IMAM TIRMIZI

IMAM TIRMIZI

Oleh Ni’matul Huda

Ma’had Aly Zawiyah Jakarta

Biografi Singkat Imam At-Tirmizi

Nama lengkapnya adalah Imam al-Hafidz Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dahhak as-Sulami at-Tirmizi, salah seorang ahli hadits kenamaan dan pengarang berbagai kitab yang masyhur, beliau lahir pada tahun 209 H di kota Timiz[1] (Termez, Tadzikistan).

Perkembangan dan Perjalanannya

Kakek Abu Isa at-Tirmizi berkebangsaan Mirwaz, yang kemudian pindah ke kota Tirmiz dan menetap disana. Di kota inilah cucunya yang bernama Abu Isa dilahirkan. Semenjak kecil Abu Isa sudah gemar mempelajari ilmu dan mencari hadits, untuk keperluan inilah ia mengembara ke berbagai negeri seperti: Hijaz, Irak, Khurasan dan lain-lain.

Dalam perlawatannya itu ia banyak mengunjungi ulama-ulama besar dan guru-guru hadits untuk mendengarkan hadits yang kemudian dicatat dan dihafalkannya dengan baik, beliau tidak pernah menyia-nyikan kesempatan tanpa menggunakan waktunya dengan seorang guru.

Setelah menjalani perjalanan panjang untuk belajar, mencatat, berdiskusi dan bertukar pikiran serta mengarang, beliau pada akhir kehidupannya mendapat musibah kebutaan, dan beberapa tahun lamanya hidup sebagai tuna netra; dalam keadaan seperti inilah Imam Tirmizi dipanggil pulang oleh zat yang maha agung Allah swt. Beliau wafat di Tirmiz pada malam senin 13 rajab tahun 279 H dalam usia 70 tahun.[2]

Guru-gurunya

Imam Tirmizi belajar dan meriwayatkan hadits dari ulama-ulama terkemuka, yang di antaranya adalah: Imam Bukhori, kepadanya beliau mempelajari hadits dan fiqih. Juga kepada Imam Muslim dan Abu Daud. Bahkan Imam Tirmizi juga belajar hadits dari sebagian guru mereka. Guru lainnya adalah, Ziyad bin Yahya, Abbas bin Abdul ‘Adzim, Qutaibah bin Saudi Arabia’id, Ishaq bin Musa, Mahmud bin Gailan, Sa’id bin Abdur rahman, Nasr bin Ali, Muhammad bin Basyar, Ali bin Hajar, Ahmad bin Muni’, Muhammad bin al-Musanna dan lain-lain.

Murid-muridnya

Hadits-hadits dan ilmu-ilmunya dipelajari dan diriwayatkan oleh banyak ulama. Diantaranya; Makhul ibnu Fadhl, Muhammad bin Mahmud ‘Anbar, Hammad bin Syakir. ‘Aidh bin Muhammad an-Nasfiyyun, al-Haisam bin Kulaib asy-syasi, Ahmad bin Yusuf an-Nasafi, Abul Abbas Muhammad bin Mahmud al-Mahbubi dan lain-lain[3].

Pandangan Para Kritikus Hadits Terhadapnya

Para ulama besar telah memuji dan menyanjungnya, dan kemudian mengakui akan kemuliaan dan keilmuannya. Al-Hafidz Abu Hatim ibn Hibban menggolongkan tirmizi ke dalam “tsiqot” atau orang-orang yang dapat dipercayai dan kokoh hafalannya, dan berkata: “Tirmizi adalah salah seorang ulama yang mengumpulkan hadits, menyusun kitab, menghafal hadits dan bermuzakarah (berdiskusi) dengan para ulama”. Abu Ya’la al-Khalili dalam kitabnya “Ulumul Hadits menerangkan: Muhammad bin Isa at-Tirmizi adalah seorang penghafal dan ahli hadits yang baik yang telah diakui oleh para ulama. Ibnu Hibban al-Busti (ahli hadits) mengakui kemampuan at-tirmizi dalam hal mengahafal, menghimpun, menyusun dan meneliti hadits, sehingga ia menjadi sumber pangambilan hadits para ulama terkenal, termasuk Imam Bukhari ketika menyususn haditsnya.

