SHALAWAT KEPADA NABI

UBAYDILLAH

SHALAWAT KEPADA NABI

(MAKALAH)

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
mata kuliah tafsir ahkam

Dosen :
Ust. Lutfi Khaerullah. MA

Disusun oleh :
UBAIDILLAH

MA’HAD ALY – ZAWIYAH JAKARTA
Jl. Budi Harapan – Cipinang Melayu – Jakarta Timur
Tahun 2011

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN …………………….……………………………..I
BAB II PEMBAHASAN ……………………………………………………3
Dsar hukum ………………………………………………….………3
Makna umum ayat …………………………………………….……..3
Lafad shalawat dan salam kepada nabi ………………………………4
Makna / arti shalawat Allah dan Malaikat kepada nabi ………………5
Hukum bershalawat …………………………………………………..7
Membaca shalawat dalam shalat ……………………………………..8
Shalawat kepada selain para nabi …………………………………….9
BAB III PENUTUP ………………………………………..…………………10
Hikmah al-tasyri ……………………………………………………10
Kesimpulan …………………………………………………………11
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………11

BAB I
PENDAHULUAN

Puji syukur kehadirat Allah SWT, tuhan pencipta alam semesta. shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada jungjungan nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya dan para pengikutnya sampai hari qiamah. Amma Ba’du

MUHAMMAD SAW. Adalah seorang manusia yang dipilih oleh Allah SWT, menjadi utusan-Nya dan menerima wahyu untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia sampai hari qiamah. Beliau adalah penutup para nabi1 dan rasul, tidak akan ada lagi nabi dan rasul setelahnya. Risalah dan syareatnya menjadi rahmat bagi seluruh alam –karena tujuan utama diutusnya adalah untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam-2, berlaku sepanjamg masa dan senantiasa sesuai dengan segala tempat dan waktu 3.

Muhammad SAW. Adalah manusia yang paling agung dan mulia di sisi Alllah SWT, di dalam dirinya terkumpul semua akhlaq yang agung, 4 budi pekerti dan prilaku terpuji yang diridhoi oleh Allah SWT, karena akhlaq beliau adalah al-qur’an.5 Kelahiran dan diutusnya beliau ke dunia ini merupakan rahmat, ni’mat dan karunia yang paling besar untuk umat manusia. Dengan diutusnya beliau, sampurnalah risalah ilahi, manusia dapat mengetahui bagaiman tata cara bertauhid/ beriman kepada Allah SWT dengan baik benar, bagaimana tata cara berakhlaq dengan akhlaq yang mulia baik terhadap Allah maupun terhadap sesama manusia dan lingkungannya, serta yang terpenting adalah manusia bisa selamat dan bahagia di dunia dan diakherat jika mengikuti dan mentaati apa yang diperintahkannya.

1. Lihat Q.S. Al-Ahzab : 40
2. Lihat Q.S. Al- Anbiya : 107
3. Teerdapat ungkapan dikalangan para pakar hukum Islam : “Al-Syari’ah al-Islamiyyah shalihatun li kulli zaman wa makan “ ( Syareat Islam pantas untuk dipedomani dalam segala waktu dan tempat).
4. Lihat Q.S. Al- Qolam : 4
5. Riwayat dari Siti Aisyah ketika beliau ditanya tentang akhlaq nabi, beliau menjawab : “Akhlaq (nabi) adalah al-qur’an”

Oleh karena itu menjadi kewajiban bagi kita selaku umatnya untuk bergembira dan mensyukuri ni’mat yang besar dan agung ini. 6 Salah satu wujud atau cara bersyukur kepada Allah SWT terhadap ni’mat tersebut adalah dengan banyak membaca shalawat kepada nabi Muhammad SAW. –selain karena hal itu memang diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya- Namun kemudian bagaiman cara atau lafad bershalawat kepada nabi Muhammad SAW ? Apa makna shalawat Allah SWT dan malaikat ?, Bagaimana hukum bersalawat ?, Apakah wajib membaca shalawat dalam shalat ? dan apakah boleh membaca shalawat kepada selain para nabi alaih shalawat wa salam?.

