MAKANAN YANG HALAL DAN YANG HARAM

MAKANAN YANG HALAL DAN YANG HARAM

Oleh: Ust. H. ZAinal Fanani

Ma’had Aly Zawiyah Jakarta

 

A.  PENDAHULUAN

Allah yang Maha Agung lagi Maha Tinggi memperkenankan kepada hamba-Nya menikmati segala rizki yang baik-baik dan yang mengharamkan yang buruk-buruk serta melarang mereka menyiksa diri sendiri atau menjauhi segala kenikmatan dan kelezatan duniawi. Islam menjadikan kita kaum Muslimin, sebagai insan-insan yang utuh secara fisik dan mental dengan diturunkannya syari’at yang sederhana dalam segala aturannya.

 

B.  PEMBAHASAN

Pada dasarnya setiap benda di permukaan bumi ini menurut hukum aslinya adalah halal, kecuali kalau ada larangan dari syara’ atau karena mudaratnya. Yang menjadi pokok haramnya makanan adal lima :[1]

 

  1. 1.      Nash dari Al-Qur’an

Nash dari Al-Qur’an seperti firman Allah SWT :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَارَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا للهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ {١٧٢} إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَآأُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللهَ غَفُورُُ رَّحِيمٌ{١٧٣}

 

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari irzki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya saja kamu berbakti; Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang disembelih (dengan menyebut) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S Baqarah 172-173)

 

Tafsiran yang dimaksud “rizki yang baik-baik” (At-Thayyibat) yaitu “rizki yang halal”, maka setiap yang dihalalkan Allah adalah rizki yang baik dan setiap yang diharamkan Allah adalah rizki yang buruk. Umar bin Abdul Azis berkata : Yang dimaksud ayat ini yaitu “usaha yang halal, bukan makanan yang halal”.

Abu Hayyan berkata : Setelah Allah Ta’ala memperkenankan hamba-Nya makan apa saja yang berada di permukaan bumi yang halal lagi baik, sedang yang halal itu cukup banyak, maka Ia menerangkan kepada mereka apa-apa yang diharamkan karena sedikitnya. Kemudian setelah ia menerangkan apa-apa yang diharamkan, tinggallah sisanya yang seluruhnya halal.

Tentang firman Allah (dan bersyukurlah kepada Allah). Disini ada perpindahan dari kata ganti orang pertama jama’ ke isim dhahir, karena kalau mengikuti konteks sebelumnya maka seharusnya dikatakan وَاشْكُرُوْنَا sedangkan kegunaan perpindahan ini ialah untuk menumbuhkan rasa gentar dan takut dalam hati (orang-orang mukmin).

Firman Allah “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu, bangkai, darah, daging babi, …” itu membuang mudhaf, yakni makan bangkai, makan darah dan makan daging babi, sebagaimana firman Allah

وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ

(dan tanyakanlah kepada desa), yakni penduduk desa.

Abu Su’ud berkata: Dan disebutnya secara khusus “daging babi” padahal seluruh anggota badannya diharamkan, adalah karena daging merupakan bagian yang paling utama yang dimakan, sedang bagian-bagian badan yang lain ikut terbawa.

‘Atha berpendapat boleh memanfaatkan gajihnya dan kulitnya. Gajihnya untuk meminyaki perahu dan kulitnya disamak, dengan alasan, bahwa yang diharamkan dalam ayat tersebut hanya memakannya saja, sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah yang lain “sesuatu yang diharamkan bagi yang hendak memakannya” (QS. Al-An’am : 145).

a. Tentang bangkai dalam ayat tersebut, apakah yang diharamkan itu memakannya atau memanfaatkannya ?

Dalam ayat tersebut, predikat “haram” itu disandarkan kepada dzatiyah bangkai dan darah, sedang Ulama Fiqih berbeda pendapat, apakah yang diharamkan itu memakannyaa saja atau pelbagai segi pemanfaatannya, karena setelah diharamkan memakannya, lalu diharamkan juga memanfaatkan apa saja yang merupakan bagian dari bangkai itu, selain yang dikecualikan oleh suatu dalil. Sebagian Ulama berpendapat, bahwa yang diharamkan itu hanya memakannya saja dengan dalil firman Allah “Makanlah dari sebaik-baik rizki yang kami berikan kepadamu (QS. Al-baqarah ayat 172) dan ayat yang berikutnya “Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya …” (QS. Al-baqarah ayat 172).

