BAGAIMANA BISA PORKAS ITU HALAL?

UBAYDILLAH

?BAGAIMANA  BISA  PORKAS ITU HALAL

( Tanggapan Terhadap Pendapat Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML )*

Oleh Ustaz Ubaidillah, MA

PENDAHULUAN

ISLAM adalah ajaran terakhir yang diwahyukan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw. Tidak ada lagi rasul sesudah itu yang diutus dan tidak terdapat lagi wahyu yang diturunkan untuk mengatur kehidupan umat manusia dimuka bumi ini. Hal ini mengisyarakan bahwa agama Islam yang dinyatakan sampurna diakhir hayat rasulullah itu, benar-benar membawa ajaran yang memiliki dinamika sangat tinggi, mampu menampung segala macam persoalan baru yang ditimbulkan oleh perkembangan sosial. Sehubungan dengan itu, terdapat ungkapan yang kerap kali muncul dikalangan para pakar hukum Islam, yaitu ” al-Syari’ah al-Islamiyyah Shalihatun li kulli zaman wa makan (Syareat Islam pantas untuk dipedomani dalam segala waktu dan tempat)”. Ungkapan itu menjadi sebuah perinsip yang menjadi keyakinan umat Islam sepanjang masa.

Senada dengan itu imam al-Syafi’i  ra, (w. 204 H) dalam kitab monumentalnya, al-Risalah, menegaskan bahwa tiap-tiap peristiwa yang terjadi pada diri seorang Muslim pasti terdapat hukumnya dalam wahyu Allah.

Setiap Muslim yang mengerti  -walau hanya sedikit- tentang al-qur’an, cara pewahyuannya, penulisannya, dan pengumpulannnya, pasti meyakininya sebagai Kitab Suci yang tidak sedikitpun keraguan padanya dan menghimpun pok-pokok ajaran Allah Swt yang disampaikan melalui nabi terakhir, Muhammad Saw. Dalam berbagai ayat-Nya, Allah Swt menegaskan bahwa risalah Nabi Muhammad Saw ditujukan kepada seluruh umat manusia (Q.S. Saba’ : 28) dan sebagai rahmat bagi alam semesta (Q.S. al-Ambiya : 107). Untuk itu, Allah pun memberikan jaminan bahwa al-qur’an senantiasa akan terpelihara keaslian dan kemurniannya sepanjang masa (Q.S. al-Hijr : 9). Siapa saja yang secara sadar  tidak mengakui hukum-hukum yang tercantum di dalamnya, atau mengakuinya dalam hati tetapi sementara menolak dan mengingkarinaya dalam ucapan dan perbuatannya, maka ia dapat digolongkan sebagai “kafir”, “zalim”, ataupun “fasiq”. (Q.S. al-Maidah : 44, 45, dan 47).

* Tema ini penulis pilih dari salah satu pertemuan kuliah dari mata kuliah Tayyarat Fikriyah di Ma’had Aly Zawiyah Jakarta yang diasuh oleh Abuya Prof.K.H. Saifudin Amsir pada tanggal 5 Desember 2010, dimana beliau  mengungkapkan tentang salah satu pergolakan pemikiran yang pernah terjadi di Indonesia sekitar tahun 80-an adalah pendapat  Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML, tentang halalnya PORKAS. (porkas itu bukan judi).

Kendati al-qur’an telah diturunkan dengan keterangan-keterangan yang pada umumnya mudah dimengerti, namun tidak semua orang mampu memahaminya dalam tingkatan yang sama. Oleh sebab itu Allah Swt menugasi Nabi Muhammad Saw, agar menjelaskan kepada manusia, bagian –bagian al-qur’an yang  dirasa terlalu ringkas dan padat (Q.S. al-Nahl : 44). Dan untuk selanjutnya, mengingat bahwa Nabi Saw, secara biologis, adalah manusia biasa yang pada saatnya juga mengalami kematian seperti manusia-manusia yang lainnnya, maka Allah Swt telah menetapkan orang-orang tertentu yang luas ilmunya dan banyak mengerti tentang al-qur’an (ahl al-dzikri) untuk menjelaskan bagi manusia sepeninggal Nabi Saw. (Q.S. al-Nahl : 43). Hal ini mengingat juga bahwa al-qur’an –seperti yang dijelaskannnya sendiri dalam Q.S. Ali Imran ayat : 7- mengandung ayat-ayat yang muhkamat (yang tegas dan pasti artinya) yang merupakan pokok atau inti pengetahuan (ummul kitab), disamping ayat-ayat mutasyabihat yang tidak terlalu jelas serta tidak mudah dimengerti kecuali oleh al-rasikhun fi al-ilmi (orang-orang yang luas dan kuat ilmunya).1