Pertanyaan-pertanyaan di atas akan dicoba dibahas/ dijawab dalam makalah ini, dengan tujuan untuk mengetahui bagaiman cara atau lafad bershalawat kepada nabi Muhammad SAW ? Apa makna shalawat Allah SWT dan malaikat ?, Bagaimana hukum bersalawat ?, Apakah wajib membaca shalawat dalam shalat ? dan apakah boleh membaca shalawat kepada selain para nabi alaih shalawat wa salam?.

6. Lihat Q.S. Yunus : 58.

BAB II
PEMBAHASAN

Dasar Hukum

56. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya
57.Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.
58. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. ( Q.S. Al- Ahzab : 56-58 )

Makna Umum Ayat
Allah SWT mengabarkan kedudukan dan maqom/tempat rasulullah SAW yang agung, dan mulya di sisi-Nya, kepemimipnan dan posisi yang terpuji pada tempat yang tinggi, dan kekhususan yang diberikan Allah berupa pujian yang harum dan penyebutan namanya yang baik. Maka Allah SWT berfirman mengenai makna ayat : “ Sesungguhnya Allah merahmati nabinya, mengagungkannya, dan meninggikan maqomnya, para malaikat-Nya yang baik dan tentara-tentara-Nya yang suci mendoakan dan memohonkan ampunan untuknya. Mereka meminta kepada Allah agar Allah memberkahi dan memulyakan hamba dan nabi-Nya, yaitu nabi Muhammad SAW. Menempatkannya pada posisi yang tertinggi, menampakan/mengunggulkan agamanya, memberikan pahala yang besar, kebaikan yang umum serta karunia yang agung kepadanya dan umatnya.” Oleh karena itu wahai orang-orang mu’min : “bershalawatlah 7 kalian kepadanya, agungkanlah urusannya, ikutilah syareatnya dan perbanyakalah membaca salawat dan salam kepadanya. Disaat kalian melaksanakan itu, kalian tidak akan bisa memenihi haknya, sungguh ia telah menyelamatkan atau menunjukan kalian dari kesesatan menuju petunjuk, dan dengan sebabnya (nabi Muhammad) Allah mengeluarkan kalian dari kegelapan menuju kepada cahaya. ( Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (al-qur’an) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar maha penyantun lagi maha penyayang terhadapmu). Maka ucapakanlah sebagaiman Allah menyebut namanya yang mulya : Allahumma solli ala Muhammad wa sallim tasliman kasiran. Dan berdoalah kepada Allah, agar Allah memberikan pahala yang besar kepada kalian.”

Kemudian Allah SWT mengabarkan bahwa orang-orang yang menyakiti Allah dan rasul-Nya, maka mereka akan mendapatkan murka dan laknat Allah di dunia dan di akherat. Dan Allah telah menjanjikan kepada mereka azab yang pedih yang tidak dapat diketahui haqeqat dan kedahsyatannaya. Demikian pula orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat, yang menisbatkan perbuatan yang tidak dilakukan oleh orang-orang mu;min kepada mereka, melakukan kebohongan, dosa dan dusta kepada mereka, serta mengatakan apa-apa yang tidak dkatakan oleh orang-orang mu’min. Mereka orang-orang yang melakukan perbuatan tersebut juga akan mendapatkan azab yang pedih di dunia dan di akherat sebagai balasan atas perbuatan mereka yang buruk.8

