KEDUDUKAN HILAH DALAM SYARI’AT ISLAM

Tugas Makalah

 

KEDUDUKAN HILAH

DALAM SYARI’AT  ISLAM

Mata Kuliah : Ayatul Ahkam

Dosen Pembimbing : Ustadz Lutfi Khairullah MA

Disusun Oleh :

Syamsul Hidayat

 Ma’had Aly Zawiyah Jakarta

Mei 2011

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam yang telah mencurahkan segala perhatian-Nya, untuk makhluk ciptan-Nya. Shalawat dan salam hanya untuk Nabi Muhammad yang penuh keberkahan di tangannya, syafaat yang agung terhampar bagi siapa saja yang Allah kehendaki, mudah-mudahan kita termasuk dalam golongannya.

Tugas makalah yang menjadi kewajiban bagi setiap mahasiswa pasca sarjana di ma’had Ali Zawiyah, sering kali membuat deadline yang terlewat. Hal ini terjadi karena kesibukan yang tak bisa dihindari, bekerja, keluarga, mengisi ta’lim dan bermasyarakat. Berbagi dan memilah semua kegiatan hanya itu yang dapat kami lakukan.

Ayatul ahkam mata kuliah yang diasuh oleh Ustad Lutfi Khairullah, MA. Mengambil judul “Kedudukan Hilah dalam syari’at Islam” masih sangat sedikit referensinya. Hal inilah yang membuat penulis berusaha mengeksplorasi kemampuan, dengan mencoba bertanya kesana kemari termasuk kepada dosen pengasuh mata kuliah ini. Alhamdulillah dapat kami selesaikan walaupun agak sedikit mulur dari waktu yang seharusnya.

Semoga tulisan sedikit ini bisa memberikan wawasan, dan diskusi yang intensif sangat diperlukan guna perbaikan disana sini. Mudah-mudahan ini menjadi timbangan amal kebajikan di akhirat kelak, amin.

Jakarta, Juni 2011

Penulis

DAFTAR ISI

  1. Kata Pengantar ………………………………………………………………………………………………..          1
  2. Daftar isi ……………………………………………………………………………………………………………           2
  3. Bab I Pendahuluan ………………………………………………………………………………………….         3
  4. Bab II Pengertian dan Macamnya ……………………………………………………………….       6
  5. Bab III Hikmatut Tasyri’ ………………………………………………………………………………..         9
  6. Bab IV Penutup ………………………………………………………………………………………………..          11
  7. Daftar Pustaka …………………………………………………………………………………………………          12

BAB I

PENDAHULUAN

Didalam Al qur’an surat shad (38) ayat 41 – 44

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ (41) ارْكُضْ بِرِجْلِكَ هَذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ (42) وَوَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنَّا وَذِكْرَى لِأُولِي الْأَلْبَابِ (43) وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِهِ وَلَا تَحْنَثْ إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ (44)

41. Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan.”

42. (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.”

43. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.

44. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya)

Menurut para mufassir, ayat diatas menjelaskan tentang kisah Nabi Ayyub as yang memberikan hukuman kepada istrinya karena suatu sebab, ketika Nabi Ayyub ditimpa suatu penyakit yang cukup berat. Ia pernah marah kepada istrinya, lalu ia bersumpah akan memukulnya seratus kali kalau ia sudah sembuh.

Ketika Allah menyembuhkan penyakit yang diderita oleh Nabi Ayyub as, ia melaksanakan sumpahnya yang pernah di ucapkannya saat sedang sakit berupa pukulan sebanyak seratus kali kepada istrinya. Kemudian Allah swt memberikan jalan keluar baginya, yaitu ia disuruh menghimpun seratus rumput lalu dipukulkannya kepada istrinya dengan sekali pukulan, sehingga ia tidak melanggar sumpah yang telah ia ucapkannya.

Berdasarkan kisah diatas, maka fuqaha berbeda pendapat. Apakah orang yang bersumpah akan memukul hambanya seratus kali, kemudian dihimpun dalam sekali pukulan itu dipandang cukup atau ia harus memukulnya sebanyak yang di ucapkannya. Atau dengan kata lain merekayasa suatu hukum tanpa menghilangkan hakikatnya, inilah yang disebut hilah الحيلة .

Pokok bahasan yang akan diurai pada makalah ini seputar masalah hilah. Mulai dari pengertian, jenis-jenis, contoh dan hikmatut tasyri’ yang terkandung didalamnya.

BAB II

PENGERTIAN DAN MACAM HILAH

  1. A.     Pengertian

Secara bahasa, kata al hilah الحيلة    sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mempunyai arti : segala cara yang mengantarkan kepada tujuan dengan cara yang tersembunyi (lembut).