Demikian pula di bidang hukum, ada ayat-ayat yang mengandung dalil hukum yang qoth’iy (jelas susunan kata-katanya sehingga dapat dipahami dengan mudah tampa keraguan sedikitpun), contohnya, firman Allah : “………Dan bagi kamu (para suami) setengah bagian (dari harta peninggalan) isteri-isteri kamu apabila mereka tidak mempunyai anak.” (Q.S. al-Nisa : 12). Akan tetapi adapula ayat yang mengandung dalil yang zhanniy (yang kurang jelas atau mengandung arti lebih dari satu). Contohnya, firman Allah : “Para isterinya yang diceraikan hendaknya menjalani masa tunggu (iddah) selama tiga quru’.” Kata quru’ menurut bahasa Arab bisa berarti “masa haid” atau sebaliknya, “massa suci dari haid”. Sebagian ahli fiqih seperti Abu Hanifah, berdasarkan petunjuk-petunjuk tertentu, memilh arti pertama. Sedangkan ahli fiqih lainnya, seperti imam Syafi’i, memilih arti kedua. Selain itu, disamping perbedaan arti kata yang digunakan, masih ada lagi penyebab timbulnya perbedaan pendapat para ulama. Misalnya, perbedaan tentang dapat atau tidaknya suatu Hadits dijadikan dalil, perbedaan yang berkaitan dengan kaidah-kaidah penyimpulan (istimbat) hukum, dan beberapa penyebab lainnya yang tidak dapat disebut disini semuanya. 2

1. Sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa ayat-ayat mutasyabihat hanya diketahui maksudnya oleh Allah Swt     saja. Akan tetapi beberapa ahli tafsir lainnya menyatkan bahwa al-rasikhun fi al-ilmi diberi Allah keistimewaan untuk memahaminya. Sebab, seandainya tidak ada manusia yang mampu mengetahui artinya, walau sebagian saja, maka tidak ada gunanya ayat-ayat tersebut diturunkan kepada manusia. Lihat pembahasan tentang ayat muhkamat dan mutasyabihat  dalam al-Suyuthi, al-Itqon fi ulumi al-qur’an, Darl al-kutub al-Islamiyah, Beirut 2007 M. hal 311-316.

2. Lihat uraian prof. Dr. M. Syaltut, al-Islam Aqidah wa Syari’ah, yang diterjemahkan oleh Fachrudin HS. Cetakan I, Bina Aksara, Jakarta 1985, hal 269.

Penggunaan pemikiran untuk memilih, menganalisis dan menetapkan suatu hukum syareat seperti ini, dalam istilah ahli hukum Islam (fuqaha) disebut “ijtihad”. Akan tetapi, jika contoh ijtihad seperti di atas berkaitan dengan sesuatu yang dalilnya bersifat  zhanniy, kemudian bolehkah seseorang melakukan ijtihad dalam sesuatu yang dalilnya bersifat qoth’iy ? Bolehkah kita melanggar suatu nash yang qoth’iy dengan alasan tertentu seperti demi kemaslahatan  umum, demi memenuhi keadilan ataupun sebab-sebab lain yang kita perkirakan dalam suatu peraturan hukum lainnya?. Menurut penulis disinilah letak permasalahan (masalah qoth’iy dan zhann’iy) yang menyebabkan timbulnya pendapat Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML, tentang porkas tersebut, disamping sebab-sebab lainnya. Dan dari sini pula lahirnya wacana ruang lingkup pembahasan ijtihad, dalam arti sejauh mana ijtihad itu diperbolehakan dan dalam hal-hal (ayat-ayat atau masalah-masalah) bagaimana ijtihad bisa diterapkan?.

