yaitu lafazh mufrad yang menunjuk kepada ketiadaan sesuatu atau ketiadaan sifat, seperti bukan kota, tidak dermawan. Adami’ (prifatif) ; yaitu lafazh mufrad yang menunjuk kepada ketiadaan sifat yang lazimnya ada, seprti buta = tidak melihat, tuli = tidak mendengar.

b.  Murakkab (majemuk) ; yaitu lafazh/ kata-kata yang bagiannya masing-masing menunjuk kepada arti atau makna tersendiri, seperti pelajar yang sungguh-sungguh akan berhasil. Akhlaq adalah dasar keselamatan, lemparlah batu.

Lafazh murakkab terbagi kepada Tam ; yaitu kata-kata yang dirangkai sehingga memberi pengertian yang lengkap, seperti Abu Ja’far al Mansur adalah pendiri daulah Abbasiyyah. Lafazh murakkab tam terbagi kepada Khabari (lafazh yang isinya mungkin benar dan  mungkin pula salah) dan insya’I (kalimat sampurna yang tidak mungkin benar dan tidak mungkin pula salah).  Naqish ; yaitu rangkaian kata yang belum memberikan pengertian sampurna, seperti kitab tebal, gadis cantik,  rumah besar itu.

Mafhum/ haqiqoh/maahiyah adalah konsep yang ada di dalam diri, sedangkan maa shadaq adalah benda yang ada dalam realita yang dikenai lafazh. Seperti lafazh insan, yang memberi dua dilalah, pertama untuk konsep, yaitu hayawanun natiq (mafhum), kedua dilalah kepada diri insan, yaitu manusia-manusia yang ada di bumi (maashadaq).

Taqabulul alfazh adalah kata-kata yang berlawanan yaitu dua kata tidak mungkin berkumpul pada satu benda dalam satu waktu, seperti hitam dan putih.

Taqabulul alfazh terbagi kepada :

  1. Naqidhain (contra dictories) yaitu berlawanan secara salab dan ijab (negative dan positif) seperti manusia dan bukan manusia, ada dan tidak ada.
  2. Diddain (contraries) yaitu berlawanan secara ijab (positif) saja, seperti hitam dan putih.
  3. c.       Mutadhoyifain (relative term) yaitu berlawanan tetapi terikat yaitu dua kata berlawanan yang tidak bisa dikumpulkan pada satu waktu padasesuatu, tetapi yang satu terikat dengan yang lainnya, seperti suami dan isteri, guru dan murid.

Al-kulliyat al-khams terdiri dari jins (genius), nau’ (species), fashl (diffentia), khash (proprium), dan irdhi ‘am (aksident).

 Jins adalah lafazh kulli yang mashadaq-nya terdiri dari substansi-substansi yang berbeda, atau lafazh kulli yang di bawahnya terdapat lafazh-lafazh kuli yang mempunyai kakna khusus. Seperti lafazh hayawan.

 Nau’ adalah lafazh kulli yang mashadaq-nya terdiri dari hakekat-hakekat yang sama, atau lafazh kulli yang bberada di bawah lafazh kulli yang lebih umum. Seperti  kata insane.

 Fashl adalah cirri/sifat atau seju,lah ciri dari hakekat (benda, diri, orang) yang dengannya berbeda substansi-substansi yang berada dalam satu jins yang satu dengan yang lainnya. Seperti lafazh insane dan hayawan dikaitkan dengan natiq.

 Khash adalah sifat atau sejumlah sifat yang dimiliki msecara khusus oleh hakekat-hakekat (mahiyyah) yang sama.seperti mampu berbahasa adalah sifat khusus manusia.

Irdhi ‘am adalah sifat atau sejumlah sifat yang dimiliki oleh hakekat-hakekat yang berbeda, seperti hitam atau putih yang bukan hanya khusus buat manusia tapi juga untuk mkhluk-makhluk yang lainnya.

Ta’rif  adalah tekhnik menerangkan baik dengan tulisan ataupun dengan lisan, yang dengannya diperoleh pemahaman yang jelas tentang sesuatu yang diterangkan. Dalambahasa Indonesia ta’rif disebut dengan definisi. Ta’rif dibagi menjadi :

   1. Ta’rif had yaitu ta’rif yang mengunakan rangkaian      lafazh kulli jins dan fashl.

Contoh : manusia adalah hewan yang berfikir.ta’rif had terbagi kepada had tam yaitu jenis yang digunakan untuk menta’rifkan memakai jenis dekat (jins qorib) seperti manusia adalah hewan yang berfkir. Dan had naqish yaitu ta’rif yang menggunakan jins ba’id dan fashl atau fashl qorib saja. Seperti manusia adalah jism (tubuh) yang dapat berfikir, dan manusia adalah yang dapat berpikir.