Kekuatan Hafalannya

Abu Isa at-Tirmizi diakui oleh ulama ahli hadits akan kesalehan dan ketaqwaannya, beliau dikenal pula sebagai orang yang dapat dipercaya,sangat teliti, dan kuat hafalannya. Salah satu bukti kekuatan dan kecepatan hafalannya ialah, kisah yang dikemukakan oleh al-hafidz Ibnul Hajar dalam Tahzib at-Tahzib-nya, dari Ahmad bin Abdullah bin Abu Dawud berkata:

“saya mendengar Abu Isa at-Tirmizi berkata: pada suatu waktu dalam perjalanannya menuju Mekkah, dan ketika itu aku telah menulis dua jilid berisi hadits-hadits yang berasal dari seorang guru. Guru tersebut berpapaan dengan kami, lalu saya bertanya-tanya mengenai dia, mereka menjawab bahwa dialah orang yang ku maksudkan itu. Kemudian saya menemuinya. Saya mengira bahwa “dua jilid kitab” itu ada padaku, tapi ternyata yang kubawa bukanlah dua jilid tersebut, melainkan dua jilid yang mirip dengannya. Ketika saya telah bertemu dengan dia, saya memohon kepadanya untuk mendengarkan hadits, dan ia mengabulkan permohonan itu. Kemudian ia membacakan hadits yang dihafalnya. Disela-sela pembacaan itu ia mencuri pandang dan melihat bahwa kertas yang ku pegang masih putih bersih tanpa ada tulisan suatu apapun. Demi melihat kenyataan ini dia berkata: ‘tidakkah engkau malu kepadaku?’ lalu aku bercerita dan menjelaskan kepadanya bahwa apa yang ia bacakan itu telah ku hafal semuanya. Lalu ia berkata: ‘coba bacakan!’ suruhnya. Lalu akupun membacakan seluruhnya secara beruntun. Ia bertanya lagi: ‘apakah telah engkau hafalkan sebelum datang kepadaku?’, ‘tidak’ jawabku. Kemudian saya meminta lagi agar dia meriwayatkan hadits yang lain. Diapun kemudian membacakan empat puluh hadits yang tergolong hadits-hadits yang sulit atau gharib, kemudian ia berkata: ‘coba ulangi apa yang ku bacakan tadi!’, lalu aku membacakannya dari pertama hingga selesai; dan ia berkomentar: ‘aku belum pernah melihat orang seperti engkau.[4]

Fiqih Tirmizi dan Ijtihadnya

Imam Tirmizi, disamping dikenal sebagai ahli dan penghafal hadits yang mengetahui kelemahan-kelemahan dan perawi-perawinya, ia juga dikenal sebgai ahli fiqih yang mewakili wawasan dan pandangan luas.

Barang siapa mempelajari kitab jami’nya ia akan mendapatkan ketinggian ilmu dan kedalaman penguasaannya terhadap berbagai mazhab fiqih. Kajian-kajiannya mengenai persoalan fiqih mencerminkan dirinya sebgaai ulama yang sangat berpengalaman dan mengerti betul duduk permasalahan yang sebenarnya.

Salah satu contoh ialah penjelasannya terhadap sebuah hadits mengenai penangguhan membayar piutang yang dilakukan si berhutang yang sudah mampu, sebagai berikut: Muhammad bin Basyisyar bin Mahdi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abi az-Zunad, dari al-A’rai, dari Abu Hurairah, dari Nabi saw bersabda: “penagguhan membayar utang yang dilakukan oleh si berhutang yang mampu adalah suatu kezaliman. Apabila sesorang diantara kamu dipindahkan utangnya kepada orang lain yang mampu membayar, hendaklah pemindahan hutang itu diterimanya”. Imam Tirmizi memberikan penjelasan sebagai berikut: sebagian ahli ilmu berkata: “apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang mampu membayar dan ia menerima pemindahan itu, maka bebaslah orang yang memindahkan (muhil) itu, dan bagi orang yang dipindahkan piutangnya (muhtal) tidak dibolehkan menuntut kepada muhil.

Diktum ini adalah pendapat syafi’i, Ahmad dan Ishaq. Sebagian ahli ilmu yang lain berkata: “apabila harta seseorang (muhtal) menjadi rugi disebabkan kapailitan muhal ‘alaih, maka baginya dibolehkan menuntut bayar kepada orang pertama (muhil).”  Mereka memakai alasan dengan perkataan Usmah dan lainnya, yang menegaskan: tidak ada kerugian atas harta benda seorang muslim. Menurut Ishaq maka perkataan tidak ada kerugian atas harta benda seorang muslim ini adalah “apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang lain yag dikiranya mampu, namun ternyata orang lain itu tidak mampu, maka tidak ada kerugian atas harta benda orang mulim (yang dipindahkan utangnya) itu.”

Itulah salah satu contoh yang menunjukkan kepada kita, bahwa betapa cemerlangnya pemikiran fiqih Tirmizi dalam memahami Nash-nash Hadits, serta betapa luas dan orisinal pandangannya itu.