Makalah ini membahas tentang pendapat Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML, tentang porkas, dan tanggapan penulis tentang pendapat beliau mengenai porkas tersebut, disamping itu juga pembahasan tersebut akan diawali terlebih dahulu dengan pembiicaraan mengenai ruang lingkup ijtihad. Tujuan makalah ini adalh untuk mengetahui alasan/dalil yang dijadikan sandaran oleh Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML, tentang porkas, dan sudut pandang penulis dalam menanggapi pendapat tersebut. Dalam makalah ini (pada bagian akhir) dicantumkan pula komentar penulis tentang tayyarat al-fikriyyah, yaitu salah satu mata kuliah  di Ma’had Aly- Zawiyah Jakarta, yang diasuh oleh Abuya Prof.K.H. Saifudin Amsir serta metodologi yang beliau gunakan dalam memberikan kuliah tersebut.

PEMBAHASAN

Ruang lingkup ijtihad

Sebagaimana setiap ketentuan yang berlaku dikalangan masyarakat beradab, memiliki aturan permainan, demikian pula soal ijtihad dan ketentuan hukum agama pun memiliki aturan permaianan. Oleh para ulama yang kompeten, aturan permainan tersebut telah disimpulkan dari perinsip-perinsip umum al-qur’an dan sunnah serta praktek para sahabat dan tabi’in, yang kemudian dituangkan dalam disiplin ilmu yang disebut Ushul fiqih.3

Telah disepakati bahwa hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan ibadah maupun muamalah, harus berdasarkan nash atau dalil al-qur’an atau sunnah Nabi  Saw.    Apabila tidak

 3. Ushul fiqih adalah Mengetahui dalil-dalil/petunjuk fiqih secara global, tatacara beristinbat (memperoleh) hukum-hukum syara dari dalil-dalil tersebut dan mengetahui kualifikasi atau syarat-syarat para mujtahid. Lihat Dr, Ahmad Hasan Haitu, al-Waziz fi Ushuli al-Tasyri al-Islami, Beirut, Muassasa al-risalah, 1405 H/ 1984 M

dijumpai pada keduanya, atau dalil yang ada dianggap kurang jelas, maka digunakanlah ijtihad untuk menentukan hukumnya, dengan tidak meninggalkan perinsip-perinsip umum yang dapat diketahui dari ayat-ayat ataupun hadit-hadits.

Dari uraian tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan yamg merupakan salah satu kaidah yang disepakati oleh para ahli ushul al-fiqih : “Tidak diperkenankan berijtihad dalam hukum-hukum yang berdasarkan nash qot’iy.” Berdasarkan hal itu, apabila suatu nash telah diyakini sumbernya dari firman Allah dan sunnah rasulullah, dan juga telah diyakini makna dan sasaran yang ditujunya, maka tidak ada lagi ruang untuk berijtihad padanya. Termasuk dalam hal ini, ketetapan-ketetapan syareat yang telah menjadi kesepakatan umum para ulama besar terdahulu maupun yang kemudian, seperti tentang kewajiban shalat lima waktu sehari-semalam, kewajiban puasa ramadhan atau tentang wanita-wanita yang haram dinikahi disebabkan karena hubungan kekeluargaan tertentu, atau tentang kadar bagian harta warisan bagi masing-masing ahli waris, atua tentang diharmkannya memakan daging babi, minum khamar, dan lain sebagainya seperti tersebut dalam al-qur’an dengan jelas dan pasti. 4