  1. Ta’rif rasam yaitu ta’rif yang menggunakan jins      dan irdhi khas

Ontoh : manusia adalah hewan yang dapat tertawa. Ta’rif rasam terbagi kepada rasam tam yaitu ta’rif yang menggunakan lafazh jins qorib dan fashl, seperti manusia adalah hewan yang dapat tertawa. Dan ta’rif rasam naqish, yaitu ta’rif yang menggunakan jins ba’id dengan irdhi khas, atau dengan irdhi khas saja, seperti manusia adalah jisim yang bisa tertawa, dan manusia adalah yang ketawa.

3.  Ta’rif lafazh yaitu ta’rif dengan menggunakan lafazh lain yang lebih umum diketahui orang, seperti teung adalah terigu, arca adalah patung.

4.  Ta’rif mitsal yaitu ta’rif dengan memberikan contoh, seperti Ahmad mengkap burung.

 Syarat-syarat ta’rif  :

  1. Ta’rif harus jami’ – mani’ (istilah lainnya muththarid – mun’akis) yaitu mengumpulkan/memasukan semua satuan yang dapat dita’rifkan ke dalam ta’rif , dan melarang/mencegah semua satuan hakikat yang lain dari yang dita’rifkan. Contoh : manusia adalah hewan yang berfikir.
  2. Ta’rif harus lebih jelas dari yang dita’rifkan, jadi ta’rif tidak boleh sama samarnya atau lebih samar dari yang dita’rifkan.

Contoh : Genap adalah bilangan yang habis dibagi .

  1. Ta’rif tidak boleh berputar-putar (daur).

Contoh : ilmu adalah pengetahuan di dalam otak

  1. T’rif tidak boleh memakai kat-kata majaz.

Contoh : pahlawan adalah singa yang gugur.

  1. Ta’rif tidak boleh menggunakan kata-kata mustarak (lebih dari satu arti)

Contoh : arloji adalah pukul yang di pakai di tangan.

Qodhiyah adalah susunan kata yang mengandung pengertian. Nama lain dari qodhiyah adalah khabar, seperti api panas.qodhiyah terbagi kepada hamliyah dan syartiyah.

Qodhiyah hamliyah adalah rangkaian lafazh yang mengandung pengertian.seperti Ahmad penulis. Unsur Qodhiyah hamliyah adalah  Maudhu (mubtada’ dalam ilmu nahu) dan Mahmul (khabar dalam ilmu nahu). Dalam contoh diatas Ahmad adalah Maudhu dan penulis adalah Mahmul.

 Bila dilihat dari sisi mahmulnya, qodhiyah hamliyah terdiri dari mujibah (qodhiyah yang mahmulnya ada pada maudhu’) seperti Jakarta adalah kota terbesar di Indonesia dan salibah (qodhiyah yang mahmulnya tidak ada pada maudhu’) seperti Jakarta bukanlah kota kecil.

Sedangkan jika dilihat dari sisi maudhu’nya qodhiyah hamliyah terbagi kepada sykhsiyah (qodhiyah yang maudhu’nya merupakan orang/manusia tertentu) seperti Abu Bakar adalah khalifah Rasulullah yang pertama. Muhmalah (qodhiyah yang maudhu’nya lafazh kulli, tetapi mahmulnya belum tentu ada pada semua atau sebagian satuan maudhu’) seperti manusia dapat mengikuti pengajaran tinggi. Kulliyah (qodhiyah yang maudhu’nya lafazh kulli dan mahnulnya ada atau melekat kepada seluruh satuan maudhu’) seperti seluruh makhluk hidup butuh akan makanan. Dan juz’iyah (qodhiyah yang maudhu’nya lafazh kulli, sedang mahmulnya ada pada sebagian darisatuan maudhu’ itu saja) seperti sebagian makhluk hidup.

 Sur adalah pagar atau batas.qodhiyah yang diberi sur disebut qodhiyah musawwaroh (dipagari atau di batasi). Sur terbagi kepada :

1.   Sur kulli ijabi, yang terdiri dari kullun (tiap-tiap), jamiun (sekalian), ‘ammatun (umumnya) dan kaffatun (selurhnya). Semua mahasiswa hadir.