7. Shalawat menurut bahasa bermakna do’a dan istigfar (do’a dan ampunan) seperti terlihat dalam firman Allah : “ washolli alaihim Hnna sholaataka Sakanullhum lahum ; Dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu menjadi ketentraman bagi mereka.” ( Q.S. Al-Taubah : 103). Maknanya berdo’alah dengan memohon ampun dan rahmat bagi mereka. Bisa juga salawat bermakna rahmat, seperti terlihat dalam sabda nabi : “ Allahumma solli ala aali Abi Aufa “, menurut Al-Ajhari salawat disini bermakna rahmat, yaitu berilah rahmat keluarga Abi Aufa.”. Dan bisa juga shalawat bermkna al-Tamjid dan al-Sana, yaitu pujian seperti terlihat dalam firman Allah : “ Ulaaika alaihim sholawatum min al-robbihim wa rahmah ; Mereka itulah yang mendapa keberkahan yang sampurna dan rahmat dari tuhan mereka.” ( Q.S. Al- Baqarah : 157). Lihat Ali al-Shobuni : Rawaiul Bayan , Tafsir Aayat al-Ahkam Min al-qur’an, Dar al-kutub l-Islamiyyah, Jakarta, 2001 M/1422 H, Hal : 289 dan 296
8. Ibid. hal 291.
Lafad Shalawat dan salam kepada Nabi
Lafad atau shigat shalawat kepada nabi Muhammad SAW, dalam sunnah nabi bisa melalui beberapa bentuk, diantaranya :
1. Riwayat Bukhari dan Muslim dari Kaab ibn Ujrah ra, ia berkata : “Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW : Ya rasulullah ! cara / lafad salam kepadamu kami telah mengetahui, (tetapi ) bagaimana cara / lafad bershalawat kepadamu ?. Rasulullah SAW menjawab : Ucapakanlah :
اللهم صل على محمد وعلى ال محمد , كما صليت على ابراهيم انك حميد مجيد , اللهم بارك على
محمد وعلى ال محمد , كما باركت على ابراهيم انك حميد مجيد
2. Riwayat Imam Malik Ahmad, Bukhari dan Muslim dari Abi Humaid al-Sa’idi ra, bahwa para sahabat bertanya : Wahai rasulullah SAW ! bagaimana kami bershalawat kapadamu ? Rasulullah SAW menjawab :
كما صليت على ال ابراهيم اللهم صل على محمد وازواجه وذريته
وبارك على محمد وازواجه وذريته, كما باركت على ال ابراهيم انك حميد مجيد
3. Riwayat jamaah dari Abi Sa’id al-Khudri Ra, ia berkata : “Kami bertanya wahai rasulullah, (membacakan) salam kepadamu kami telah mengetahuinya, ( tapi) bagaimana bershalawat kapadamu ?” Rasulullah menjawab, ucapkanlah :
اللهم صل على محمد عبدك ورسولك , كم صليت على ابراهيم , وبارك على محمد وعلى ال محمد , كما باركت على ابراهيم , في العالمين انك حميد مجيد
4. Riwayat Muslim, Tirmidzi dan Nasa’i dari Abi Mas’ud al-Badri Ra, ia berkata : “ Nabi SAW dating kepada kami yang sedang berada di majlisnya Saad ibn Ubadah, kemudian Basyir ibn Saad berkata : Wahai rasulullah !Allah telah memerintahkan kami untuk bershalawat kepadamu, maka bagaimana bershalawat kepadamu ?. Rasulullah diam sehingga kami mengharap ia (Basyir ibn Saad) tidak menanyakannya. Kemudian beliau menjawab :
كما صليت على ابراهيم , وبارك على محمد وعلى ال محمد , كما باركت , اللهم صل على محمد وعلى ال
على ابراهيم انك حميد مجيد , والسلام كما علمتم
Dalam riwayat lain : اللهم صل على محمد النبي الامي وعلى ال محمد
Sedangkan lafad salam, adalah : السلام عليك يا رسول الله dan dalam tasyahud seorang yang shalat berkata : السلام علسك ايها النبي ورحمة الله وبركانه dan makna salam sendiri itu bermakna do’a keselamatan dari segala cobaan, bahaya dan penyakit-penyakit. Sedangkan menurut Ibn Saib, makna salam adalah turut atau patuh -tidak membangkang- yaitu sallimu ( laksanakanlah) apa yang diperintahkan kepada kalian.9