Sebaliknya, apabila nash yang mendasari suatu hukum masih bersifat zhani’y –mengandung unsur keraguan dan kesamaran, baik berkaitan dengan arah sumbernya ataupun makna dan tujuannnya- maka disinilah terdapat ruang untuk berijtihad. Demikian pula jika tidak dijumpai nash apapun mengenai suatu masalah, maka dalam hal ini juga berlaku dan terbuka kesempatan yang luas untuk berijtihad dalm mencari hukumnya. Termasuk dalam kategori ini perkara-perkara yang bersifat duniawi (tekhnis), yang semua orang sepakat tentang digunakannya ra’yu (penalaran) untuk mengatur dan menanganinya, sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman setra kemajuan ilmu pengetahuan, seperti hal-hal yang menyangkut system dan alat pertanian, pengangkutan, komunikasi, peperangan, kedokteran dan sebagianya. Karena hal ini sudah digariskan oleh nabi Saw : “Kalian lebih mengetahui daripada aku tentang urusan-urusan duniamu.”

Khulasah-nya, ijtihad hanya dibolehkan dalam hal-hal yang memang tidak ada nash-nya, atau ada nash-nya namun bersifat zhaniy. Sebaliknya, tidak ada ruang untuk berijtihad dalam sesuatu yang telah ada nash qot’iy padanya. Oleh sebab itu dari sisi ini, pendapat  Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML, tentang porkas, menurut hemat penulis tidaklah tepat, karena porkas ( berjudi/ maysir ) yang dikatakan dalam al-qur’an surat al-Maidah ayat : 90-91 :

 4. Lihat al-Syaukani, Irsyad al-Fuhul ila Tahqiq al-Haqq min ‘Ilm al-Ushul. Dalam Dr. Nasrun Rusli, Konsep ijtihad al-Syaukani, Logos, Jakarta, 1420 H/ 1999 M. hal 102

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (90) Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu) (91)”  Adalah termasuk kategori ayat atau nash yang qotiy (jelas susunan dan maksudnya). Dan jika sudah menyangkut hal yang qot’iy, seperti yang telah diungkapan di atas, maka tidak ada ruang untuk berijtihad.

Pendapat Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML, tentang porkas

Menurut ijtihad Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML, porkas bukanlah termasuk maysir (berjudi)  yang diharamkan oleh al-qur’an, seperti yang tercantum dalam surat al-maidah ayat : 90-91. Hasil ijtihadnya ini, katanya, mengingat bahwa illat (alasan) diharamkannnya maysir karena dilakukan berhadap-hadapan sehingga dapat menjadi alat setan dalam menimbulkan rasa permusuhan dan kebencian, seperti tersebut dalam ayat di atas. Dengan tidak adanya unsur berhadap-hadapan dalam peraktek porkas, maka tidak akan timbul permusuhan dan kebencian. Dengan demikian, illlat diharamkannya maysir tidak dapat diterapkan pada porkas. Karena itu, porkas adalah halal.

Terhadap pendapat atau hasil ijtihad beliau itu, menurut hemat penulis, haruslah dibedakan antara illat (alasan langsung) dengan hikmah (hasil atau akibat tersembunyi) seperti yang dijelaskan oleh para ahli ushul fiqih.5 Dalam hal ini kekhawatiran timbulnya permusuhan dan kebencian merupakan salah satu hikmah  -bukan illat-  diharamkannya maysir. Mungkin saja pada situasi-situasi tertentu ia tidak menimbulkan kebencian dan permusuhan. Dan -sebalknya,-  mungkin saja masih ada hikmah-hikmah lain selai yang ada dalam ayat tersebut, misalnya, rusaknya akhlaq dan hancurnya perekonomian masyarakat, dan lain-lain. Adapun illlat sebenarnya  dalam pengharaman maysir ialah seperti dalam firman-firman Allah daam berbagai ayat mengenai hal itu, yaitu bahwa maysir  itu adalah itsm kabir (kejahatan dan dosa besar) seperti dalam surat al-Baqarah ayat 219  dan Rizs (perbuatan keji) seperti dalam surat al-Maidah atay : 90.