Adapun secara istilah al hilah adalah melakukan suatu amalan yang zahirnya boleh untuk membatalkan hukum syar’i serta memalingkannya kepada hukum yang lainnya.

Kalimat hilah lain yang terdapat dalam al qur’an ada pada surat Yusuf (12) ayat 70 yang berbunyi :

فَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ جَعَلَ السِّقَايَةَ فِي رَحْلِ أَخِيهِ ثُمَّ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ أَيَّتُهَا الْعِيرُ إِنَّكُمْ لَسَارِقُونَ

Maka tatkala telah disiapkan untuk mereka bahan makanan mereka, Yusuf memasukkan piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan: “Hai kafilah, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri.”

Dugaan mereka tidak benar, sebab apa yang dilakukan Nabi Yusuf itu adalah atas izin dari Allah swt, berdasarkan firman Allah  pada surat yang sama ayat 76 :

كَذَلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya.

  1. B.     Macamnya

Menurut Ibnul Qayyim, terdapat dua macam hilah :

  1.  yang diperbolehkan. Baik pelaku atau penyeru (yang mengajaknya) akan mendapatkan pahala.

Hilah macam ini yang mengantarkan kepada amalan yang diperintahkan oleh Allah swt dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya, menghentikan dari sesuatu yang haram, memenangkan yang haq dari kezaliman yang menghalang dan membebaskan orang yang dizhalimi dari penindasan orang-orang yang zhalim.

Contoh hilah yang diperbolehkan yaitu :

  1. Keringanan yang diberikan Allah kepada Nabi Ayyub memukul istrinya seratus kali, digantikan dengan seratus ikat rumput.
  2. Nabi Muhammad pernah menghukum dengan cara dipukul seratus kali pukulan orang yang anggota tubuhnya tidak normal berzina, ternyata hanya sekali pukulan dengan seratus tangkai kurma.
  3. Nabi pernah bertemu dengan golongan musyrik, sedang beliau berada dalam rombongan sahabat.

Musyrik : “dari mana kamu semua.”

Nabi menjawab : “kami dari air.” (maksudnya kami tercipta dari air, dan mereka menyangka bahwa ada kabilah yang namanya air/ma’un).

Mereka saling berpandangan mendengar jawaban Nabi.

Musyrik : “Penduduk Yaman banyak mungkin mereka dari sana.”

Kemudian mereka lolos.

  1. Yang tidak diperbolehkan. Merupakan perbuatan paling jelek dari perkara yang diharamkan dan termasuk dosa besar.

Hilah ini bertujuan untuk menggugurkan kewajiban, menghalalkan perkara yang haram, membolak balikan keadaan dari orang yang teraniaya menjadi pelaku aniaya dan orang yang zalim seakan menjadi orang yang terzalimi, merubah kebenaran menjadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran.

Contoh hilah yang tidak diperbolehkan yaitu :

  1. Orang yang tidak mau puasa Ramadhan, dengan cara merencanakan safar setiap bulan Ramadhan datang.
  2. Orang yang berusaha membatalkan hukuman potong tangan karena mencuri, dengan mengklaim bahwa orang yang mengambilnya adalah barang miliknya sendiri, atau barang serikat antara dirinya dengan pemilik barang yang diambilnya.
  3. Orang yang tidak mau shalat, ngaji dan sebagainya dengan anggapan percuma shalat atau ngaji, kalau nantinya masih melakukan kemaksiatan.

BAB III

HIKMATUT TASYRI’

Islam diturunkan Allah swt, dengan membawa syariat dan pelajaran agar dijadikan sebagai aturan hidup dalam segala masa dan ihwalnya. Oleh karena itu setiap perkara telah ditentukan prinsip hukumnya serta memelihara kemaslahatan dalam penerapannya, begitu juga tabiat manusia sangat diperhatikan.

Melakukan hilah itu boleh, selagi tidak membatalkan perkara haq atau tidak merusak tatanan syari,at Allah yang lurus.

Sumpahnya Nabi Ayyub yang akan memukul istrinya adalah merupakan rahmat dari Allah swt. Kepadanya dan kepada istrinya yang telah berkhidmat merawatnya serta sabar atas cobaan yang menimpa suaminya dan cobaan yang menimpa dirinya sendiri dengan penderitaan yang dialami suaminya, dimana kemudian Allah menyuruhnya agar memukulkan seikat kayu (rumput)dengan sekali pukulan demi memenuhi sumpahnya, sehingga tidak melanggar sumpah yang terlanjur diucapkannya.