2.   Sur kulli salabi, yang terdiri dari la syai’ (tidak satupun), la ahada (tak seorangpun), la haula (tidak ada satupun upaya). Seperti tak satupun manusia itu batu.

3.   Sur juz’i ijabi, yang terdiri dari ba’dhun (sebagian), seperti sebagian manusia pengajar.

4.   Sur juz’i salabi, yang terdiri dari laisa ba’dhu (tidaklah sebagian), ba’dhu laisa (sebagian tidak), seperti tidak ada sebagian mahasiswa hadir.

 Qodhiyah syarthiyah adalah dua qodhiyah yang dirangkai dengan adat syarat, seperti apabila matahari terbit maka siang ada/datang. Unsur qodhiyah syartiyah terdiri dari : muqoddam (qodiyah pertama) dan tali (qodhiyah kedua).

Contoh : jika matahari terbit (muqoddam) terjadilah siang (tali).

 Qodhiyah syartiyah terbagi kepada muttasilah (menyatu dan mengikat secara kausalitas) seperti kapan saja makhluk tumbuh/hidup maka butuh makan, dan munfasilah (berpisah, berlawanan atau bertentangan) seperti adakalanya manusia itu penyanyi, adakalanya penulis.

 Qodhiyah syartiyah muttasilah terdiri dari mujibah dan salibah, yang masing-masing keduanya terbagi kepada makhsusah, kulliyah, juz’iyyah dan muhmalah.

Sur qodhiyah syartiyah muttasilah terbagi kepada sur kulli ijabi, sur kulli salabi, sur juz’i ijabi dan sur juz’i salabi.Demikian pula sur qodhiyah syartiyyah munfashilah.

 Tanaqudh adalah dua qodhiyah berlawanan secara positif (ijab) dan negative (salab) sehingga yang satu benar dan yang lainnya salah. Contoh : emas barang tambang, emas bukan barang tambang. Kelapa buah, kelapa bukan buah.

Syarat tanaqudh adalah :

1.   sama maudhu’ pada Q.I dan Q.2. jadi tidak tanaqudh anatara muhammmad kawin dengan Ali tidak kawin, sebab maudhu (subyek) dari kedua contoh tidak sama.

2.   sama mahmul pada Q.1 dan Q.2 jadi tidak tanaqudh antara umar bekerja keras dengan umar pergi ke pasar.sebab mahmul pada contoh terebut tidak sama.

3.   sama waktu pada Q.1 dan Q.2 jadi tidak tanaqudh antara hasan tidak tidur sekarang dengan hasan tidak tidur kemarin. Sebab waktu pada keduanya tidak sama.

4.   sama tempat terjadi pada Q.1 dan Q.2 jadi tidak tanaqudh antara hindun duduk di rumah dengan hindun tidak duduk di kantor. Sebab tempat pada keduanya tidak sama.

      5.   sama dalam hal cara Q.1 dan Q.2 jadi tidak ada tanaqudh antara anggur menjadi cuka (dibuat) dengan anggur tidak menjadi cuka (dengan sendirinya).

6.   sama dalam hal sebagian dan keseluruhan Q.1 dan Q.2, tidak tanaqudh antara orang kamerun putih sebagiannya, dengan orang kamerun tiada putih seluruhnya.

7.   sama syarat pada Q.1 dan Q.2, tiada tanaqudh antara ia akan berhasil jika ia bekerja keras dengan ia tidak akan berhasil jika ia malas.

 8.   sama idhofah pada Q.1 dan Q.2, tiada tanaqudh antara umar abu rani sehat dengan umar abu rita sehat.sebab idhofahnya tidak sama.