5.Mmengenai perbedaan antara illat dan hikmah, lihat Abdul Wahab Khalaf, Ilm Ushul Fiqih, diterjemahkan oleh Noer Iskandar al-Barsany dan Muhammad Tolchah Mansoer,Kaidah-kaidah hukum Islam, Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada, 1996. hal 96. lihat juga Dr, Ahmad Hasan Haitu, al-Waziz fi Ushuli al-Tasyri al-Islami, Beirut, Muassasa al-risalah, 1405 H/ 1984 M  Hal 402

Alasan lain penolakan kita terhadap fatwa Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML, diatas, adalah pengharaman  terhadap maysir dan khamar (minuman keras) disebutkan dalam satu ayat (Q.S. al-Maidah : 90). Dengan mengikuti fatwa tersebut, tentunya kita dapat  pula menyatakan bahwa minum khamar pun halal selama dilakukan diruangan yang sepi dan tidak berhadap-hadapan dengan siapapun. Sebab dalam keadaan seperti itu, tidak akan timbul kebencian dan permusuhan. Padahal seperti halnya maysir, khamar diharamkan karena ia merupakan keji dan mengakibatkan madharat besar (antara lain menghilangkan akal orang yang meminumnya). Karena itu khamar tetap haram baik dilakukan sendirian ataupun berhadap-hadapan dengan orang lain. Dalam hal keduanya telah terpenuhi illat pengharamannya, yaitu sebagai itsm kabir dan rizs.

PENUTUP

Demikian pembahasan dan tanggapan tentang pendapat Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML, tentang porkas, Penulis yakin masih banyak jawaban jawaban lain sebagai tanggapan dari pendapat ini dari para ulama yang ahli, terutama Abuya Prof. K.H. Saifudin Amsir –yang menurut pengakuan beliau sendiri pada waktu itu-  langsung berdebat (menanggapi) pendapat .Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML Sebagai tambahan ( dengan tampa bermaksud su’uzhan) penulis ingin mengatakan pula bahwa mungkin pendapat beliau tersebut lahir dari ‘jastifikasi’ ( pembenaran) terhadap keadaan yang berlaku ditengah –tengah masyarakat, “seolah-olah” beliau menerima pesan khusus dari rezim yang mememerintah saat itu, karena beliau pada saat itu menjabat sebagai ketua komisi fatwa Majlis Ulama Indonesia Pusat.

Demikian Wa Allah A’lam

Selanjutnya penulis ingin memberikan komentar terhadap mata kuliah Tayyarat al-Fikriyyah yang diasuh oleh Abuya Prof. K.H. Saifudin Amsir, di Ma’had Aly – Zawiyah Jakarta.  Namun sebelumya,  penulis memohon maaf kepada beliau jika terdapat kesalahan dan kekhilafan dalam komentar ini, hal itu karena keterbatasan bahasa dan kemampuan penulis untuk bisa mengomentari seseorang yang sangat penulis hormati dan mulyakan, yaitu guru penulis sendiri; Abuya Prof. K.H. Saifudin Amsir.  Bahasa dan kemampuan yang dimiliki penulis sangat sempit dan dangkal, sementara  sosok, ilmu pengalaman beliau; Abuya Prof. K.H. Saifudin Amsir sangat luas dan dalam.

 Adalah menjadi kewajiban kita selaku muslim yang mengimani syareat Allah untuk senantiasa mempersembahkan sebanyak-banyaknya ungkapan puji mensyukuri rahmat-Nya yang tidak putus-putusnya yang kita nikmati sepanjang hidup, terutama nikmat hidayah yang menerangi jalan hidup kita menuju kepada keridhaan-Nya. Itulah dia jalan keselamatan dan kebahagian abadi. Salah satu wujud hidayah itu dapat kita temui pada sosok Abuya Prof. K.H. Saifudin Amsir.