Karya-karyanya

Imam Tirmizi banyak menulis kitab-kitab. Diantaranya:

  1. Kitab al-Jami, terkenal dengan sebutan Sunan at-Tirmizi
  2. Kitab al-‘Ilal
  3. Kitab at-Tarikh
  4. Kitab as-Syama-il an- Nabawiyyah
  5. Kitab az-Zuhd
  6. Kitan al-Asma wal Kuna

Diantara kitab-kitab tersebut yang paling besar dan terkenal serta beredar luas adalah al-Jami.

Sekilas Tentang al-Jami’

Kitab ini adalah salah satu kitab karya Imam Tirmizi terbesar dan paling banyak menfaatnya. Ia tergolong salah satu “Kutubus Sittah” (enam kitab pokok bidang hadits) dan ensiklopedia hadits terkenal. Al-Jami’ ini terkenal dengan nama Jami’ Tirmizi, dinisbatkan kepada penulisnya, yang juga terkenal dengan nama Sunan Tirmizi.

Sebagian ulama tidak berkeberatan menyandangkan gelar as-Shahih kepadanya sehingga mereka menamakannya dengan Shahih Tirmizi. Sebenarnya pemberian nama ini tidak tepat dan terlalu gegabah.

Setelah selesai menyusun kitab ini, Tirmizi memperlihatkan kitabnya kepada para ulama dan mereka senang dan menerimanya dengan baik, ia menerangkan: “setelah selesai menyusun kitab ini, aku perlihatkan kitab tersebut kepada ulama-ulama Hijaz, Irak dan Khurasan, dan mereka semuanya meridhoinya, seolah-olah dirumah tersebut ada nabi yang selalu berbicara.”

Imam Tirmizi di dalam al-Jami’nya tidak hanya meriwayatkan hadits shahih semata tetapi juga meriwayatkan hadits-hadits hasan, dho’if, gharib dan mu’allal dengan menerangkan kelemahannya.

Ia tidak meriwayatkan dalam kitabnya iru, kecuali hadits-hadits yang diamalkan atau dijadikan pegangan oleh ahli fiqih. Metode demikian ini merupakan cara atau syarat yang longgar. Oleh karenanya, ia meriwayatkan semua hadits yang memiliki nilai demikian, baik jalan periwayatannya itu shahih ataupun tidak. Hanya saja ia selalu memberikan penjelasan yang sesuai dengan keadaan setiap hadits.

Hadits-hadits dho’if dan munkar yang terdapat dalam kitab ini, pada umumnya hanya menyangkut fadhail al-a’mal (anjuran melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan). Hal itu dapat dimengerti kareana persyaratan-persyaratan bagi (meriwayatkan dan mengamalkan) hadits semacam ini lebih longgar dibandingkan dengan persyaratan bagi hadits-hadits tentang halal dan haram.

Keistemewaa Kitab Sunan Tirmizi

Imam Tirmizi memiliki kitab Sunan dan Jarh wat-ta’dil. Hadits-haditsnya diriwayatkan oleh Abu Mahbub dan banyak ulama lain. Ia dikenal sebagai orang yang dapat dipercaya, seorang ulama dan imam yang menjadi ikutan dan berilmu luas. Kitabnya Jami’us Shahih menjadi bukti keagungan derajatnya, keluasan hafalannya, dan pengetahuannya tentang hadits yang sangat mendalam.

Kesungguhannya dalam penggalian hadits terlihat dari sumber (syaikh) yang digunakan oleh Tirmizi. Disamping banyak yang sama dengan karya-karya lima Imam lainnya dari al-Kutub as-Sittah (kitab hadits yang enam; Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan Nasa’I, Sunan Ibn Majah), at-Tirmizi juga banyak menggali dari sumber yang lebih tua.

Dalam bidang hadits Tirmizi adalah murid dari Bukhari. Pendapat Bukhari tentang nilai hadits sering ditampilkan dalam karyanya, Sunan at-Tirmizi atau Jami’ at-Tirmizi.

Kitab Sunan at-Tirmizi menjadi sangat penting bagi studi hadits karena dalam kitab tersebut ia betul-betul memperhatikan ta’lil (penentuan nilai) hadits dengan menyebutkan secara eksplisit hadits yang shahih. Kitab hadits ini menduduki peringkat empat diantara al-Kutub as-Sittah (enam kitab pokok bidang hadits). Menurut pengarang Kasyf az-Zunun (menyingkap keraguan), Hajji Khalfah (w. 1657), kedudukan Sunan at-Tirmizi berada pada peringkat ketiga dalam hirarki al-Kutub as-Sittah. Bahkan Abu Ismail al-Anshari, ahli hadits, memandang kitab at-Tirmizi lebih bermanfaat dari pada kitab Bukhari dan Muslim dari segi penggunaannya. Kitab Bukhari dan Muslim hanya dapat dipahami oleh seseorang yanh ahli, tetapi Sunan a-Tirmizi dapat dipahami oleh siapapun.