Al-Jashash berkata : Keharaman di sini meliputi pelbagai segi pemanfaatannya, sehingga tidak boleh memanfaatkan bangkai untuk memberi makan anjing dan binatang-binatang buas lainnya, karena itu juga termasuk memanfaatkannya, padahal Allah mengharamkan bangkai secara mutlak yang disandarkan kepada dztiyah bangkai itu sendiri, maka tidak boleh sama sekali memanfaatkan apa saja yang berasal dari bangkai itu kecuali kalau dikecualikan oleh suatu dalil tersendiri maka kita wajib taslim (menyerah).

Menurut jumhur, haram memanfaatkannya dan mereka berdalil dengan firman Allah “Diharamkan bagimu bangkai” (QS. 5 : 3) yakni memanfaatkannya, baik dimakan atau lainnya, dan sabda Nabi Saw yang berbunyi :

Artinya : Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi, yang diharamkan bagi mereka gajih, tetapi mereka memasaknya lalu menjualnya dan memakan harganya.

Hadits ini menunjukkan bahwa sesungguhnya Allah apabila telah mengharamkan sesuatu maka ia mengharamkan pula harganya, maka tidak boleh menjual dan memanfaatkan bangkai – apanya saja- kecuali kalau ada nash yang mengecualikannya.

 

b. Bangkai Belalang dan Ikan

Bangkai” hukumnya “haram” berdasarkan nash yang qathi’, tetapi ada beberapa hadits yang mentakhsishnya. Antara lain :

Sabda Nabi Saw :

أُحِلَّ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ : اَلسَّمَكُ وَالْجَرَاد وَالْكَبِدُ وَالْطِّحَالُ

Artinya : Dihalalkan bagi kami dua bangkai dan dua macam darah, yaitu bangkai ikan dan belalang, hati dan limpa. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Daraquthni.)

Dan sabda Nabi SAW tentang laut sbb:

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الحِلُّ مَيْتَتَهُ

Artinya : “(Laut) itu suci airnya dan halal bangkainya. (HR. Imam Malik dalam Muwatha’)

Sedang golongan Hanafiyah mengharamkan bangkai ikan yang mengapung dan menghalalkan bangkai ikan yang mengapung dan menghalalkan ikan yang mati di laut karena berdasarkan hadits yang berbunyi :

مَاأَلْقَى الْبَحرَ أَوْجَزَرَعَنْهُ فَكُلُوْهُ وَمَامَاتَ فِيْهِ وَطَفَا فَلاَتَأْكُلُوْهُ

Artinya : “Apa yang dilemparkan oleh laut atau mati di dalamnya maka makanlah, sedang apa yangmati di dalam laut dan mengapung maka janganlah kamu makannya.[2]

Sedang golongan Malikiyah menghalalkan bangkai ikan saja dan tidak menghalalkan bangkai belalang sebab dianggap sebagai bangkai, karena menurut mereka, tidak ada dasar yang sah tentang itu.

 

c. Hukum darah yang masih tertinggal dalam urat-urat dan daging

 Ulama sepakat bahwa darah itu haram lagi najis tidak boleh dimakan dan tidak boleh dimanfaatkan, dan Allah SWT menyebut darah dalam ayat tersebut secara mutlak yang dikuatkan lagi dalam firman-Nya “ atau darah yang mengalir” (QS. Al-An’am : 145). Ulama membawa ayat yang mutlak kepada yang muqayyad sehingga mereka tidak menganggap haram melainkan darah yang mengalir. Ada hadits dari Aisyah r.a bahwa ia berkata:

لَوْ لاَاَنَّ اللهَ قَالَ “أَوْدَمًا مَسْفُوْحًا” لِتَتَبَّعَ النَّاسُ مَا فىِ الْعُرُوْقِ

Artinya : Kalau seandainya Allah berfirman atau darah yang mengalir, tentu manusia membawa-bawa darah yang ada dalam urat-urat.