Seseorang diperbolehkan membebaskan diri dari sumpah yang terlanjur diucapkannya atau membayar kaffarat, apabila membawa kemaslahatan. Sedangkan membayar kafarat lebih utama daripada membebeskan diri (dengan helah).

Perbedaan pendapat para fuqaha pada kisah Nabi Ayyub yang memukul istrinya dengan mengikat seratus kayu (rumput), bukan dengan seratus kali pukulan, karena sumpahnya. Terbagi menjadi dua :

  1. Imam Malik dan Ahmad, berpendapat : Ia belum bebas dari sumpahnya selama belum memukulnya berulang-ulang secara terpisah.

Alasannya :

  1. Bahwa sesungguhnya problem ini adalah khusus menyangkut diri Nabi Ayyub dan istrinya karena Allah berfirman :

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

Artinya : Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. (QS al Maidah 5 : 48)

Juga karena istri Ayyub as tidak melakukan perkara yang mengharuskan ia di hukum (didera) seratus kali, oleh karena itu Allah swt memberikan jalan keluar bagi Ayyub, untuk membebaskan dirinya dari sumpah yang diucapkan.

  1. Bahwa apabila seseorang bersumpah akan memukul, maka tujuannya adalah untuk menyakitkan, padahal menghimpun sejumlah pukulan dengan sekalipukul tidak memenuhi tujuan itu.
  2.  Bahwa sumpah-sumpah itu dasarnya adalah niat, sedang kalau tanpa niat maka dasarnya harus dilihat dari segi lughat dan urf (bahasa dan kebiasaan), padahal dari segi bahasa orang yang memukul dengan sekali pukulan, dengan sebuahcambuk yang bercabang-cabang tidak dapat disebutsebagai memukul berkali-kali menurut jumlah cabangnya, begitu pula sebagai urf.
  3. Abu Hanifah dan Syafi’i, berpendapat : apabila salah satu pukulan telah mengena, maka ia telah bebas dari sumpahnya dan tidak disyaratkan harus terpisah-pisah.

Alasannya :

  1. Keumuman kisah Ayyub as dan syri’at umat terdahulu berlaku juga bagi kita selagi tidak dimansukh, padahal dalam hal ini jelas ada ketentuan yang memperkuatnya serta tidak ada yang menasikhnya.
  2. Mereka juga mejadikan hadits Abi Umamah sebagai dalil. Hadits dimaksud diriwayatkan dari sebagian shahabat anshar, yaitu bahwa salah seorang dari mereka mengadu lalu diulang dipukul pada tulangnya, lalu ada seorang hamba perempuan masuk masuk, maka ia pun bergembira lalu perempuan itu dipukul, kemudian tatkala orang-orang dari kamunya masuk untuk mengunjunginya, maka memberitahukan hal itu pada mereka seraya berkata : “mintalah fatwa kepada Rasulullah tentang masalahku. Maka mereka menyampaikan hal itu kepada Rasulullah saw, lalu Rasulullah saw menyuruh mereka agar mengambil seratus tandan anggur lalu di pukulkannya dengan sekali pukulan. Sedang ayat tersebut menunjukan cara ini, karena jumlahnya telah memenuhi sehingga dapat membebaskan sumpah.
  3. Mereka berkata : al qur’an menetapkan, bahwa Ayyub tidak melanggar sumpah dengan perbuatannya itu sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya. “Maka pukullah (istrimu) dengan seikat rumput itu dan janganlah kamu melanggar sumpah.”

BAB IV

KESIMPULAN

  1. Hilah adalah melakukan suatu amalan yang zahirnya boleh untuk membatalkan hukum syar’i serta memalingkannya kepada hukum yang lainnya.
  2. Menurut Ibnul Qayyim, hilah ada dua macam : pertama, yang diperbolehkan. Kedua, yang tidak diperbolehkan.
  3. Melakukan hilah itu boleh, selagi tidak membatalkan perkara haq atau tidak merusak tatanan syari,at Allah yang lurus.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Fathul bari’ 12/326, Ibnu Hajar Al As qalani. Lihat kitab qawa’idul qasail fisy syari’ah al islamiyah.
  2. Al muwafaqat 4/179, asy syatibi. Lihat kitab qawa’idul qasha’il fisy syariyah al islamiyah.
  3. Ighatsatul lahfan 1/339, Inul Qayyim Az Zauji. Lihat kitab qawaidul qasha’il fisy syar’iyah al islamiyah.
  4. Terjemah tafsir ayat ahkam ash shabuni.
  5. Maktabah syamilah.
  6. Al qur’anul karim dan terjemahan, depag.
  7. http://cahlil.blogspot.com
  8. http://www.almanhaj.or.id
  9. http://mohimronrosyadi.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s