Imam at-Tirmizi mempunyai pedoman pokok dalam menyaring hadits untuk bahan kitabnya, yaitu: apakah hadits itu dipakai oleh fuqoha (ahli fikih) sebagai hujjah atau tidak. Dengan demikian dalam kitabnya ini terhimpun hadits-hadits yang ma’mul (praktis). at-Tirmizi tidak menyaring hadits dari segi shahih atau dho’if. karena itulah, ia selalu memberikan uraian tentang nilai hadits, bahkan uraian perbandingan dan kesimpulannya.

Salah satu keistimewaan Sunan at-Tirmizi adalah pencantuman riwayat dari sahabat lain mengenai masalah yang dibahas dalam hadits pokok (hadits al-Bab), baik isinya yang semakna maupun yang berbeda, bahkan yang bertentangan sama sekali secara langsung maupun tidak langsung. Disamping itu, Imam at-Tirmizi didalam kitabnya banyak mencatat perbedaan pendapat dikalangan fuqoha tentang istinbath hadits pokok dan menyebutkan beberapa hadits yang berbeda dalam hal itu serta memberikan penilaiaannya. Inilah yang dipandang sebagai keistimewaan tertinggi Sunan at-Tirmizi karena dalam hal ini terjangkau tujuan pokok ilmu hadits, yaitu; memilih hadits yang shahih unuk kepentingan berhujjah dan beramal. Keistimewaan lain Sunan at-Tirmizi yang langsung berhubungan dengan ‘ulumul Hadits adalah Ta’lil al-Hadits. Hadits-hadits yang dimuat disebutkan nilainya dengan jelas, bahkan nilai rawi-nya yang dianggap penting. Kitab Sunan at-Tirmizi dinilai positif kareana dapat digunakan untuk penerapan praktis kaidah-kaidah ilmu hadits khususnya ta’lil al-Hadits.

Diantara keistimewaan yang tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits lainnya, adalah Imam Tirmizi menggunakan istilah khusus yang selama ini menjadi perbincangan para ulama hadits. Yang paling popular adalah istilah Hasan Shohih yang mengundang kontroversi dikalangan ulama. Istilah ini sebenarnya bukan monopoli Imam Tirmizi, tetapi digunakan juga oleh Ali al-Madini Ya’qub bin Syaibah, dan Abu Ali at-Tusi karena paling banyak menggunakannya, at-Tirmizilah yang dikenal dengan istilah itu.

Wafat Imam Tirmizi

            Terdapat perbedaaan mengenai tahun kematian Imam Tirmizi,pendapat pertama  mengatakan bahwa; Imam Tirmizi wafat di kota Bugh diatas tahun 270, ini perkataan dari Sam’ani, sedangkan pendapat kedua mengatakan bahwa Imam Tirmizi wafat pada tahun 275. Pendapat yang kedua ini yang diikuti oleh Ibn Kholkan. Syaikh ‘Abid as-Sindy menyebutkan bahwa Imam Tirmizi lahir pada tahun 209, dan hidup selama 68 tahun, dan wafat pada tahun 277. Dan pendapat yang ketiga inilah yang dianggap keliru.

Dan sebagaimana yang telah di nuqil oleh al-Hafidz al-Muzi, dari al-Hafidz Abul Abbas Ja’far bin Muhammad bin Mu’taz. “Abu Musa at-Tirmizi wafat di kota Tirmiz, pada malam senin, hari ke-13 pada bulan rajab (tanggal 13 rajab) tahun 279. Dan pendapat inilah yang disepakati oleh para ulama[5].

DAFTAR PUSTAKA

Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah, Jami’ Shohih Sunan Tirmizi, Beirut-Libanon: Darul Fikr,  Jilid-I. Tanpa Tahun.

Ranuwijaya,  Utang, Drs ,MA. Ilmu Hadits, Jakarta; Gaya Media Pratama, Cet-1, 1996. Zuhdi  Masjfuk, Pengantar Ilmu Hadits, Surabaya: PT Bina Ilmu, Cet-IV, 1993.

 

 [1] Drs Utang Ranuwijaya, MA. Ilmu Hadits, Jakarta; Gaya Media Pratama, Cet-1, 1996, h. 213.

[2] Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ilmu Hadits, Surabaya: PT Bina Ilmu, Cet-IV, 1993, H. 153.

[3] Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah, Jami’ Shohih Sunan Tirmizi, Beirut-Libanon: Darul Fikr,  Jilid-I, h. 81-82.

[4] Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah, Jami’ Shohih Sunan Tirmizi, Beirut-Libanon: Darul Fikr,  Jilid-I, h. 84

[5] Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah, Jami’ Shohih Sunan Tirmizi, Beirut-Libanon: Darul Fikr,  Jilid-I, h. 91.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s