 

Maka apa yang telah bercampur dengan daging tidak diharamkan menurut Ijma Ulama demikian juga hati dan limpa meskipun termasuk jenisnya darah.

Al-Qurthubiu berkata : Darah adalah haram selagi tidak bercampur dengan daging dan urat-urat. Aisyah pernah berkata:

Artinya : “Kami pernah memasak (daging) dalam kuali, di masa Nabi saw, yang kuali itu medidih kekuning-kuningan dari warna darahm kemudian kami memakannya dan kami tidak mengingkarinya.[3]

 

d. Yang diharamkan pada Babi

Menurut nash ayat, yang diharamkan yaitu dagingnya, maka sebagian golongan Zhahiriyah berpendapat bahwa yang diharamkan itu hnya dagingnya saja, tidak termasuk gajihnya Karena Allah berfirman :”dan daging babi” . sedang jumhur berpendapat bahwa gajihnya juga haram karena daging itu meliputi gajih dan itulah pendapat yang benar. Adapaun Allah menyebut “daging”secara khusus itu untuk menunjukkan bahwa yang diharamkan itu dzatiyah babi itu sendiri baik disembelih secara syar’i  atau tidak.

Ulama Fiqih juga berbeda pendapat tentang kemanfaatan bulu babi. Abu Hanifah dan Malik berpendapat boleh, As-Syafi’i tidak memperkenankan, sedang Abu Yusuf menganggap makruh.

Al-Qurthubi berkata : Tidak diperselisihkan lagi bahwa seluruh anggota badan babi adalah haram kecuali bulunya yang boleh dimanfaatkan oleh tukang jahit kulitm sebab cara seperti itu tidakberlangsung sejak zaman Nabi dan sesudahnya, sedang kami tidak mengetahui Nabi mengingkarinya, demikian juga Ulama sesudahnya.

Ulama masih berselisih tentang babi laut. Abu Hanifah berpendapat tidak boleh dimakan karena keumuman ayat. Sedang Imam Malik, As-Syafi’i  dan Al-Auza’i berpendapat tidak mengapa memakan apa saja yang ada di laut. Tentang perincian dalil-dalil mereka dapat dilihat dalam kitab-kitab furu’

 

e. Sejauh mana orang yang dalam keadaan terpaksa yang boleh makan bangkai “

Ulama masih berselisih tentang orang yang dalam keadaan terpaksa, apakah ia boleh makan bangkai sampai kenyang atau sekedar menghilangkan rasa lapar saja?

Imam Malik berpendapat boleh makan sampai kenyang sebab keadaan terpaksa itu telah menghilangkan keharaman sehingga kembalilah hukum bangkai itu menjadi halal. Sedang jumhur berpendapat tidak boleh karena diperbolehkannya itu dalam keadaan terpaksa maka harus diukur menurut keperluannya saja. Sebab timbulnya pendapat ini ialah firman Allah “sedang ia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas (QS. Al-Baqarah : 173). Disini Jumhur menafsirkan “ghaira aidin” sebagai “tidak menginginkan makan bangkai tanpa didesak oleh keadaan “ dan wa la ‘aidin” sebagai “tidak melampaui batas keadaan darurat. Dan Imam Malik menafsirkan sebagai “tidak durhaka dan memusuhi Imam”. Demikianlah masing-masing dengan alasan-alasannya,

 

f. Hukum janin yang induknya telah disembelih

Ulama berbeda pendapat tentang janin yang telah mati, sedang induknya telah disembelih, apakah boleh dimakan atau tidak. Abu Hanifah berpendapat tidak boleh dimakan, kecuali kalau keluar dalam keadaan hidup kemudian disembelih tersendiri, karena janin yang sudah mati dalam perut adalah bangkai, padahal Allah berfirman “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai …(QS. An-Nahl : 115).

Sedang Imam Syafi’i , Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat boleh dimakan, karena janin itu dihukumi telah disembelih dengan disembelih induknya itu. Mereka berdalil dengan sebuah hadits yang berbunyi :

ذَكضاةُ الْجَنِيْنِ ذَكَاةُ أُمِّهِ

Artinya : “Sembelihan janin itu (cukup dengan) penyembelihan induknya.(HR. Abu Daud )

Imam Malik berkata : Kalau janin itu telah sempurna kejadianya dan telah tumbuh bulu-bulunya maka boleh dimakan, tetapi kalau tidak demikian maka tidak boleh.