Abuya Prof. K.H. Saifudin Amsir. Adalah sosok ulama, kiyai, tokoh, cendikiawan , intelektual dan dosen yang mumpuni dalam ilmu dan pengalaman. Ilmu dan pengalaman beliau orizinil, luas, dalam, lengkap dan komprehensif. Sosok beliau ibarat ‘universitas’ yang kokoh dan tegap berdiri ditengah-tengah terpaan dan terjangan badai pemikiran yang hendak menggoyahkan Islam dan meracuni umat. Universitas itu selalu memancarkan pintu-pintu mata air ilmu yang dingin dan sejuk, yang mana umat bisa masuk dari pintu mana saja, meminum dan membawa  untuk bekal dahaganya. Hal itu disebabkan karena perjalanan karir intelektual  dan pengalaman yang beliau alami,  baik dalam dunia formal maupun informal, baik secara mandiri maupun organisasi, baik melalui seminar, penelitian, perkuliahan maupun melalui pengajian-pengajian. Berikut adalah beberapa perjalanan karir intelektual dan pengalaman ataupun “silaturrahmi” (pertemuan ilmiah) yang diketahui penulis :

1. Menjadi dosen UIN (dahulu IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta selama kurang lebih 20  tahun.dengan spesialisasi tafsir dan filsafat Islam.

2.  Bersilaturrahmi (pertemuan ilmiyah) dengan Syekh DR. Pu’ad Jibril

3. Bersilaturrahmi (pertemuan ilmiyah) dengan Syekh Muhammad Ali al-Taskhiri (tokoh taqribuk mazahib al-Islamiyyah)

4.  Bersilaturrahmi (pertemuan ilmiyah) dengan Syekh Dr. Nawaf Takruri ( Rabithah Islamiyyah, Palestina)

5.  Bersilaturrahmi (pertemuan ilmiyah) dengan al-Habib Umar al-Hafidz, Yaman

6. .Bersilaturrahmi (pertemuan ilmiyah) dengan Prof DR. Wahbah al-Zuhaili, ulama dintelektual internasional.

7.  Bersilaturrahmi (pertemuan ilmiyah) dengan ulama-ulama Iran

8.  Bersilaturrahmi (pertemuan ilmiyah) dengan ulama international di Madinah

9. Kunjungan-kunjungan ke luar negeri baik dalam rangka seminar maupun pertemuan-pertemuan ilmiyyah seperti ke mekkah, Madinah, Syiria, Libiya dan lain-lain.

10. Mengadakan praktikum filsafat ke tarekat Tijaniyyah dan Syatariyyah, serta tarekat Naqsabandiyyah dan Qodariyyah (di sini  -dalam praktikum filsafat-  beliau mampu menemukan dari masing-masing aliran tarekat tersebut hal-hal yang “aneh” atau masih perlu dipelajari dan didalami serta dipahami lebih lanjut).

11. Mengadakan praktikum filsafat ke Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyakara dan Sekolah Teologi (ST) Kristen ( di sini beliau banyak berdialog bersama para pendeta seperti Frans Magis Suseno dan W.S. Jabat. Dan salah satu pendapat para pendeta yang beliau kutip berdasarkan pertanyaan beliau kepada pendeta itu adalah bahwa ada pengakuan dari salah satu pendeta (kalau penulis tidak salah pendeta itu bernama W.S. Jabat) di depan peserta (mungkin acara semacam orasi ilmiyyah) bahwa : “Al-qur’an itu adalah wahyu Allah“.

12. Mengadakan praktikum filsafat ke agama Hindu dan Budha melaui Departemen Agama.

      Pada saat itu beliau “mempertanyakan” tentang hubungan ajaran agama Hindu (yang tidak mengakui adanya Tuhan yang maha Esa) dengan sila pertama dari Pancasila, yaitu Ketuhanan yang maha Esa. ( no 10, 11 dan 12 penulis mendapatkan keterangan ini dari salah satu pertemuan kuliah yang di asuh oleh beliau pada mata kuliah Tayyarat al-Fikriyyah, tanggal 8 Januari 2011).

13. Mengadakan dialog dengan para pendeta ( jika tidak salah berjumlah 5 orang) yang sengaja datang ke kediaman beliau.

14. dan lain –lain.