Makna / arti shalawat Allah dan Malaikat kepada nabi SAW
Menurut Al-Bukhari dan sebagian ulama bahwa makna shalawat dari Allah kepada nabi SAW, adalah pujian-Nya. Dan menurut Ali al-Shobuni 10 makna inilah yang paling zdohir. Sedangkan menurut al-Hasan al-Basri dan Sa’id ibn Zubair bermakna rahmat dan ampunan-Nya untuk nabi Muhammad SAW. Ada juga yang memaknai dengan berkah dan karamah.11
Sedangkan mengenai makna shalawat Malaikat kepada nabi berdasarkan susunan ayat ( ان الله و ملائكته يصلون على النبي (para ulama berbeda pendapat menyangkut ta’wilnya . berikut beberapa pendapat mengenai hal tersebut :
a. Sebagian ulama berpendapat bahwa dalam ayat tersebut ada sesuatu yang dibuang / disimpan, hal tersebut ditunjukan oleh susunan atau siyaq ayatnya, takdirnya adalah : “ Bahwa Allah bershalawat kepada nabi, dan Malaikat juga bersalawat kepada nabi. Dengan demikian wawu yang ada pada susunan ayat itu kembali kepada Malaikat secara khusus. Hal ini diperkuat oleh qiroah atau bacaan rofa pada kata وملائكته ) ), dan lafad tersebut bukan menunjukan musytarok antara Allah dan Malaikat-Nya.
b. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa susunan ayat tersebut termasuk bab al-Jam’u bainal haqiqah12 wal majaz,13 ini adalah pendapat yang dipilih oleh imam al-Fakhr al-Rogi 14 dan mazhab imam al-Syai’i . menurutnya, boleh menggunakan lafad musytarok 15 pada dua makna sekaligus, sebagaimana bolehnya mengumpulkan atau menggabungkan antra haqiqat dan majaz, oleh karena itu lafad ( يصلون ) kembali

9. Ibid. hal 294-295. Lihat juga Ibn Kasr ; Tafsir al-qur’an al-Azim. Juz 3. Hal 1500-1501
10. Ibid. hal 296
11. Ibn Jauzi. Zaad al-Masir fi ilmi al-tafsir. Juz 6. hal 398
12. Haqiqah adalah lafad yang digunakan untuk arti yang sesuai dengan peristilahan bidang ilmu tersebut. Lihat Dr. m. hasan Haitu; al-Wajiz ushul al-Tasyri al-Islami. Beirut : Muassasah al-Risalah. 1984 M / 1405 H. HAL 111. Prof.Dr. mukhtar Yahya – Prof. fatcurrahman; Dasar-dasar pembinaan hukum Islam. Bandung : al-Ma’arif. 1986 M. hal 259
13. Majaz adalah lafad yang digunakan untuk suatu arti yang semula lafad itu bukanlah diciptakan untuknya. Ibid. hal 259. dan Hal 111
14. Muhammad ibn Umar al-Razi; Mafaatih al-Ghaib. Juz 6. hal 787
15. Musytarok adalah lafad yang mempunyai dua arti atau lebih yang berbeda-beda. Misalnya lafad “quru” mempunyai arti suci dan haid. Dr. M. hasan Haitu. Op.cit. hal 107. Prof. Dr. Mukhtar Yahya. Op.cit. hal 254.
kepada Allah dan Malikat-Nya dengan dua makna sekaligus, dengan demikian makna ayat menjadi : ان الله تعتلى يرحم نبيه وملائكته يدعون له ( Sesungguhnya Allah ta’ala memberi rahmat kepada nabi-Nya, dan Malaikat mendoakan untuknya).
c. Sekolompok ulama yang lain berpendapat bahwa hal tersebut masuk dalam kategori bab umumul majaz, bukan termasuk bab al-Jam’u bainal haqiqah wal majaz. Maka mereka mentaqdirkan makna majazi umum, yang menyusun banyak afrod atau bagian-bagian yang dicakup oleh lafad ini. Dan makna umum ini adalah seperti “ inayah /pertolongan Allah kepada nabi SAW”, maka inayah tersebut bisa datang dari Allah pada satu sisi, dan bisa dari Malaikat pada sisi lain. Ini juga adalah pendapat yang dipilih oleh Abi Su’ud, Abi Hayyan, Jamakhsari dan para mufassir yang lainnya. 16
Abu Su’ud berkata : firman Allah ( يصلون على النبي ) menurut satu qaul adalah : Shalawat dari Allah adalah rahmat, sedankan dari Malaikat adalah istigfar. Ibn Abbas berkata : sesunggunya Allah memberi rahmat kepadanya, dan Malaikat mendoakannya. Maka dengan demikian yang dimaksud dengan (يصلون ) makna majazi umum, setiap bagian dari makna yang tlah disebut sebagai makna haqiqi baginya, yaitu mereka menjaga dengan sesuatu yang mengandung kebaikan dan kemaslahatan , dan menampakan kemulyaan serta keagungannya. Dan hal itu adalah rahmat jika dari Allah, sedangkan dari Maliakat adalh doa dan istigfar.17
Abu Hayyan 18 berkata : “ (jika ) Shalawat Allah bukan shalawat Malaikat, bagaiman hal itu disebut isytiroq ?”. Abu Hayyan menjawab : “ isytiroq pada ukuran musytarok adalah maksud sampainya atau tercapainya kebaikan kepada mereka. Maka Allah menghendaki dengan rahmat-Nya dan sampainya kebaikan kepada mereka, dan Malaikat menghendaki hal tersebut dengan istigfar.