Al-Qurtubhi berkata Sesungguhnya janin itu apabila keluar dalam keadaan sudah mati setelah induknya disembelih, maka boleh dimakan, karena ia berkedudukan sebagai salah satu anggota badan induknya.

Ulama yang mendukung pendapat Abu Hanifah berkata : Hadits itu bisa dibawa kepada arti lain, yaitu bahwa sembelihan janin itu adalah seperti sembelihan induknya.

 

g. Disembelih selain menyebut nama Allah.

Adapun apa yang disembelih tidak karena Allah, adalah haram bukan karena penyakit, tetapi lantaran karena adanya unsure kebaktian kepada selain Allah, jadi diharamkannya karena factor spiritual demi memelihara keselamatan nurani dan kebersihan jiwa serta keikhlasan hati.[4]

 

  • Yang Haram dengan nas berdasarkan Hadis Riwayat Bukhari Muslim.

Sabda Rasulullah Saw :

عَنْ جَابِرٍ نَهَى النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ خَيْبَرَ عَنْ لُحُوْمِ الْحُمُرِ اْلاَهْلِيَّةِ رواه البخارى و مسلم

Artinya: Dari Jabir, Nabi Saw pada perang Khaibar telah melarang memakan daging himar jinak (HR. Bukhari Muslim)

 

Dihadis yang lain menjelaskan :

Artinya : Nabi SAW telah melarang memakan setiap burung yang mempunyai kuku tajam (HR. Muslim)

 

  1. 2.      Haram karena disuruh membunuhnya

Haram karena kita disuruh membunuhnya yaitu :  (1) ular, (2) gagak, (3) tikus, (4) anjing galak, (5) burung elang.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسُ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فىِ الْحِلِّ وَالْحَرَامِن اَلْحَيَّةُ وَالْغُرَابُ اْلاَبْقَعَ وَالْفَأْرَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُوْرُ وَالْجِدَاَةُ. رواه مسلم

Dari Aisyah, Rasulullah Saw, telah bersabda, Lima macam binatang yang jahat hendaklah dibunuh, baik di Tanah Halal ataupun di Tanah Haram, yaitu Ular, Burung Gagak, tikus, anjing galak, dan burung Elang,” (Riwayat Muslim)

 

  1. 3.      Haram karena dilarang membunuhnya

Haram karena dilarang membunuhnya (1) semut, (2) lebah, (3) burung hud-hud dan (4) burung suradi

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ نَهَى النَّبِىُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَتْلِ اَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابِ النَّمْلَةِ, وَالنَّحْلَةِ, وَالْهُدْ هُدِ, وَالصُّرْدِ (رواه أحمد وغيره)

Artinya : Dari Ibnu Abbas, “Nabi Saw telah melarang membunuh empat macam binatang, (1) semut, (2) lebah, (3) burung hud-hud dan (4) burung suradi (Riwayat Ahmad dan lainnya)

 

  1. 4.      Haram karena keji (kotor)

Haram karena kotor (keji) termasuk kutu, ulat, kepindingm kutu anjing dan sebagainya.

وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَئِثَ الاعرف ١٥٧

Artinya : Dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk (Al-A’raf : 157)

  1. 5.      Haram Karena memberi mudarat

Diharamkan memakan sesuatu yang bukan binatang apabila memberi mudharat pada badan dan akal, seperti racun, candu, arak, batu, kaca dan lain-lainnya.

 

C.  PENUTUP

Demikianlah uraian singkat tentang makanan yang halal dan yang haram, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan keilmuan kita.


[1] Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam, Bandung : PT. Sinar Baru Algensindo, 1994,Cet 27,h. 466

[2] Abu Bakar ar-Razi, Tafsir Ahkamul Qur’an, 1: 125

[3]Tafsir Al-Qurthubi, 2: 204

[4] Tafsir Fi Dhilalil Qur’an, Sayid Quthub, 2: 55)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s