Tanaqudh qodhiyah hamliyah

1.   Syhahsiyah mujibah    :                                lawan      syahsyiah salibah         :

      Itu Muhammad                                                           itu bukan Muhammad

2.   Kulliyah mujibah         :                               lawan      juz’iyah salibah            :

Setiap yang tumbuh butuh makanan                           kadang-kadang tidak,

                                                                                    Setiap yang                                                                 

tumbuh butuh makanan

3.   Juz’iyah mujibah         :                               lawan      kuliyah salibah             :

      Sebagian bangsa suadah merdeka                               tiada satupun bangsa

sudah merdeka

4.   Muhmalah mujibah     :                               lawan       kulliya salibah             :

      Kelapa buah                                                                kelapa bukan buah

 

Tanaqudh qodhiyah syartiyah muttasilah

1.   Makhshushah mujibah  :                      lawan    Makhshushah salibah :

      Jika amin rajin, ia akan berhasil                          tidaklah, jka amin rajin ia akan

   berhasil

2.   Kulliyah mujibah           :                     lawan    Juz’iyah salibah          :

      Setiap kali bangsa bersatu,                                 tidaklah, setiap bangsa bersatu

      Pembangunan akan berhasil                              pembangunan akan berhasil

3.   Juz’iyyah mujibah         :                     lawan    Kulliyah salibah          :

      Kadang-kadang jika murid rajin                        tidak sama sekali, kia murid,

      Ia mendapat hadiah                                            rajin ia mendapat hadiah

4.   Muhmalah mujibah       :                     lawan     Kulliyah salibah         :

      Jika harga migas naik,                                        tidaksama sekali, jika harga

      Pasaran internasional ramai                                migas naik  pasaran

                                                                                 internasional ramai

 

Tanaqudh qodhiyah syartiyah munfasilah

1.   Makhshushah mujibah     :                    lawan    makhshushah salibah :

    Adakalanya ibrahim di kampus                          tidaklah, adakalanya ibrahim di

    Hari ini atau di luar kampus                                 kampus hari ini atau di luar

                                                                                 Kampus

2.   Kulliyah mujibah               :                    lawan    Juz’iyyah salibah       :

      Selamanya, adakalanya suatu berita                     kadang-kadang tidak,

      Benar atau salah                                                  adakalanya suatu berita benar

atau salah

3.   Juz’iyyah mujibah             :                    lawan    Kulliyah salibah         :

      Kadang-kadang adakalanya udara                      tidak sama sekali, adakalanya

      Bersih, adakalanya kotor                                    udara bersih, adakalanya kotor.

4.   Mahmulah mujibah           :                   lawan    Kulliyah salibah          :

      Adakalanya mobil berjalan,                                  tidak sama sekali, adakalanya

     Adakalanya berhenti                                              mobil berjalan, adakalanya

                                                                                    berhenti

 

Aks mustawi adalah dua qhodiyah yang di bolak balik  tidak berubah dan mempunyai pengertian yang sama. Jadi ia berbeda dengan tanaqudh, yang jika dua qodhiyah diperlawankan/dibalik maka yang satu benar dan yang lainnya salah.

Contoh : setiap orang Aceh adalah bangsa Indonesia (Q.1)

               Sebagian bangsa Indonesia adalah orang Aceh (Q.2)

 

Aks terbagi kepada :

1.   Aks qodhiyah hamliyah, yaitu :

   –   Mujibah kulliyah           balikannya         mujibah juz’iyah

       Setiap batu keras                                      sebagian dari yang keras adalah batu      

   –  Salibah kulliyah             balikannya          salibah kulliyah

       Tak satupun hewan itu ketawa                 tiada satupun yang ketawa itu hewan

   –   Mujibah juz’iyyah        balikannya           muibah juz’iyyah

       Sebagian pisang masak dengan dikarbit   sebagian yang masak dikarbit adalah

  pisang

   –  Salibah juz’iyyah          balikannya           tidakada

      Tidaklah sebagian barang                         tidaklah emas sebagian barang

      Tanbang emas                                          tambang (salah)

2.   Aks qodhiyah syartiyah muttasilah

   –  Mujibaj kulliyah                  balikannya     Mujibah juz’iyyah

      Setiap kali ada api, ada panas                    kadang-kadang jika ada panas, ada

 api

   –  Salibah kuliyah                    balikannya      Salibah kulliyah

      Tidak sama sekali, jika ini                          tidak sama sekali, jika ini

      Kerbau adalah kuda                                    kuda adalah kerbau

   –  Mujibah juz’iyyah                balikannya     Mujibah juz’iyyah

      Kadang-kadang, jika murid                        kadang-kadang, jika ia berhasi,

      Rajin, ia berhasil                                         ia murid yang rajin

   –   Salibah juz’iyyah                  balikannya     tidak ada

       Kadang-kadang tidak, jika benda               kadang-kadang tidak, jika benda ini

       Barang tambang maka ia adalah emas       emas, ia barang tambang (salah)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s