Hukum Bershalawat
Allah SWT memerintahkan orang-orang mu’min untuk bershalawat kepada nabi SAW, perintah ini adalah wajib, dengan demikian bershalawat kepada nabi adalah

16. Ali al-Shobuni. Op. cit. hal 296-297
17 Abu Su’ud; Irsyadul al-Aqli al-Saliim. Juz 6. hal 799
18. Muhammad ibn Yusuf Ibn Hayyan ; al-Bahrul al-Muhit. Juz 7. hal 237

wajib. dan para ulama hampir berijma atas wajibnya membaca shalawat dan salam kepada nabi satu kali seumur hidup. Bahkan imam al-Qurtubi menghikayatkan terjadinya ijma mengenai hal tersebut, karena mengamalkan tuntunan perintah wajib yang ada pada kalimat ( صلوا ), oleh karena itu shalawat dan salam seperti mengucapkan kalimat tauhid, dilihat dari sisi tidak sahnya islam seseorang kecuali dengan melafalkannnya.
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum shalawat kepada nabi SAW, apakah wajib pada semua majlis / tempat ?. (dan apakah juga wajib ) ketika setiap kali namanya disebut ? ataukah sunnat ?. Ada beberapa pendapat mengenai hal tersebut :
1. sebagian ulama berpendapat bahwa hukum membaca shalawat adalh wajib setiap kali nama nabi disebut.
2. ulama yang lain berpendapat bahwa itu hukumnya wajib hanya satu kali di majlis walaupun nama nabi disebut beberapa kali dalam majlis tersebut.
3. Ulam yang lainnya lagi berpendapat bahwa wajib memperbanyak membaca shalawat tampa harus terikat dengan jumlah dan majlis, dan itu tidak cukup hanya satu kali seumur hidup.
4. Jumhur ulama berpendapat bahwa membaca shalawat kepada nabi adalah bentuk taqorrub / pendekatan kepada Allah dan sebagai ibadah, dan hal itu wajib satu kali seumur hidup serta mandub atau sunnah pada setia waktu dan kesempatan. Dan mesti memperbanyak membaca shalawat karena nabi bersabda : “ Siapa yang membaca shalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan membaca shalawat kepadanya sepuluh kali”. 19