Adapun mengenai mata kuliah Tayyarat al-Fikriyyah, menurut saya (kami) adalah merupakan mata kuliah yang sangat penting, karena ia merupakan bagian dari sejarah agama. Tayyarat Fikriyyah sendiri bisa bermakna : Pergolakan pemikiran. Dari sini, kita dapat memahami sejarah (khususnya Islam) tentang bagaiman perjalanan Islam –terlepas dari baik atau buruk- melahirkan ide, pemikiran, dan gagasan yang pernah lahir dan muncul dalam kehidupan umat, dan mungkin banyak yang belum atau bahkan tidak saya (kami) ketahui secara baik dan benar. Tentunya, ide, pemikiran dan gagasan tersebut merupakan usaha dan upaya dalam mewujudkan ajaran dan nilai-nilai Islam untuk diterapkan dalam kehidupan umat,  dan juga bisa dijadikan ibrah, pelajaran, serta bahan pertimbangan untuk bagaimana mewujudkan Islam yang damai dan mendatangkan rahmat bagi umat manusia di masa kini dan yang akan datang.

Selain itu juga, dengan adanya mata kuliah Tayyarat al-Fikriyyah, kita dapat mengetahui model-model dan tokoh –tokoh yang mencetuskan ide, pemikiran dan gagasan-gagasan itu. Juga latar belakang, motif dan arah atau saran dari ide, pemikiran dan gagasan-gagasan tersebut, khususnya yang pernah –dan mungkin akan terus- terjadi di Indonesia karena kita adalah orang (umat) yang lebih khusus mendapat tanggung jawab untuk menjaga, mengawal dan membendung ( untuk ide, pemikiran dan gagasan-gagasan yang tidak sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai Islam) demi kedamaian dan ketenangan umat Islam di Indonesia.

Adapun mengenai metode perkuliyahan yang digunakan oleh Abuya Prof. K.H. Saifudin Amsir pada mata kuliah Tayyarat al-Fikriyah adalah  metode ceramah. Menurut kami metode itu sesuai dengan karakter beliau yang memiliki lisan / berbicara yang fasohat, ditambah lagi dengan keilmuan dan wawasan serta pengalaman beliau yang luas. Dengan demikian hal itu sangat cocok untuk karakter mata kuliah tayyarat al-fikriyyah yang memerlukan pembacaan, pemikiran, penalaran dan wawasan yang tinggi dan dalam. Namun demikian mungkin sesekali perlu ada metode lainnya, seperti diskusi untuk materi-materi tertentu.     Demikian Wa Allah A’lam

DAFTAR PUSTAKA

All-Suyuthi, Jalaludin,  al-Itqon fi ulumi al-qur’an,  Beirut, Darl al-kutub al-Islamiyah, 2007 M.

Syaltut, Muhammad, prof. DR. al-Islam Aqidah wa Syari’ah, yang diterjemahkan oleh Fachrudin HS. Cetakan I, Bina Aksara, Jakarta 1985

 Hasan, DR. ,Ahmad  Haitu, al-Waziz fi Ushuli al-Tasyri al-Islami, Beirut, Muassasa al-risalah, 1405 H/ 1984 M

 Al-Syaukani, Irsyad al-Fuhul ila Tahqiq al-Haqq min ‘Ilm al-Ushul. Dalam Dr. Nasrun Rusli, Konsep ijtihad al-Syaukani, Logos, Jakarta, 1420 H/ 1999 M.

 Khalaf, Abdul Wahab, Ilm Ushul Fiqih, diterjemahkan oleh Noer Iskandar al-Barsany dan Muhammad Tolchah Mansoer,Kaidah-kaidah hukum Islam, Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada, 1996.

BAGAIMANA  BISA  PORKAS  ITU  HALAL ?

( Tanggapan Terhadap Pendapat Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML )

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi tugas Ujian semester

Mata kuliah Tayyarat al-Fikriyyah

Dosen Pembimbing :

Abuya Prof. K.H. Saifudin Amsir

Di susun oleh :

UBAIDILLAH

 

MA’HAD  ALY – ZAWIYAH –  JAKARTA

JL. Cipinang Melayu Jakarta Timur

Tahun 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s