Membaca shalawat dalam shalat
Para fuqoha berbeda pendapat mengenai hukum membaca shalawat kepada nabi dalam shalat, yang terbagi kepada :
Pendapat pertama : yaitu pendapat dari mazhab al-Syafi’i dan Ahmad adalah wajib dan shalat tidak sah tanpa membaca shalawat. Alasan pendapat ini diantaranya :

19. Ali al-Shobuni. Ibid. hal 297-298. menurutnya pendapat yang paling shahih dan unggul adalh pendapat jumhur ulama.
a. perintah dalam ayat : “ Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kalian kepadanya “. Perintahnya menunutu kewajiban, dan tidak wajib selain pada tasyahud, maka membaca shalawat wajib dalam shalat.
b. Hadits Kaab ibn Hujrah : “ Kami berkata kepada rasulullah, kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana kami bershalawat kapadamu ?
Beliau menjawab : ucapakanlah اللهم صل على محمد وعلى ال محمد ….20
Pendapat kedua : yaitu pendapat mazhab Malik dan Abu Hanifah adalah sunnah muakkadah dalam shalat, dan shalat sah tanpa membaca shalawat walaupun makruh. Alasan pendapat ini adalah :
a. Firman Allah : “Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kalian kepadanya “. Kata mereka, ayat ini mengandung perintah shalawat kepada nabi, zhohirnya menunutu wajib, maka kapan saja seseorang membacanya satu kali dalm shalat atau diluar shalat, maka ia telah melaksanakan tuntutannya / kewajibannya.. Ini seperti kalimat tauhid dan tashdiq kepada nabi, jika seseorang telah melakukannya satu kali saja seumur hidup, maka ia telah melaksanakan kewajibannya. Dan perintah menunutu wajib bukan pengulangan.
b. Hadits Ibn Mas’ud ketika nabi mengajarkannnya membaca tasyahud, maka rasul berkata : “ jika kamu telah melaksanakan ini, atau engkau telah mengatakannya, maka telah sampurna shalatmu. Jika kamu ingin melakukannya, maka lakukanlah, kemudian pilihlah perkataan / ucapan yang paling baik yang kamu kehendaki”.
c. Hadits Muawiyah al-Silmi bahwa nabi berkata : “ Sesungguhnya shalat kita ini tidak sah di dalamnya ada ucapan manusia, (tetapi) ia adalah tasbih, tahlil dan membaca al-qur’an”. Nabi tidak menyebut shalawat. 21

Shalawat kepada selain para nabi.
Menurut sebagian ulama shalawat boleh kepada selaian para nabi. Karena shalawat bermakna do’a, dan do’a boleh kepada para nabi dan kepada selain para nabi. Mereka berhujjah dengan ucapan nabi SAW : اللهم صل على ال ابي اوفي . Sedangkan menurut kebanyakan ulama, shalawat itu adalah Syi’ar, yang khusus untuk para nabi, “

20. Ibid. hal. 298-299. lihat juga Ibn al-Kasir; Tafsir al-qur’an al-adzim. Juz 3. Beirut : Dar al-Fikr. Hal. 1501
Maka tidak boleh untuk selain mereka, dengan demikian tidak boleh jika kamu mengucapakan : “ Allahumma sholli ala al-Syafi’i aw ala Abi Hanifah”. 22

BAB III
PENUTUP

Hikmah al-Tasyri
Allah SWT mengagungkan dan memuji rasul-Nya Muhammad SAW, meniggikan kedudukannya di atas para nabi yang lain, menempatkannya pada posisi yang tinggi yang sesuai dengan kedudukannya yang tinggi pula, memerintahkan orang-orang muu’min untuk beradab kepada rasul yang mulia, mengagungkan dan membesarkannya serta Dia bershalawat kepadanya di malail a’la bersama para malaikat yang suci, ini semua ditunjukan untuk memberitahukan orang-orang mu’min terhadap kedudukan nabi yang mulia tersebut, agar mereka mengagungkan dan memulyakannya, serta mentaati perintahnya. Karena beliau adalah sebab kebahagian dan kegembiraan mereka di dunia dan diakherat.
Alllah memerintahkan orang-orang mu’min untuk bershalawat kepada rasul yang mulya, Dia menjadikannnya sebagai kewajiban yang keimanan tidak sampurna tampa hal tersebut, Dia mengharamkan menyakitinya dengan ucapan maupun perbuatan, melarang segala perbuatan jelek dan permusuhan yang dapat mencedrai kedudukannya dan menjadikan hal tersebut sama dengan menyakiti-Nya. Karena membohonginya sama dengan membohongi Allah ta’ala, menghinanya sama dengan menghina kepada Allah, karena ia adalah rasul Allah. Maka wajib untuk mentaati semua perintahnya, dan memulyakan ucapannya, karena ia menyampaikannya dari Allah SWT. Firman Allah : “ Siapa yang mentaati rasul berarti ia mentaati Alllah “.23

22. Menurut Abu su’ud shalawat kepada selain para nabi itu boleh jika dengan tab’iyyah ( tidak berdiri sendiri) seperti اللهم صل على محمد و اله وذريته واتباعه المؤونين dan makruh secara istiqlal (berdiri sendir) seperti اللهم صل على ذرية محمد . Ibid. hal 300. Ibn Kasir. Juz 3. hal 1509.
23. Ali al-Shobuni. Op. cit. hal 302

Kesimpulan
1. Kedudukan kenabian adalah kedudukan yang mulia, dan pangkat rasul adalah pangkat yang agung di sisi Allah SWT.
2. Pujian Allah kepada nabi-Nya yang mulia dan ppujian Malaikat yang suci adalah salah satu dari kedudukan rasul yang tinggi.
3. Memulyakan dan mengagungkan rasul wajib bagi semua orang mu’min, karena ia termasuk mengagungkan dan mentaati Allah .
4. Bershalawat kepada nabi mesti menggunakan shigat atau ucapan yang disyareatkan.
5. Sunnah bagi seorang muslim untuk bershalawat kepada rasul manaala namanya disebut sebagai bentuk pelaksanaan perintah Allah.
6. Ada perbedaan pendapat dari para ulama tentang hukum membaca shalawat dalam shalat dan bershalawat kepada selain para nabi.
7. Menyakiti rasul SAW adalah menyakiti Allah dan itu menjadi sebab datangnya murka Allah.

DAFTAR PUSTAKA
Ali al-Shobuni, Muhammad : Rawaiul Bayan , Tafsir Aayat al-Ahkam Min al-qur’an, Dar al-kutub – Islamiyyah, Jakarta, 2001 M/1422 H,
Ibn al-Kasir; Abd al-Fida ; Tafsir al-qur’an al-adzim. Juz 3. Beirut : Dar al-Fikr. 1430 H / 2009 M
Dr. m. hasan Haitu; al-Wajiz ushul al-Tasyri al-Islami. Beirut : Muassasah al-Risalah. 1984 M / 1405 H.
Prof.Dr. mukhtar Yahya – Prof. fatcurrahman; Dasar-dasar pembinaan hukum Islam. Bandung : al-Ma’arif. 1986 M
Abu Su’ud; ; Irsyadul al-Aqli al-Saliim. Juz 6. Beirut : Dar al-Fikr
Ibn Yusuf Ibn Hayyan, Muhammad ; al-Bahrul al-Muhit. Juz 7. Beirut : dar al-Fikr
Ibn Umar al-Razi, Muhammad ; Mafaatih al-Ghaib. Juz 6. Beirut : Dar al-Fikr

NB : Tentang fadilah dan keutamaan Shalawat kepada nabi, lihat tafsir Ibn Kasir hal : 1503-1508

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s